Indonesia kehilangan figur yang bisa memulihkan keseimbangan sebagai nahkoda kapal agar kapal Indonesia kembali stabil dan memiliki masa depan, yang terjadi negara terus meluncurkan ke tepi jurang kehancurannya.
Oleh: Sutoyo Abadi
KEMPALAN: “The Fact Speaks Louder Than Words”. Artinya, Fakta bicara lebih keras daripada kata-kata.
Bahwa fenomena yang lebih mengerikan dari pada krisis konstitusi berdampak pada krisis legitimasi kekuasaan yang ditandai dengan rusaknya semua jaringan aturan dan hukum yang menjadi dasar tatanan hidup keindonesiaan.
Sulit dibantah dan tidak seorang pun dapat mengatakan bahwa mereka tidak diperingatkan (semua lengah) tentang kehancuran yang ditimbulkan karena salah mengelola dan mengendalikan negara.
Xi Jinping dua kali bertemu Prabowo Subianto dan menyebut Prabowo sebagai Elected President Joko Widodo, saat kunjungan pertama ke China, 31 Maret – 2 April 2024 dan kunjungan ke kedua 8 – 10 November 2024.
Beruntun Presiden Prabowo terjebak dalam penandatanganan Piagam Board of Peace (BoP) yang berlangsung pada: Hari/Tanggal: Kamis, 22 Januari 2026. Lokasi: Davos, SwissMomentum: Di sela-sela kegiatan World Economic Forum (WEF) 2026.
Jebakan maut berikutnya adalah Presiden Prabowo menandatangani Perjanjian Perdagangan Timbal Balik (Agreement on Reciprocal Trade atau ART) yang tidak masuk akal dengan Presiden Donald Trump pada 19 Februari 2026 di Washington, DC.
Sempurnalah Indonesia akan tercatat dalam sejarah, mengaku negara besar terjepit oleh kapitalis China dan Amerika Serikat akibat politik ganda Presiden Prabowo. Bersamaan ketika Indonesia masih dalam kekuasaan sergapan kaum oligarki kapitalis hitam.
Harga diri, kehormatan, dan kekuatan moral Indonesian di lumpuhkan bukan dengan senjata perang, tetapi oleh imperium penjajah gaya baru (China, Amerika dan Israel ) meluluh lantakkan, negara menjadi impunitas yang sangat menjijikkan dengan negara sebagai budak negara lain.
Rakyat merasakan dan melihat dengan jelas, yang terpaksa mulai melakukan perlawanan terbuka terhadap pemerintah. Apalagi diperburuk dengan anggota kabinetnya sangat di bawah standar bersenyawa dengan anggota dewan (wakil rakyat) hanyalah seperti boneka dan wakil oligarki.
Harapan besar pada Presiden Prabowo Subianto mulai lenyap, takyat terlihat sinis setiap mendengar pidato (omon-omon), pertahanan terakhir hanya melakukan pembenaran dan membela diri.
Perlawanan dan konflik rakyat dengan rezim mulai membentuk warna dan cirinya sendiri berbasis tidak ada lagi harapan masa depan. Prahara besar akan datang dan muncul semua dari kelemahan Prabowo sendiri.
Awal sumber malapetaka memang ketika masalah di hulu yaitu UUD 1945 diganti dengan UUD 2002, negara pelan tapi pasti menjadi limbung (sekarat) karena negara kehilangan kompas dan rambu-rambu pengamanannya negara menjadi liar dan binal.
Indonesia kehilangan figur yang bisa memulihkan keseimbangan sebagai nahkoda kapal agar kapal Indonesia kembali stabil dan memiliki masa depan, yang terjadi negara terus meluncurkan ke tepi jurang kehancurannya.
Indonesia kini dikendalikan oleh imperium penjajah gaya baru kombinasi China, Amerika dan Israel, Indonesia kembali menjadi budak negara lain.
Memang tragis tetapi fakta berbicara lebih keras daripada kata-kata (The fact speaks louder than words).
*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi