Karena pada akhirnya, derajat guru tidak ditentukan oleh slip gaji, tetapi oleh jejak kebaikan yang hidup di hati murid-muridnya. Dan itu adalah investasi yang tidak pernah bangkrut.
Oleh: Gus Hafidh SKP Muchtar
KEMPALAN: Saya menulis ini bukan sebagai pengamat. Saya menulis sebagai pelaku. Saya lahir dari keluarga guru. Abi dan ibu saya guru. Saya memiliki NUPTK sebagai guru. Isteri saya guru. Anak saya guru.
Saya pernah menjadi pendiri sekaligus Kepala Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Kaffah (MIIKAAFFAH) sejak tahun 1996. Dan pada tahun 2004, sekolah kami menjadi objek studi banding 60 Kepala SDN Percontohan se-DKI Jakarta yang dipimpin Kepala SDN Menteng bersama Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.
Saya pernah menjadi Kepala Madrasah Aliyah Ruhul Amin (MARA) dua periode. Saya mengasuh pesantren. Saya aktif dalam pendidikan masyarakat dan pelatihan profesional.
Dan hari ini, saya kembali duduk sebagai mahasiswa S3 Pendidikan Inklusi, belajar tentang Teknologi Asistif. Tulisan ini bukan teori kosong. Ini refleksi perjalanan.
Asistif: Dari Inklusi Menuju Mentalitas
Dalam kajian akademik, teknologi asistif berkembang kuat dalam konteks pendidikan inklusi dan dukungan terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Saya menghormati itu.
Saya juga aktif berinteraksi dengan pengurus PPDI (Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia) Pusat Jakarta. Bahkan satu diantara pengurus yang juga pelaku disabilitas secara konsisten memberikan dukungan terhadap kegiatan saya di SPMAA (Sumber Pendidikan Mental Agama Allah) Batam.
Saya beberapa kali diminta mengisi pengajian secara daring di komunitas PPDI tersebut.
Dari sana saya belajar: Inklusi bukan belas kasihan. Inklusi adalah desain sistem agar semua manusia tetap bermartabat.
Karena itu, dalam tulisan ini, istilah asistif tidak saya gunakan semata sebagai perangkat teknis, tetapi sebagai mentalitas pedagogik: sikap responsif terhadap hambatan, baik hambatan belajar maupun hambatan sosial.
Asistif adalah keberanian mencari solusi.
Badai Realitas Guru
Kita hidup pada masa yang tidak sederhana. Ada kebijakan berubah cepat. Ada kecemburuan sosial. Ada perbandingan gaji. Ada keluhan. Semua itu manusiawi.
Saya tidak menyalahkan siapa pun. Tetapi saya bertanya kepada diri saya sendiri: Jika saya memilih menjadi guru, apakah saya hanya memilih gajinya, atau saya memilih jalannya?
Dari Gaji ke Derajat
Para Nabi berkata: “In ajriya illa ‘ala Rabbil ‘aalamiin.” Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Itu bukan penolakan terhadap hak. Itu adalah reposisi orientasi.
Guru bukan Nabi. Tetapi guru adalah miniatur pengikut misi kenabian. Di sinilah saya teringat motivasi yang sejak lama saya dan para santri SPMAA pedomani dari Bapak Guru Moh. Abdullah Muchtar:
“Jadilah guru yang minta dilantik oleh Allah, tidak sekadar oleh manusia. Sehingga tempat, alat, dan peserta didik, serta kebutuhan hidup, bisa mencukupi dengan kecerdasan hidupnya, tanpa tergantung dari gaji manusia.”
Kalimat itu bukan isapan jempol. Saya menyaksikan sendiri praktiknya. Sejak 1961 lembaga pendidikan yang beliau dirikan membebaskan biaya mondok bagi para santri. Tanpa drama. Tanpa sensasi. Tanpa subsidi besar dari sistem negara.
Itu bukan sihir. Itu kecerdasan hidup yang berporos langit. Saya mungkin belum mampu seperti itu. Tetapi minimal, saya bisa menjadi guru yang asistif.
Langit yang Membumi. Langit adalah orientasi. Bumi adalah kerja nyata. Langit adalah niat. Bumi adalah profesionalisme.
Guru yang berporos langit: Tidak menjadikan iri sebagai energi. Tidak menjadikan keluhan sebagai identitas. Tidak menunggu sistem sempurna untuk bergerak.
Guru yang membumi: Kreatif dalam keterbatasan. Adaptif terhadap perubahan. Kolaboratif dengan stakeholder. Mengubah hambatan menjadi latihan karakter.
Asistif bukan kelemahan. Asistif adalah kekuatan yang tenang.
Keteladanan Lebih Kuat dari Tuntutan
Jika guru sibuk menuntut dihormati, masyarakat bisa lelah. Tetapi jika guru bisa melahirkan generasi: Berakhlak, Berkarakter, Tangguh, Inklusif, Bermanfaat, maka masyarakat akan memuliakan guru tanpa diminta.
Itulah derajat yang lahir dari dampak, bukan dari demonstrasi.
Untuk Para Pemangku Kebijakan
Tulisan ini juga untuk pemerintah dan lembaga pendidikan. Guru yang bermental langit akan menjadi kuat. Tapi sistem yang adil akan mempercepat keberhasilan. Ekosistem harus diperbaiki.
Profesionalisme harus ditopang .Penghargaan harus layak. Namun perubahan terbesar tetap dimulai dari dalam diri guru itu sendiri.
Penutup: Jalan Sunyi yang Menguatkan
Saya tidak sedang menggurui. Saya sedang mengingatkan diri sendiri. Sebagai guru, saya harus asistif. Berporos langit. Membumi dalam tindakan.
Saya boleh memperjuangkan hak. Tetapi hati saya tidak boleh dipenuhi iri. Saya boleh menghadapi badai realitas. Tetapi kompas saya harus tetap ke langit.
Karena pada akhirnya, derajat guru tidak ditentukan oleh slip gaji, tetapi oleh jejak kebaikan yang hidup di hati murid-muridnya. Dan itu adalah investasi yang tidak pernah bangkrut.
Semoga kita menjadi guru yang dilantik oleh Allah, dan dimuliakan oleh manusia karena keteladanan, bukan karena tuntutan. Bismillaahirrahmaanirrahiim.
*) Gus Hafidh SKP Muchtar, SPMAA Pasuruan

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi