Kamis, 7 Mei 2026, pukul : 20:58 WIB
Surabaya
--°C

Isi Hati Hanya Satu Warna

Bagaimana caranya? Gunakan dan maksimalkan kemampuan SASYUIK (Sabar, Syukur, Ikhlas) untuk mengatasi, yang ditandai dengan munculnya sikap tenang, senang, lapang menghadapi kenyataan.

Oleh: Hamka Suyana

KEMPALAN: Hati yang dikenal sebagai pusatnya perasaan, isinya hanya satu warna. Ia selalu terisi, tak pernah kosong.

Ketika “warna” perasaan sedih berada di sana, maka perasaan gembira akan pergi menjauhi.

Jika tiba giliran “warna” bahagia memasuki hati, maka “warna” perasaan derita tahu diri, ia akan segera pergi.

Bagaimana caranya agar dalam kehidupan, esensi perasaan gembira dan bahagia selalu mengisi hati, tidak hanya ketika tercapai keinginan baru merasa bahagia?

Sesungguhnya pada saat dalam kesulitan dan menghadapi ujian pun, masih bisa menghadirkan esensi perasaan bahagia.

Barang siapa mampu mengundang esensi bahagia pada saat menderita, niscaya Allah akan memberikan kebahagiaan secara tidak terduga.

Hal ini sesuai Hadits Qudsi, Allah berfirman, yang artinya, “Aku (Allah) mengikuti prasangka hambaKu”

Bentuk prasangka kepada Allah adalah apa yang Dirasakan hati ketika otak memikirkan sesuatu.

Banyak fakta, ada orang yang mengaku merasa kesulitan mendapatkan esensi bahagia pada saat menderita. Hal itu terjadi karena membiarkan efek masalah menggerogoti perasaannya.

Misalnya, pada saat mengalami kenyataan tak diinginkan, selalu memikirkan akibat buruk yang menimpa. Kemudian diratapi dan disesali berkepanjangan. Ia membiarkan esensi perasaan derita, kerasan bercokol di dalam perasaannya.

Terus bagaimana cara mengatasinya?

Berikut ini tips jitu agar esensi lega dan bahagia lebih mudah hadir dalam segala situasi dan kondisi.

1. Harus tegas pasang target waktu untuk merasakan sedih, sesal, kecewa dan sejenisnya. Misalnya rentang waktu bersedih, kecewa, dan jengkel untuk masalah kecil ditarget paling lama sekian jam.

Untuk sedih dan jengkel katagori sedang ditarget sekian hari. Untuk masalah berat …., silakan dibuat target sendiri.

Setelah target waktu habis, suruhlah esensi perasaan sedih, kecewa, kesal, dan derita segera pergi meninggalkan hati. Karena esensi perasaan lega dan bahagia sudah antri untuk mengisi.

2. Kemudian, undanglah esensi perasaan lega dan bahagia agar mampu bertahan lama bermukim dalam hati.

Bagaimana caranya? Gunakan dan maksimalkan kemampuan SASYUIK (Sabar, Syukur, Ikhlas) untuk mengatasi, yang ditandai dengan munculnya sikap tenang, senang, lapang menghadapi kenyataan.

Yakini dan amalkan Surat Al Insyiroh, ayat 5 dan 6, yang artinya, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan Ada Kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan Ada Kemudahan.”

Selain itu, ingatlah QS Al-Ahzab ayat 4, Allah berfirman, “Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya.”

Spirit Qurani tersebut merupakan peringatan penting bahwa bukan karena keadaan dan kenyataan yang menjadikan hati bahagia atau menderita.

Tetapi, kecerdasan emosional dan spiritual yang bersangkutan dalam mengelola masalah yang menjadikan salah satu dari 2 perasaan itu bertahan lama di dalam hatinya.

Jagalah hati dengan bersikap sabar, syukur, ikhlas dalam segala kondisi, niscaya esensi bahagia sukses mudah menghampiri.

Salam Sasyuik, semoga bahagia sukses selalu.

*) Hamka Suyana, Motivator Cahaya Sasyuik

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.