Kamis, 2 Juli 2026, pukul : 14:23 WIB
Surabaya
--°C

Ngaji dari KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, dan Imam Khomeini

Sejarah mengajarkan satu pelajaran penting. Perubahan besar tidak lahir dari emosi, tetapi dari produksi peradaban. Para tokoh besar yang kita pelajari tadi tidak menghabiskan hidupnya untuk berdebat.

Oleh: Gus Hafidh SKP Muchtar

KEMPALAN: Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang istimewa. Masjid ramai. Majelis dzikir hidup. Ceramah bertebaran di berbagai tempat, bahkan membanjiri media sosial.

Namun di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: Apakah dakwah benar-benar sedang membangun peradaban, atau sekadar memproduksi emosi religius sesaat?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika dunia sedang berada dalam situasi yang sangat genting.

Hari ini kita menyaksikan ketegangan geopolitik yang semakin tajam. Serangan antara Amerika dan Israel terhadap Iran menimbulkan ketegangan global yang berpotensi meluas.

Pada saat yang sama, penderitaan kemanusiaan di Gaza masih berlangsung, meninggalkan luka mendalam bagi nurani dunia.

Peristiwa-peristiwa ini bukan hanya konflik regional. Dampaknya merambat ke seluruh umat manusia – ekonomi global, keamanan internasional, hingga masa depan peradaban dunia.

Namun ironisnya, di tengah situasi sebesar ini, sebagian umat justru terjebak pada dua sikap yang sama-sama tidak produktif.

Sebagian larut dalam perdebatan tanpa akhir di media sosial. Emosi mudah terbakar. Waktu habis untuk menjadi komentator konflik.

Sebagian yang lain justru menarik diri sepenuhnya dari realitas dunia dengan alasan cukup memperbanyak ibadah personal.

Kedua sikap ini sebenarnya menunjukkan satu masalah yang sama: kita belum    sepenuhnya memahami dakwah sebagai design peradaban.

Dakwah Bukan Sekadar Ceramah

Di banyak tempat hari ini, dakwah sering dipersempit menjadi kemampuan berbicara di atas mimbar.

Ukuran keberhasilan sering kali berubah menjadi: jumlah pengikut, viralitas di media sosial, popularitas penceramah, banyaknya undangan tabligh akbar.

Semakin ramai penggemarnya, semakin dianggap berhasil. Padahal jika kita melihat sejarah Islam, para pembaharu besar tidak pernah berhenti pada ceramah.

Mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih mendasar: mendesain sistem kehidupan umat.

Ngaji dari KH Ahmad Dahlan

KH. Ahmad Dahlan tidak hanya berdakwah melalui khutbah. Beliau membaca kondisi umat pada zamannya yang mengalami keterbelakangan pendidikan dan kemiskinan sosial. Respon beliau bukan sekadar ceramah.

Beliau membangun sistem kehidupan umat melalui pendidikan, kesehatan, dan gerakan sosial.

Melalui Muhammadiyah, beliau melahirkan: sekolah, rumah sakit, panti asuhan, gerakan kaderisasi.

Ceramah mungkin hanya berlangsung satu jam. Tetapi sistem pendidikan yang beliau bangun bekerja sepanjang masa. Itulah design peradaban.

Ngaji dari KH Hasyim Asy’ari

Hal yang sama juga dapat kita pelajari dari KH Hasyim Asy’ari. Beliau tidak hanya mengajarkan kitab kepada santri. Beliau membangun pesantren sebagai pusat pembentukan ilmu, karakter, dan kepemimpinan.

BACA JUGA  Arsitektur Ideologi dan Eksistensi Negara Modern

Dari pesantren Tebuireng lahir jaringan ulama yang kemudian membangun organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama.

Sekali lagi kita melihat pola yang sama: dakwah tidak berhenti pada ceramah, tetapi membangun sistem kehidupan.

Ngaji dari Imam Khomeini

Pelajaran lain dapat kita lihat dari Ruhollah Khomeini. Beliau adalah ulama yang selama puluhan tahun mengajar dan membimbing masyarakat.

Namun perjuangannya tersebut tidak berhenti pada pengajian. Beliau memikirkan bagaimana ajaran Islam diwujudkan dalam sistem kehidupan masyarakat.

Dalam pidatonya 4 Juni tahun 1992 di Jakarta, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menyampaikan bahwa kontribusi besar Imam Khomeini adalah menunjukkan bahwa Islam tidak cukup hanya diajarkan, tetapi harus diwujudkan dalam sistem kehidupan yang utuh.

Dakwah Sistemik vs Dakwah Parsial

Jika kita belajar dari tiga tokoh tersebut, ada satu pelajaran yang sangat jelas.

Dakwah yang membangun peradaban selalu bersifat sistemik. Sebaliknya, banyak gerakan hari ini berjalan secara terpisah: ada yang hanya fokus sekolah, ada yang hanya fokus majelis taklim, ada yang hanya fokus tahfidz, ada yang hanya fokus zakat, ada yang hanya fokus kegiatan sosial.

Semua itu penting. Namun jika berjalan sendiri-sendiri tanpa desain yang utuh, umat akan terus berada dalam kondisi fragmentasi. Islam tidak pernah hadir dalam bentuk yang terpisah-pisah. Islam selalu hadir sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh.

Bahaya Dakwah Emosional Era Media Sosial

Di era media sosial, emosi seringkali lebih cepat menyebar daripada kesadaran. Video perang, propaganda politik, dan narasi konflik dengan cepat membakar perasaan umat.

Akhirnya banyak orang terjebak menjadi komentator konflik. Waktu habis untuk berdebat. Energi habis untuk emosi. Sumber daya habis untuk reaksi sesaat.

Padahal dunia tidak berubah hanya karena komentar. Jika umat hanya menjadi penonton dan komentator, maka sebenarnya umat sedang menjadi korban perang media tanpa menyadarinya.

Dari Emosi Menuju Produksi Peradaban

Sejarah mengajarkan satu pelajaran penting. Perubahan besar tidak lahir dari emosi, tetapi dari produksi peradaban. Para tokoh besar yang kita pelajari tadi tidak menghabiskan hidupnya untuk berdebat.

Beliau membangun: institusi, generasi, sistem kehidupan. Beliau memproduksi solusi.

Mengapa Umat Sering Menjadi Penonton Sejarah

Seringkali umat Islam merasa sebagai korban keadaan. Padahal sebenarnya masalahnya lebih dalam: kita terlalu sering bereaksi terhadap peristiwa, tapi jarang mendesain masa depan.

Padahal para nabi dan ulama besar selalu berpikir dalam horizon yang panjang. Mereka tidak hanya merespon keadaan, tetapi membangun arah sejarah.

Dimulai dari yang Kecil tetapi Nyata

Design peradaban tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia justru sering dimulai dari langkah kecil yang nyata.

BACA JUGA  Dedi Mulyadi Akan Tumbangkan Prabowo?

Dimulai dari: pribadi yang sadar, keluarga yang kuat, komunitas yang saling menguatkan.

Dari sana lahir pendidikan yang sehat, ekonomi yang adil, kepemimpinan yang amanah, dan solidaritas sosial yang nyata.

Hal-hal kecil ini penting karena dapat kita jalankan, kita kontrol, dan kita evaluasi bersama dari waktu ke waktu.

Mengisi Hidup yang Sangat Singkat

Jika kita renungkan dengan jujur, hidup manusia di dunia sebenarnya sangat singkat. Jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal, umur manusia di dunia tidak lebih dari beberapa menit saja.

Seakan-akan kita hanya berhenti sejenak di sebuah rest area.

Dalam waktu yang sangat singkat itu, manusia diuji: apakah ia akan terjebak oleh ilusi dunia, atau menggunakan waktu singkat itu untuk menyiapkan kehidupan yang sebenarnya.

Dunia hanyalah tempat singgah. Akhiratlah kehidupan yang nyata dan abadi.

Karena itu setiap detik kehidupan di dunia seharusnya kita isi dengan sesuatu yang bernilai: amal, ilmu, kontribusi, pembangunan kehidupan yang lebih adil bagi manusia.

Semua itu adalah bekal yang kelak akan kita unduh kembali di kehidupan akhirat.

Menuju Kehidupan yang Berporos Tauhid

Pada akhirnya seluruh pelajaran ini membawa kita pada satu kesadaran besar. Islam tidak hanya mengajarkan ibadah personal. Islam juga menuntun manusia untuk membangun kehidupan yang adil dan bermartabat.

Di sinilah tauhid seharusnya menjadi poros bagi seluruh aspek kehidupan: pendidikan, ekonomi, kepemimpinan, keadilan sosial, hubungan antar manusia.

Ketika tauhid menjadi pusat kehidupan, maka ibadah, ilmu, sosial, dan (juga) kepemimpinan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Semuanya terhubung dalam satu design peradaban.

Penutup

Sejarah menunjukkan bahwa dakwah yang mengubah dunia bukanlah dakwah yang paling ramai majelisnya atau paling viral ceramahnya.

Dakwah yang mengubah sejarah adalah dakwah yang mampu mendesain kehidupan manusia secara sistemik.

Karena itu di tengah hiruk-pikuk dunia dan derasnya arus emosi di media sosial, mungkin sudah saatnya kita kembali ngaji kepada para arsitek peradaban.

Belajar dari mereka bahwa dakwah bukan sekadar berbicara. Dakwah adalah mendesain masa depan umat manusia.

Dan waktu kita di dunia ini sangat singkat – seperti singgah beberapa menit saja di sebuah rest area.

Semoga kita tidak tertipu oleh kehidupan dunia yang sementara ini. Semoga kita mampu mengisi waktu yang sangat singkat ini dengan amal yang nyata.

Dan semoga semua usaha kecil yang kita lakukan di dunia ini kelak menjadi bekal yang Allah terima dalam ampunan dan rahmat-Nya di kehidupan yang abadi. Bismillah.

*) Gus Hafidh SKP Muchtar, SPMAA (Sumber Pendidikan Mental Agama Allah) Pasuruan

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.