Jumat, 19 Juni 2026, pukul : 12:13 WIB
Surabaya
--°C

Perlukah Printing Money dalam Situasi Krisis?

KEMPALAN: Modern Monetary Theory (MMT) atau Teori Keuangan Modern yang dipopulerkan di Indonesia oleh Mardigu Wowiek (Bossman Mardigu) untuk mengatasi krisi ekonomi keuangan di Indonesia menciptakan celah yang belum terpecahkan.

Inti teori ini adalah printing money atau cetak uang demi pembiayaan pembangunan suatu Bangsa. Secara teoritik printing money mechanismnya adalah mencetak uang dengan cadangan devisa negara sebagai underlay-nya (jaminan).

Hal ini secara teori ekonomi keuangan klasik didasarkan pada keseimbangan neraca keuangan dalam negeri. Keseimbangan ini tercipta jika supply (persediaan) dan demand (permintaan) dalam level seimbang. Jumlah uang yang beredar dengan jumlah barang di pasaran juga dalam kondisi tidak berat sebelah. 

Bisa dibayangkan ketika jumlah uang yang beredar di pasaran jauh lebih tinggi melampaui ketersediaan barang yang ada, maka yang terjadi adalah: 1) tingkat inflasi yang tinggi, 2) penurunan nilai mata uang. Akibatnya krisis tidak semakin membaik, namun semakin menjadi alat penghancur ekonomi Negara.

Negara-negara seperti Bangladesh dan Sri Lanka menjadi contoh kesalahan strategi ekonomi keuangan ini. Bahkan Indonesia di jaman Presiden Soekarno (1945-1966) pernah mengalami kondisi inflasi terparah dalam sejarah bangsa ini hingga penurunan nilai mata uang di level 1.000 digit. Hal ini akibat kebijakan Soekarno yang memaksa mencetak uang rupiah secara ugal-ugalan untuk membiayai proyek-proyek mercusuar dan ambisinya kala itu. 

Beberapa proyek Soekarno yang dibiayai dengan menelan anggaran yang fantastis kala itu, seperti pembangunan Monumen Nasional (Monas), pembangunan Masjid Istiqlal, Stadion Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, Tugu Selamat Datang dan beberapa fasilitas megah untuk menyambut pesta olahraga Ganefo. Ini terjadi sekitar tahun 1960 hingga 1965. Ketidak-stabilan ekonomi ini berimbas pada instabilitas politik dan keamanan. Dan puncaknya adalah turunnya Soekarno dari kursi kepresidenan. 

Satu-satunya mata uang di dunia yang dicetak dengan underlay emas adalah dollar US. Hal ini menjawab mengapa dollar AS ini mampu menjadi alat pembayaran paling teruji dan stabil di seluruh dunia. Dinar Arab Saudi yang dicetak dengan emas dan sesuai dengan nilai tukarnya sebenarnya merupakan alternatif pembayaran yang jauh lebih stabil. Karena nilai mata uang dinar sesuai dengan harga emas yang dicetaknya.

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026

Namun, mata uang ini kalah populer dengan dollar yang memang sudah disetting oleh tiga negara pemenang Perang Dunia II kala itu (Amerika, Inggris, dan Rusia) sebagai mata uang yang dipakai dalam perdagangan internasional. Namun, pecahnya koalisi ketiga negara tersebut akibat saling berebut ideologi menyebabkan dunia terpecah menjadi blok barat (Amerika dan sekutunya) dan blok timur (Rusia dan sekutunya). Pecah kongsi inipun berakibat pada perang dagang pada masing-masing blok dan pengaruhnya bagi masing-masing “koloni” ekonomi mereka. 

Indonesia di masa Soeharto tidak ingin terjebak pada dikotomi barat dan timur. ASEAN diprakarsainya. Jalur perdagangan asia tenggara dengan pertukaran mata uang masing-masing negara dalam perdagangan bilateralnya diharapkan mampu sedikit mengurangi laju dominasi dollar yang terus menguat di dunia. Namun upaya ini nampaknya gagal. Dominasi dolar amerika akibat ketergantungan impor barang dari negara-negara industri barat menjadi kendalanya. 

Kemudian cara lain Soeharto adalah dengan membentuk Non Blok yang terdiri dari negara-negara yang tidak tergabung dalam blok barat atau timur. Dan anggotanya jauh lebih besar. Upaya inipun nampaknya belum berhasil menggerus dominasi dollar Amerika.

Upaya terakhir Soeharto adalah dengan berusaha menyeimbangkan nilai impor dari kedua kekuatan (blok barat dan timur) dengan membeli sejumlah produk-produk industri militer Rusia sebagai sebuah strategi penyeimbangan neraca perdagangan ekspor-impor sekaligus menjajaki kerjasama berkelanjutan di masa mendatang. 

Disinilah rezim Soeharto dihabisi Amerika Serikat. Seorang George Soros diutus untuk memporak porandakan ekonomi Indonesia dengan memborong seluruh persediaan dollar di Asia Tenggara. Akibatnya nilai tukar rupiah anjlok dan krisi ekonomi Indonesia mencapai puncaknya hingga kejatuhan Soeharto di tahun 1998.

BACA JUGA  Tragis!, Kericuhan Pecah di Jalan Sehat Tahun Baru Islam Pemprov Jatim, Kotak Undian Ditumpahkan Massa

Modern Monetary Theory (MMT) menawarkan prinsip berbeda. Printing money dengan penambahan cadangan devisa negara atau emas, sudah bukan lagi mekanisme yang wajib dilakukan suatu negara. Printing money menurut MMT bisa ber-underlay-kan proyek-proyek Multi-Nasional yang ada. Syaratnya: proyek yang dijadikan underlay ini harus mengambil sumber daya dalam negeri, sumber daya alam dalam negeri, barang-barang dalam negeri dan dijual untuk rakyat pribumi. Hasil dari project ini dalam bentuk uang selanjutnya “dibakar”. Tidak ada inflasi? Sesederhana itu? 

Teori ini menciptakan celah yang belum terjawab, yaitu saat pelaksanaan proyek ini berjalan dan uang sudah terlanjur dicetak serta diedarkan, maka akan ada durasi waktu dimana uang yang beredar ini melebihi kapasitas produksi nasional. Di masa dimana uang yang beredar jauh lebih besar dibandingkan stok produksi nasional, maka disitulah inflasi terjadi. Kekhawatirannya adalah saat ini (inflasi dan penurunan nilai mata uang red.) terjadi, maka proyek yang sudah terlanjur menjadi underlay printing money ini tidak akan selesai tepat waktu. 

Hal ini sangat masuk akal karena saat pengerjaannya harga-harga akan menjadi naik karena demand juga naik sementara stok tidak mampu mengimbangi dan memaksa Bank Indonesia untuk cetak uang secara terus menerus. Kondisinya akan semakin para dari hari ke hari. Mardigu sendiri tidak mampu menjawab secara logis saat kondisi ini sempat ditanyakan oleh Helmy Yahya dalam salah satu podcast-nya. Mardigu hanya menjawab bahwa jika ini terjadi maka kita tidak boleh membeli dollar. Hal ini sangat tidak masuk akal. 

Seharusnya ada sebuah penghitungan kekuatan sumber daya produksi Nasional sebelum menentukan suatu project sebagai underlay printing money.

(Aditya Roosvianto) 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.