Sejak saya bantah itu tidak mungkin terjadi (sekalipun pernyataan tersebut saya simpan dalam dokumen yang aman dengan perasaan was-was). Saat ini benar- benar terjadi dan tepat pada waktunya, menjelang Hari Raya.
Oleh: Sutoyo Abadi
KEMPALAN: Ilmu cocoklogi adalah cara mengaitkan dua atau lebih peristiwa, fakta, atau informasi yang sebenarnya tidak berhubungan menjadi seolah-olah memiliki keterkaitan logis guna mendukung opini pribadi.
Mengotak-atik fakta agar sesuai dengan pesanan tanpa dasar ilmiah yang jelas. Seringkali didorong oleh keinginan mencari keuntungan instan (seperti dalam togel) atau keinginan mencari keuntungan dengan cepat, berulang – terjadi di Indonesia.
Menggiring opini publik, menciptakan informasi, bahkan tidak peduli hal tersebut merugikan dalam konteks politik atau sejarah. Ingatlah angka kemenangan Pilpres 1924 sudah muncul sebelum Pilpres dilaksanakan.
Secara sederhana, cocoklogi adalah “memaksakan” keterhubungan demi untuk memenuhi pesanan. Ia sadar hal tersebut akan menyesatkan bahkan berdampak stigma sebagai penghianat berlindung dengan dalih ilmiah.
Rismon Hasiholan Sianipar (RHS) setelah berhasil bersekutu dengan Gibran di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (13/3/2026), langsung menantang Roy Suryo, dr Tifa berdiskusi, setelah statement terakhir bahwa ijazah sarjana Joko Widodo dari Universitas Gajahmada (UGM) itu asli.
Bukan sekedar metode Cocok lagi, jauh beberapa bulan, sejak RHS mulai beraksi dengan heroik menyatakan ijazah Jokowi palsu, seorang tokoh yang berpangkat Bintang Tiga (tidak berkenan disebut namanya) asli berkecimpung di alam Badan Intelijen Negara (BIN), beliau bukan sekedar pengamat, memprediksi, bahwa Tiba Waktunya RHS, akan berbelok arah.
Sejak awalnya saya tidak percaya informasi tersebut, mengatakan Rismon itu ada pawangnya. Setelah dianggap cukup, maka dipanggil pulang. Lapor: tugas selesai, setelah semua informasi sudah didapat lengkap.
Lebih lanjut dikatakan bahwa Dunia intelijen berbicara ke sana. Sedang intelijen itu boleh salah tapi gak boleh bohong.
Sejak saya bantah itu tidak mungkin terjadi (sekalipun pernyataan tersebut saya simpan dalam dokumen yang aman dengan perasaan was-was). Saat ini benar- benar terjadi dan tepat pada waktunya, menjelang Hari Raya.
Kembali teringat tahun 1965 menjelang meletusnya G30S PKI ternak PKI bisa menyusup sangat dalam, menghunjam, rapi dan senyap. Apakah ini analog dengan kejadian Rismon (wallahu a’lam) hak masyarakat luas menilainya.
Rekomendasi yang mungkin layak disampaikan, akan cuap-cuap Rismon tentang dugaan ijazah palsu Jokowi akan membela diri lagi dengan bergaya ilmiah dengan metode dari langit, sebaiknya jangan direspon.
*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi