Asian Survivor, Memotivasi Para Transmigran

waktu baca 5 menit
Keluarga Mas Aldrin, transmigran millenial dari Surakarta. Menempati SP (Satuan Pemukiman) 10 di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. (Foto: dari vlog 'Asian Survivor').

KEMPALAN: Saya kenal channel ini sekitar dua tahun lalu. Tiga bulan kemudian saya putus mengikuti. Mula-mula subcriber-nya di bawah 10.000. Kini, setelah saya longok lagi, sudah  400.000 lebih.

Yang membedakan dengan channel sejenis, Asian Survivor yang digawangi oleh orang muda 32 tahun ini adalah “obyek garapan” kawasan transmigrasi yang masih baru yang tanahnya bekas rawa-rawa dengan genangan pasang-surut dari anak sungai aliran Sungai Kayan di Kalimantan. 

Bisa dibayangkan betapa sulit para transmigran mengolah lahan ini. Umumnya menggunakan sistem guludan (semacam galengan). Tanah yang digali menjadi mirip parit. Ada juga yang diolah menyerupai bedengan-bedengan.

Permukaan tanah guludan dan  bedengan tersebut bisa 2 kali lebih tinggi dari “selokan-selokan” itu. 

Tentu, ini bukan pekerjaan main-main  — dimana setiap transmigran dapat lahan garapan seluas 2 -3  hektar. Hanya orang-orang ulet  yang (kelak) bisa menaklukkan tanah (bergambut) ini. Salah satu caranya, mirip orang makan bubur panas. Dimulai dari pinggiran, lantas sedikit demi meluas hingga seperempat, setengah, sampai habis seluruh luas lahan. 

Ada yang ditanami daun pre, lombok, pisang, jambu kristal, kelapa, nangka, mangga dan padi, dan lain-lain lagi. Tentu, banyak juga yang mengkombinasikan berbagai tanaman. 

Berbeda dengan lahan-lahan transmigrasi di Lampung, Bengkulu, Jambi, Sulawesi, dan Papua — dimana lahan-lahan itu berada di:  tanah kering tapi cukup menyimpan air; kontur perbukitan; kebanyakan bekas hutan — begitu setidaknya yang saya lihat di sejumlah channel youtube yang berkutat di seputar dunia transmigrasi. 

Dengan kondisi tanah yang sangat berat untuk ditaklukkan, Rival – pemilik channel Asian Survivor — setiap hari mendatangi lahan-lahan dan banyak penghuni di rumah-rumah transmigran, terutama di SP (satuan pemukiman) 10 di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara — untuk memberi motivasi dan bimbingan dengan sabar, telaten. 

Padahal Rival bukan petugas penyuluh pertanian. Ia adalah youtuber yang disebabkan saat mulai marak Covid-19, termasuk korban PHK. Beruntung  tinggal bersama  orang-tuanya yang punya lahan “hanya” sekitar 2.500 meter persegi, mulai ikutan berkebun dan bertani. Pengalaman itu yang lantas ditularkan kepada para transmigran yang kemudian di-youtube-kan.

***

Dari ingatan sekilas menonton youtube Rival (Asian Survivor) di awal-awal ia nge-vlog, sosok ini adalah alumnus Universitas Hasanuddin, Makassar. Saya lupa ia mengambil fakultas apa. Saya cari lagi konten itu, sulit sekali. Barangkali karena jumlah kontennya yang sudah 3.800 lebih. Sebuah bilangan yang bisa dikata tidak sedikit, setidaknya di kalangan youtuber. Betapa produktifnya Bang Rival! 

Sehari rata-rata Rival nge-vlog 4 konten dengan jarak lokasi  cukup berjauhan, bersepeda motor melewati medan yang lumayan berat dengan jalan-jalan tanah berlepotan lumpur di musim hujan dan berdebu kala musim kemarau.Tentu ini butuh energi luar biasa dan konsistensi yang super istiqomah.

Sekadar catatan, setiap SP (satuan pemukiman) rata-rata dihuni 300 – 400 KK (kepala keluarga). 

Memang, soal jumlah subcriber  jangan bandingkan dengan  youtuber-youtuber selebritis macam Atta Halilintar (30,9 juta), Raffi Achmad (25,9 juta), Deddy Corbuzier (21,7 juta), Baim Wong (21,1 juta) dan masih banyak lagi yang subcriber-nya  rata-rata  di atas 5 juta — yang “wangi”, selalu gemerlap dengan “pendar-pendar cahaya” itu. 

Namun, youtuber yang awal-awal ngevlog tak pernah menampakkan wajah ini, saya nilai sebagai youtuber berkeringat dalam arti sesungguhnya. Atau dalam simbolisasi bahasa: berdarah-darah!

Hanya suara bariton di balik kamera  dengan susunan kalimat tertata rapi disertai nada persuasif jauh dari intimidatif, yang tertangkap oleh telinga saya. 

Rupanya atas desakan penggemar melalui kolom komentar “mengapa Bang Rival tak pernah menampakkan diri”, akhirnya terlihat realitas sosoknya. Dugaan saya, mungkin Rival minder mengingat wajahnya tak seindah suaranya. Boleh jadi kalau dianalogikan, Rival –maaf– mirip komedian Ajis Gagap. Padahal, sesungguhnya, di balik realitas fisik itu, Rival menyimpan kebaikan dan kebijaksanaan. 

Sebagai youtuber yang rata-rata viewer-nya 5.000 s/d 50.000, tentu channel Rival sudah ter-adsense dengan konsekuensi mendapat gaji dari youtube. 

Nah, setiap konten tentu ada hitung-hitungannya. Rival tahu balas budi, setiap habis gajian ia tak lupa selalu sisihkan sebagian honornya untuk para “talent” sosok-sosok transmigran tersebut. Bahkan  banyak para donatur setelah menonton channel Asian Survivor, jatuh empati, lantas menitipkan rezeki mereka untuk disampaikan kepada para transmigran via Rival. 

Oleh sebab itu, banyak transmigran  berharap agar aktivitas sehari-hari bisa diliput oleh Bang Rival. Setidaknya dari liputannya, keluarga mereka yang di Jawa maupun yang ada di satuan pemukiman lain, tahu kondisi saat ini.

***

Dari channel tersebut saya tahu istilah ‘jadup’: jatah hidup. 

Para transmigran sebelum lahannya menghasilkan, diberi jaminan hidup oleh Pemerintah selama 18 bulan. Ada juga yang 36 bulan.

Berapa jadup per KK? Senilai Rp 3,5 juta rupiah per bulan, dalam bentuk: beras, gula, minyak goreng dan jenis-jenis sembako lainnya. 

Dari jadup ini, para transmigran mau tidak mau harus bekerja  keras mengolah lahan, agar selepas masa jadup, sudah bisa menghidupi diri sendiri dan keluarganya. Kalau tidak, nasibnya (mungkin) seperti puluhan rumah dan lahan para  transmigran  di SP lain, terlihat kosong ditinggalkan penghuni. Ada yang separuh hampir roboh dengan penuh semak liar.

Dalam imajinasi saya berkaitan konteks di atas, sebagian dari mereka gagal mengolah lahan, lantas pergi ke Tanjung Selor ibukota Kalimantan Utara yang jumlah penduduknya cuma sekitar 30.000 ribu jiwa, untuk mengadu nasib memperpanjang hidup. (Sebagaimana  tercatat  di google, luas Provinsi Kalimantan Utara  71. 827 kilometer persegi, dua kali luas Provinsi Jawa Timur. Sementara jumlah penduduknya hanya 700.000 jiwa. Sedangkan Jawa Timur  39 juta jiwa).

Saya membayangkan, suatu saat Kementerian  Desa, Daerah Tertinggal, Transmigrasi —   mengundang Rival dan sejumlah transmigran terpilih — terbang ke Jakarta untuk menerima Anugerah (penghargaan). Karena sesungguhnya merekalah pejuang-pejuang pertanian. Untuk apa? Memberi dorongan dan motivasi bagi yang lain agar berprestasi!

Oleh: Amang Mawardi, penulis sejumlah buku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *