Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 03:23 WIB
Surabaya
--°C

Di Bawah Ekonomi Kalabendu

Tapi, ingat satu hal. Banyak perjalanan yang membuat kita dewasa, bukan karena panjangnya langkah, tetapi karena banyaknya kekecewaan dan kepahitan yang harus kita terima tanpa suara kebingungan.

Oleh: Yudhie Haryono

KEMPALAN: Pasar ambruk, daya bayar remuk. Saat bersamaan KKN (kolusi, korupsi, nepotisme) merajalela, banyak pengkhianatan, dan banjir amoralisme. Para penjahat itu memang sebagian ditangkap, tapi kader dan penggantinya jauh lebih cepat berkembang biak.

Hukum yang timpang, keadilan yang bengkok, orang yang benar justru tersisih, realitas kehidupan yang serba sulit serta tak ada yang mampu menanganinya, adalah kenyataan tidak terbantahkan. Dan, semua justru tambah memperparah kerusakannya.

Inilah situasi dan kondisi kalabendu. Kata ini berasal dari bahasa Jawa, yaitu kala (zaman) dan bendu (sial). Arti subtansinya zaman penuh kesialan, kesengsaraan, banjir pengangguran, kekacauan, fitnah, dan tertradisinya angkara murka.

Ini zaman kedunguan, aroma keedanan, jahiliyah modern di mana kebenaran sulit ditemukan, pemimpin kehilangan wibawa, kita dipenuhi polisi dan politisi culas, sehingga kehidupan ekonomi serba susah, tidak terprediksi.

Karenanya, tanpa pemahaman serius soal dominasi dan tradisi buruk ekonomi kalabendu sebagai puncak dari kreasi pemikiran neoliberalisme, kita segera mengidap segitiga kemiskinan (the poverty triangle) dalam berbangsa dan bernegara.

Ketiganya berupa miskin moral, miskin agensi, miskin agenda. Ujungnya yaitu terciptalah “negeri budak dari budaknya budak bangsa” dan kita menjadi ahli waris para budak semesta. Apa yang kita banggakan dari negeri budak, sistem perbudakan serta warisan ekopol budakisme?

Tiga keadaan ini memerangkap kita pada sikap “saling curiga dan tidak percaya”; derajat tinggi konflik dan kerusuhan; perampokan yang mentradisi dan (sudah) membudaya; serta terpolanya mimpi berpisah (sparatisme).

Empat perangkap itu menghasilkan lingkaran setan kemiskinan yang tidak tak terselesaikan:

(1) Dari sisi penawaran, di mana pendapatan rendah membatasi produksi; (2) Dari sisi permintaan, di mana pendapatan rendah membatasi konsumsi; (3) Dari sisi ketidaksempurnaan pasar, di mana sumber daya yang tidak becus menyebabkan miskin dan berakibat miskin.

Kemiskinan absolute (kapital, nalar dan moral) membuat kita tak punya daya inovasi, apalagi tekhnologi tinggi. Riset mati persis seperti banyak warga negara kita yang putus asa lalu memilih jadi agen asing.

Kini, subtansi Indonesia telah lama mati. Tentu hipotesa ini bukan ringkasan sejarah dan bukan nujum purba, tapi sebuah kesimpulan meyakinkan. Tidak terbantahkan.

Jika tidak ada lagi keadilan sosial; tak ada lagi keadaban kemanusiaan; tak ada lagi moralitas ekopolitik, tidak ditemukan lagi kesentosaan bersama, siapa yang masih yakin negeri ini ada dan berdiri?

Kini, kalimat akhirnya dalam ketiadaan subtansi Indonesia adalah memahami bahwa “kebenaran dan idealitas yang dijalankan dengan ketulusan, meski menyakitkan dan tak mudah dipahami, adalah satu-satunya jalan menuju kemenangan dan keabadian”.

Jalan itu bukan menang kalah, tapi usaha tak berhenti pada pencapaian. Terus dan terus sampai tubuh luruh dan ajal memeluk kita, penuh. Moyang kita telah menyebutnya jihad, pamit pejah. Mati. Melawan dan terus melawan sampai titik darah penghabisan.

Tapi, ingat satu hal. Banyak perjalanan yang membuat kita dewasa, bukan karena panjangnya langkah, tetapi karena banyaknya kekecewaan dan kepahitan yang harus kita terima tanpa suara kebingungan.

Inilah karma hidup di Indonesia yang kini terbelenggu ekonomi kalabendu.

*) Yudhie Haryono, Guru Besar, CEO Nusantara Centre

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.