KEMPALAN : Suatu hari di bulan Juli 2023 : saya, Henky Kurniadi penggiat seni dan mantan anggota DPR, serta Toto Sonata jurnalis dan penyair — memenuhi ajakan pewarta dan pengarang Noorca M. Massardi Saat itu sosok kreatif yang anggota Lembaga Sensor Film ini sedang ada tugas di Surabaya.
“Saya tunggu di Pasar Rame, Tunjungan Plaza 6 lantai V,” begitu antara lain ajakan saudara kembar almarhum Yudhistira ANM. Massardi yang juga dikenal sebagai sastrawan dan jurnalis. Yudhis pernah sebagai pemimpin redaksi Majalah Gatra. Adapun Noorca M. Massardi mantan pemimpin redaksi Majalah Jakarta-Jakarta.
Rupanya Mas Noorca –demikian saya biasa memanggil– menginap di hotel dekat spot kuliner itu.
Sebelumnya kami bertiga bersama anggota komunitas Seduluran Semanggi Suroboyo lainnya sering bertemu dengan Mas Noorca di Surabaya, setidaknya selepas awal tahun 2000.
Pasar Rame adalah salah satu spot di lantai V mall itu yang menyediakan berbagai sajian kuliner pada stan-stan yang didesain mirip warung. Beda dengan food court di lantai V Tunjungan Plaza 2 yang berdempetan memanjang melengkung, membentuk mirip busur.
Karena selera lidah serta gemuruh perut kami bertiga saat itu beda-beda, maka Mas Noorca mengawal kami masing-masing di tiap warung, yang lantas membayarnya dengan menghadapkan layar ponselnya ke arah bidang gambar berupa corak dekoratif. Lantas pesanan dibawa ke tempat kami duduk. Saat itu saya membatin : ‘Oh, ini cara pembayaran baru yang lebih canggih dibanding dengan kartu debet.’
Tentang pembayaran dengan menggunakan ponsel itu, pada perkembangan selanjutnya saya tidak tahu apa istilahnya. Mungkin lewat begitu saja ditelan kesibukan saya.
Baru kemudian saat berita komplotan pelaku pencurian uang kotak amal salah satu masjid dengan menggunakan aplikasi –diistilahkan QRIS– dibongkar polisi, saya mulai sedikit paham.
‘Oh, itu to QRIS. Mungkin seperti yang digunakan Mas Noorca saat nraktir kami dulu,’ saya membatin.
Hari-hari selanjutnya, “simpang-siur” seputar QRIS sesekali berkelebat di mata dan otak saya. Makin lama makin mendesak.
Namun, dompet saya tetap berisi beberapa lembar rupiah (sering tidak banyak) dan sekeping kartu ATM yang kadang-kadang saldonya mepet limit. Sedangkan HP saya cuma berisi list nomor telepon, e-KTP, e-BPJS, e-Tol, platform Facebook-TikTok-YouTube, dan beberapa grup WA. Jelasnya : saya tak punya aplikasi QRIS.
*
Dua bulan lalu saya dan sutradara teater senior Achmad Zainuri mengudap di salah satu warung (semacam waralaba) kelas “rakyat jelantah” : Pecel Nyamleng.
Spot kudapan di kawasan Rungkut, Surabaya Timur, ini yang utama menunya nasi pecel, tapi ada menu lain favorit saya : rawon.
Kuah rawonnya tidak hitam pekat. Dan irisan dagingnya tipis-tipis. Tapi soal rasa, gak kalah dengan Rawon “Kalkulator” atau Rawon “Setan”. Harganya relatif murah, sepiring cuma Rp. 17 ribu. Bandingkan dengan Rawon “Kalkulator” di Taman Bungkul, Surabaya, tiga tahun lalu seingat saya harga seporsi sudah Rp 30 ribu.
Memang dagingnya tak sebanyak dua rawon yang saya sebut tadi. Buat orang selansia saya yang sudah 72 tahun, lauk daging sudah tak diperlukan sebanyak sebagaimana saat muda dulu.
Nah, ini dia. Warung sederhana yang terletak di bawah naungan rindang pohon angsana besar dengan tempat duduk ditata mirip huruf L, berkapasitas sekira 10 orang itu, selain pembayaran tunai juga menyediakan sistem pembayaran QRIS. Gambar aplikasi pembayaran ini diberdirikan di selembar karton seukuran buku tulis. Lantaran ini tergolong warung “rakyat jelantah”, saya lihat banyak yang membayar cash.
Di sisi lain, kurang lebih sebulan ini saya mesti bolak-balik ke toko alat-alat tulis & kantor (ATK) dan fotokopi dekat rumah untuk persiapan penerbitan buku terbaru saya “Biografi Puisi – Jiwa Tampak Rohan”, lantaran toko ATK tersebut juga menerima jasa pengetikan.
Di salah satu bagian atas rak di toko penjualan dan jasa itu, ditulisi begini : Tidak Menerima Pembayaran QRIS di Bawah Rp. 5.000.
Saya lantas berpikir : QRIS sudah demikian merangsek, masuk ke warung kudapan sederhana, juga toko alat tulis dan kantor kelas perumahan.
Saya lantas melanjutkan berpikir, pasti anak-anak saya sudah punya QRIS. Cepat atau lambat saya yang sangat gaptek IT ini akan minta dibikinkan aplikasinya.
*
Kemarin 22 Desember 2025, sebuah akun Tik Tok yang menamakan ‘Kompas.com.’ mampir di beranda saya. Ringkasan narasinya : sejak kapan uang rupiah asli ditolak di negeri sendiri.
VT (video Tik Tok) ini menceritakan seorang nenek ditolak membeli roti di gerai Roti O yang terletak di salah satu halte bis di Jakarta.
Seorang anak muda protes kepada kasir lantaran menolak pembayaran nenek tadi yang menggunakan uang cash.
Akun ini disuka 61,4 ribu, dikomentari 2,1 ribu, dan dibagikan oleh 2,03 ribu netizen.
Ternyata keviralan ini diberitakan banyak akun Tik Tok lainnya.
Tentu selain narasi audio visual di akun ‘Kompas.com.’ ini menarik, teks-teks literasi di kolom komentar juga begitu mengesankan, mengundang untuk diikuti, misalnya sebagaimana bunyi akun-akun di bawah ini.
‘@Dina Offical’ : “Banyak ragam komentar, kesimpulannya alangkah baiknya dua pembayaran cash dan non-tunai diadakan. Secanggih-canggihnya teknologi, jangan sampai toko tutup gara-gara pembayaran tunai ditiadakan.”
Akun ‘@Nurma Nanies’ berkomentar begini : “Waktu anakku minta Roti O pas panas-panas tengah hari, begitu sampai di lokasi Roti O gak bisa dibeli pake cash, harus tf dengan QRIS. Nyesek banget lihat anakku sedih.”
“Bisa untuk bahan nulis artikel nih, judulnya ‘Analisis Yuridis Penolakan Pembayaran Tunai oleh Toko Roti O Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang’,” tulis akun ‘@D’.
‘@Mira Kidskira’ : “Sekarang kebanyakan pakai qr (QRIS). Sering kasihan sama orang awam yang buta huruf, nenek tua, terlebih lagi yang biasa pakai wifi — sudah pasti gak punya kuota😁😂”
(Saat baca komentar di atas saya membatin ‘saya aja sampai sekarang gak punya aplikasi sistem pembayaran digital : QRIS’).
“Lihat Jepang, Singapore, Malaysia, mereka lebih dulu ada non-tunai, tapi negeri-negeri itu lebih mengutamakan cash (tunai). Non-tunai itu alternatif kalo gak ada duit cash. Dan non-tunai bukan jadi yang utama,” tulis akun ‘@aJulio Rahmansyah.
‘@key animation’ : “Perlu diluruskan bahwa QRIS bukan alat pembayaran yang sah, melainkan metode pembayaran. Alat pembayaran yang sah adalah rupiah. Jadi menolak pembayaran tunai bukan soal teknologi, tapi soal etika dan hak konsumen.”
*
Dari rentetan komentar di atas, juga yang saya baca di akun Tik Tok lainnya, sesungguhnya tidak hanya Roti O yang menerima pembayaran dengan sistem digital QRIS. Outlet dan tempat kudapan modern lainnya banyak yang hanya menerima sistem pembayaran digital itu.
Kenapa tidak diberlakukan dua sistem : cash dan non-tunai?
Ada yang berkomentar bahwa sistem non-tunai QRIS mempercepat waktu pembayaran (tak ada uang kembalian) dan, ini yang “cukup menyakitkan” : mencegah kecurangan karyawan.
Lantas ada pula yang memproyeksi dengan e-Tol. Dijawab oleh netizen lainnya, antara lain : “Ya jangan aple to aple begitu. Bayangkan macetnya gerbang tol kalau harus menerima pembayaran dengan lebih dulu mengecek jumlah uang tiket, belum lagi kalau harus ada uang kembalian.”
Tentang QRIS, saya mencoba mengelaborasi tulisan saya ini, di antaranya dengan mengakses platform Meta AI. Platform ini menyebut QRIS singkatan dari : Quick Response Code Indonesian Standard. Digunakan untuk pembayaran non-tunai, seperti transfer bank atau e-wallet, diharapkan sebagai pembayaran yang lebih praktis dan efisien.
Sementara itu dari Google saya peroleh data bahwa :
* 17 Agustus 2019 – Peluncuran resmi QRIS oleh Bank Indonesia.
* 1 Januari 2020 – QRIS menjadi standar wajib untuk semua kode QR pembayaran di Indonesia.
* 2020 (Masa Pandemi) – Penggunaan QRIS melonjak karena fitur tanpa tatap muka (TTM) menawarkan transaksi yang aman dan mengurangi kontak fisik.
* 1 Maret 2025 – QRIS Tap (berbasis NFC) diluncurkan untuk pembayaran lebih cepat.
* 17 Agustus 2025 – Ekspansi QRIS cross-border (antar negara) ke Jepang dan Tiongkok dimulai.
Tujuan Utama QRIS :
Menyatukan semua penyedia layanan pembayaran digital (e-wallet, mobile banking) dalam satu kode QR.
Memudahkan transaksi non-tunai bagi konsumen dan pedagang (UMKM).
Mendorong inklusi keuangan dan digitalisasi ekonomi nasional.
*
Tiba-tiba saya teringat salah satu tulisan Dahlan Iskan sekitar 5-6 tahun lalu, antara lain menyinggung pengemis di Tiongkok. Mereka bisa menerima sedekah dengan aplikasi di ponsel. Saat HP pemberi sedekah didekatkan ke HP pengemis : ‘klik’ — maka bertambahlah saldo pengemis itu.
Eladalah!
(Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi