Oleh: Dr. Dhimam Abror Djuraid
KEMPALAN: Karbala, sebuah kota sekitar 100 kilometer barat daya Baghdad, Iraq, menjadi simbol kesyahidan yang mengilhami 80 juta muslim syiah di seluruh dunia. Di Padang Karbala inilah Husain bin Ali, cucu Rasulullah tewas dibantai oleh pasukan Yazid bin Muawiyah yang menjadi penguasa kekhalifahan Islam pada abad ke-6.
Ali bin Abi Thalib meninggal dunia karena dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam saat menjadi imam shalat subuh di masjid agung Kufah, Iraq. Ia menjadi khalifah ketiga yang tewas terbunuh. Umar bin Khattab, khalifah kedua, dan Utsman bin Affan, khalifah ketiga, juga tewas dibunuh. Hanya Abu Bakar Al-Shiddiq, khalifah pertama, yang meninggal secara wajar.
Ketika Ali dibaiat menggantikan Utsman bin Affan muncul pemberontakan dari gubernur Iraq, Muawiyah bin Abu Sufyan pendiri dinasti Umayyah. Inilah cikal bakal perpecahan Islam yang menandai munculnya sistem monarki dan dinasti dalam Islam.
Muawiyah digantikan oleh putranya Yazid. Husain menolak kepemimpinan Yazid dan bergerak ke Kufah untuk mengklaim kekhalifahan yang menjadi haknya. Tetapi, di perbatasan Kufah, di Padang Karbala, rombongan Husain yang berjumlah 73 orang, dihadang oleh 30 ribu pasukan berkuda kiriman Yazid.
Husain terkepung. Selama tiga hari diisolasi total. Tidak ada suplai air dan makanan. Wanita dan anak-anak, termasuk bayi yang masih berusia 6 bulan, nyaris mati kelaparan dan kehausan. Husain diultimatum untuk menyerah. Ia menolak.
Pada 9 Muharram 680 M malam ultimatum terakhir disampaikan. Husain melakukan shalat malam. Ia tetap menolak menyerah. Pagi harinya seluruh rombongan dibunuh dengan brutal. Kepala Husain dipotong dan ditancapkan di ujung tombak, lalu diarak keliling kota.
Tetapi ada satu anak berusia 13 tahun yang lolos. Dialah Ali Zainal Abidin, putra Husain, cicit Rasulullah. Dialah yang menjaga garis keturunan Rasulullah, dan menjadi satu di antara 12 imam syiah. Imam ke-12, Muhammad bin Hasan Al-Askari, diyakini menghilang dan menjelang kiamat akan turun ke bumi sebagai Imam Mahdi.
Setiap 10 Muharram umat syiah memperingati Hari Asyura kematian Husain dengan ritual penuh kepedihan. Di antaranya ada yang melukai seluruh bagian tubuhnya dengan benda-benda tajam.
Militansi Karbala ini yang sampai sekarang menjadi spirit perlawanan Iran melawan musuhnya. Doktrin syahid inilah yang paling ditakuti oleh musuh. Amerika dan Israel tidak akan menurunkan pasukan darat ke Iran, karena sama saja dengan terjun ke killing field, ladang pembantaian. Yang dilakukan adalah perang proxy, adu domba syiah dengan sunni, supaya terjadi perang di antara mereka sendiri.
Di media sosial sangat banyak ulama dan ustadz yang melakukan propaganda anti-syiah. Argumen yang dipakai adalah bahwa Al-Quran syiah beda dengan sunni. Tidak ada bukti kuat mengenai argumen ini. Juga disebut bahwa syiah membenci para khalifah, terutama Abu Bakar dan Umar, serta Aisyah, istri Rasulullah.
Perbedaan syiah-sunni lebih banyak didasari oleh sentimen politik, ketimbang masalah syariah dan aqidah. Banyak tradisi syiah yang diadopsi oleh muslim sunni di seluruh dunia. Di antaranya adalah keyakinan akan turunnya Imam Mahdi sebelum hari kiamat. Tidak terhitung berapa banyak orang Islam sunni yang memakai nama ‘’Mahdi’’.
Tradisi mistis syiah banyak yang dipraktikkan oleh sunni. Penghormatan terhadap orang suci atau wali, ziarah ke makam-makam keramat, perkabungan orang meninggal selama 40 hari, adalah praktik ritual yang sama-sama dilakukan oleh syiah dan sunni.
Syiah adalah sekte politik yang menginginkan Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah penerus Rasulullah. Tetapi, para sahabat senior yang dipimpin oleh Umar bin Khattab tidak menghendaki kepemimpinan Islam berlanjut menjadi dinasti.
Begitu Rasulullah wafat, Umar dan Abu Bakar bersama kelompok Muhajirin melakukan perundingan politik dengan kalangan Anshar untuk menentukan khalifah. Perundingan berjalan alot dan sengit. Hampir terjadi perkelahian.
Akhirnya Abu Bakar terpilih secara aklamasi. Ali bin Abi Thalib tidak ikut dalam perundingan karena merawat jenazah Rasulullah. Umar bin Khattab lalu mendatangi Ali dan memintanya berbaiat kepada Abu Bakar.
Ali menutup pintu rumahnya. Umar mendobraknya dan melukai Fathimah yang sedang hamil sampai keguguran. Ali dengan enggan berbaiat. Inilah yang menimbulkan kebencian syiah kepada para sahabat.
Dunia tahu bahwa hanya Iran yang berani melawan Amerika dan Israel. Negara-negara sunni seperti Arab Saudi justru menjadi sekutu Amerika. Iran dibiarkan terisolasi sendirian.
Amerika boleh unggul secara militer. Tapi, semangat Karbala tidak akan mudah ditundukkan oleh siapapun. Sebagaimana semboyan syahid syiah, ‘’Setiap tanah adalah Karbala, setiap hari adalah Asyura’’. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi