Senin, 15 Juni 2026, pukul : 15:12 WIB
Surabaya
--°C

Jancuk yang Manis

KEMPALAN : Sekira dua minggu lalu saya mengajak 5 orang teman warga komunitas seni Seduluran Semanggi Suroboyo (SSS) untuk bahas kagiatan yang sekiranya bisa direalisasikan oleh komunitas ini.

Dari 5 orang yang saya wapri, dua orang berhalangan hadir: yang satu masih di luar kota, satunya lagi flu berat.

Mereka yang hadir: musisi balada Bambang Jon, penggiat ludruk Meimura, dan komedian yang MC yaitu Djadi Galajapo.

Setelah sejam pada pertemuan di sebuah tempat ngopi kawasan Surabaya Timur, saya pamit pulang. Mereka bertiga masih melanjutkan obrolan.

Seminggu setelah pertemuan di atas, saya ketemu lagi dengan Bambang Jon di rumah Henky Kurniadi Ketua SSS. Hadir juga di situ Jil Kalaran sutradara film dokumenter yang penggiat seni.

Di sela-sela obrolan siang itu di rumah Henky, dengan setengah kepo saya bertanya ngobrolin apa saja sesudah saya pulang dari tempat nongkrong seminggu lalu tersebut.

BACA JUGA  Tragedi Proyek Drainase Margorejo, Syaifuddin Zuhri: Keselamatan Warga Prioritas Utama

Ternyata dari ngobrol sana sini yang akhirnya bermuara di dunia musik, Djadi Galajapo ingin dibuatkan lagu yang dinyanyikannya dan diiringi Bambang Jon dkk.

Dua hari lalu Djadi Galajapo pasang status WA. Lantas saya tutul, maka mengalirlah klip video yang didahului oleh penampakan poster lagu, judulnya : Jancuk yang Manis.

Apa jenis lagu ini seperti genre yang digeluti Bambang Jon yaitu musik balada? Ternyata tidak. Nuansa pop mengalir riang gembira dari sosok Djadi Galajapo yang sudah menerbitkan 11 judul buku, baik yang ditulisnya sendiri maupun yang ditulis orang lain.

Hanya saja ciri Bambang Jon (dibantu pemain gitar andal Pardi Atin) masih menyimpan nuansa, setidaknya di awal lagu, yaitu: munculnya sekian detik permainan solo harmonikanya yang hipnotisir itu.

BACA JUGA  DPRD Surabaya Dukung Razia Pajak Kendaraan, Minta Pemkot Kedepankan Pendekatan Humanis

Djadi yang menulis lirik lagu ini, seperti halnya jika dia ngemce, menampakkan sikap egaliter dan watak optimismenya.

Klip video ini shooting-nya dilakukan di kompleks Tugu Pahlawan Surabaya.

Pada klip video tersebut, kadang Djadi tampil tunggal dengan kopiah khasnya setinggi 25 cm yang warna outfit-nya senada : gelap.

Pada adegan lain, dia berganti outfit kasual dengan jaket krem tak dikancingkan, diiringi 3 cewek backing vocal yang ber-out fit kasual juga. Salah satunya tak berhijab.

Dari running tex yang saya baca di video ini, ternyata jancuk bukan semata pisuhan khas Arek Suroboyo sebagaimana lazimnya selama ini, melainkan singkatan dari : J(ujur), A(dil), N(asionalis), C(erdas), U(let), dan K(reatif). Owala…(Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.