Jumat, 1 Mei 2026, pukul : 01:40 WIB
Surabaya
--°C

Timur Tengah di Ujung Tanduk: Saat AS – Israel Berhadapan Langsung dengan Iran

Jika pendekatannya adalah menghancurkan untuk menguasai, maka yang tersisa hanyalah puing dan dendam yang diwariskan lintas generasi. Sejarah selalu akan mencatat siapa yang menekan dan siapa yang ditekan.

Oleh: Massayik IR

KEMPALAN: Kawasan Timur Tengah kembali berdiri di tepi jurang. Ketika dua kekuatan bersenjata nuklir, yakni Amerika Serikat dan Israel, secara terbuka mengerahkan mesin perang melawan Iran, dunia seperti menyaksikan babak baru yang lebih telanjang dari sekadar “ketegangan geopolitik”.

Ini bukan lagi suatu diplomasi yang gagal. Ini adalah pesan keras: siapa pun yang mencoba berdiri sejajar, akan dipukul sebelum sempat tumbuh.

Puluhan ribu personel, kapal induk, ratusan jet tempur, dan armada laut digeser ke kawasan seperti orang kaya yang datang ke warung kecil sambil membawa satu truk pengawal hanya untuk menagih utang receh.

Retorikanya selalu sama, yaitu: menjaga stabilitas, melindungi kepentingan, dan menegakkan hukum internasional. Namun ironisnya, hukum itu sendiri seringkali ditekuk seperti sendok plastik saat berhadapan dengan kepentingan Washington dan Tel Aviv.

Pertanyaannya: jika benar ini soal keamanan global, mengapa skenarionya terasa seperti operasi “habisi sampai akar”? Mengapa targetnya bukan sekadar fasilitas militer, melainkan juga figur-figur kunci pemerintahan?

Apakah ini upaya meredam ancaman, atau justru mengganti rezim sesuai selera Amerika? Dunia boleh pura-pura tidak paham, tapi publik kawasan tidak sebodoh itu.

Narasi yang dibangun selalu menempatkan Iran sebagai biang masalah. Padahal, setiap negara berdaulat memiliki hak untuk mengembangkan teknologi bidang pertahanan.

Bukankah negara-negara besar hari ini berdiri karena mereka dulu mengamankan diri dengan senjata dan kekuatan? Mengapa standar itu berubah ketika giliran Teheran yang mencoba memperkuat posisinya?

Di sisi lain, respons Iran memperlihatkan satu pesan: mereka tidak datang ke meja sejarah sebagai korban pasif. Serangan balasan ke pangkalan-pangkalan militer di kawasan menunjukkan bahwa konflik ini bukan pertandingan satu arah.

Ini seperti orang yang didorong ke sudut ring, tapi memilih memukul balik, alih-alih menyerah. Dalam logika kekuatan, itu disebut suatu deterensi. Dalam logika propaganda, itu disebut agresi. Tergantung siapa yang memegang mikrofon.

Keterlibatan sejumlah negara kawasan menambah lapisan ironi. Ibarat tetangga yang meminjamkan halaman rumahnya untuk dipakai orang luar melempar batu ke rumah sebelah, lalu berharap tidak ikut terkena pecahan kaca.

Sejarah jarang memaafkan keputusan seperti itu. Jadi, api yang dinyalakan untuk orang lain kerap membesar dan mencari bahan bakar baru.

Ada pula pertanyaan yang lebih besar: apakah dunia benar-benar lebih aman jika satu negara dimusnahkan kekuatan politik dan militernya?

Atau justru kekosongan itu akan melahirkan kekacauan baru? Pengalaman invasi dan perubahan rezim di berbagai tempat menunjukkan bahwa membongkar satu bangunan tanpa menyiapkan fondasi pengganti seringkali berakhir seperti proyek mangkrak – biaya membengkak, masalah tak selesai, dan rakyat yang (akhirnya) menanggung.

Di tengah semua ini, Iran berdiri sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi tunggal. Mereka mungkin bukan tanpa cela, tetapi dalam kacamata banyak masyarakat kawasan, mereka mewakili gagasan bahwa Timur Tengah tidak harus selalu tunduk pada desain luar. Dan bagi sebagian orang, itulah dosa terbesar yang tak termaafkan.

Satirnya, negara-negara yang kerap mengampanyekan demokrasi justru tampak alergi pada pilihan kedaulatan yang tidak sejalan dengan kepentingannya. Seperti lomba yang aturannya berubah saat peserta lain mulai mendekati garis finish.

Ketika Iran memperkuat diri, itu disebut ancaman. Ketika sekutu memperkuat diri, itu disebut pertahanan.

Hari-hari ke depan kemungkinan akan diwarnai eskalasi dan ketidakpastian. Tapi satu hal yang jelas: konflik ini bukan sekadar soal rudal dan pangkalan militer. Ini tentang siapa yang berhak menentukan masa depan kawasan.

Jika pendekatannya adalah menghancurkan untuk menguasai, maka yang tersisa hanyalah puing dan dendam yang diwariskan lintas generasi. Sejarah selalu akan mencatat siapa yang menekan dan siapa yang ditekan.

Dan, pada akhirnya, pertanyaan paling jujur adalah ini: apakah dominasi tanpa batas benar-benar bisa bertahan selamanya, atau justru kesombongan itulah yang menjadi awal dari keruntuhan?

*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.