Rabu, 29 April 2026, pukul : 16:13 WIB
Surabaya
--°C

Wong Sing Gak Onok Balung Rine

KEMPALAN : Saya mulai mengenal sosok ini seputar 40 tahun lalu. Kami sama-sama bernaung di perguruan tinggi yang sama : Akademi Wartawan Surabaya. Dan pada perkembangannya sama-sama berprofesi sebagai jurnalis.

Mungkin saya duluan yang menerjuni profesi ini. Boleh jadi karena sosok yang saya maksud itu 2-3 angkatan di bawah saya.(Maaf, persisnya saya tidak begitu ingat).

Yang saya ingat betul sosok ini dekat dengan mantan Ketua PWI Cabang Surakarta –Subakti Sidik — yang sama-sama satu angkatan di perguruan tinggi pendidikan jurnalistik itu.

Ada banyak sosok yang mengimpresi saya, mungkin karena sikap kerasnya sebagai jurnalis, mungkin juga lantaran keras dan idealis. Ada lho keras thok, tapi –maaf– enggak idealis. Babat sana, babat sini, ujung-ujungnya ketawa-ketiwi… 😃.

Nah, sosok ini kesan saya : kalem, santun, pandai menempatkan diri, dan moderat. Mirip saya mungkin, moderatnya. Atau kalau menilai secara –maaf– ekstrem, meminjam istilah sobat saya Toto Sonata jurnalis yang penyair, mungkin sosok ini masuk golongan “uwong sing gak onok balung rine“. Artinya sosok ini tidak punya sakit hati, jauh dari dendam, dan : humanis. Ada orang yang humanis, tapi nggondo’an wkwkwk…

Kok ada ya orang seperti itu? Ya, ada. Buktinya dia, humanis tapi enggak nggondo’an. Enggak jengkelan.

Seingat saya, sosok yang bertinggi badan kurang lebih 170 cm itu, pernah menjadi koresponden Suara Merdeka di Surabaya, kemudian hijrah ke Jawa Pos ditempatkan di Banyuwangi. Lantas menjadi redaktur pelaksana koran mingguan Bidik. Belakangan saya ketahui sosok ini sebagai pemimpin umum koran mingguan tersebut.

Kemarin kami bertemu di PWI Jawa Timur, menghadiri undangan buka puasa bersama adik-adik dari panti asuhan yang diselenggarakan oleh sobat Ferry Mirza yang Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Jatim, bekerjasama dengan organisasi profesi ini — dalam rangka ulang tahun ke-71 Ustaz Ferry (demikian saya biasa memanggil). Semoga panjang umur, sehat, dan banyak rezeki ya, Taz.

Nah, saat ketemuan di acara tersebut, kami gayeng. Mungkin salah satu faktor, belum tentu setahun sekali kami ngobrol secara offline.

Ketika ngobrol, saya mengingatkan “momen di sebuah tempat di Jalan Sulawesi, Surabaya” sekitar 37 tahun lalu, sosok ini cuma nanggepi dengan senyam-senyum.

Yang kedua, saat saya mengatakan bahwa “jargon” yang tercantum di boks susunan redaksi koran mingguan Bidik yang saya baca sekira 10 tahun lalu, bikin saya tersenyum. Dan tentu saja impresif. Bunyi; “jargon” tersebut kurang lebihnya begini: Wartawan Bidik dalam menjalankan tugasnya dibekali dengan tanda pengenal dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Saat saya singgung soal ini, dijawab lagi-lagi dengan tersenyum.

“Ini kok mirip parodi ya,” kata saya. “Atau boleh jadi satire. Karena biasanya, ada beberapa koran yang mencantumkan “jargon” seperti ini : Wartawan Bla bla bla dalam menjalankan tugasnya dibekali tanda pengenal dan tidak diperbolehkan menerima imbalan dalam bentuk apa pun.

Namun, realitasnya banyak yang tersamar dalam bungkus halus. Atau bisa jadi ada (banyak) yang mengimplementasikan dirinya sebagai buzzer. Nah, lo !

Beberapa kali saya salah ketik saat men-tag nama ini di Facebook dengan Puji Laksono seorang pelukis, sahabat saya lainnya. Nama sosok yang jurnalis ini : Pudji Leksono. (AM/Foto sebelah kanan: Pudji Leksono).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.