Selasa, 2 Juni 2026, pukul : 21:57 WIB
Surabaya
--°C

Anies Baswedan Seorang Budayawan dan Nasionalis Sejati

YOGYAKARTA–KEMPALAN: Seorang teman akrab Anies Baswedan saat di SMPN 5 dan SMAN 2 Yogyakarta, Danang Anggoro Murti mengaku heran dengan tudingan miring yang dialamatkan kepada Gubernur DKI Jakarta itu. “Mereka yang suka menuding negatif itu sebenarnya paham tentang Anies Baswedan nggak tho,” ujar Danang, cucu maestro pelukis Indonesia Basoeki Abdullah ini bernada tanya.

Dia mengaku heran dengan tudingan bahwa Anies tidak paham budaya lokal Nusantara. “Dia memang punya keturunan Arab, tapi dia lebih memahami budaya Nusantara dari pada mereka yang menudingnya miring itu. Anies itu budayawan yang nasionalis,” tegas Danang.

Wakil Ketua OSIS semasa Anies Baswedan berangkat ke Amerika Serikat untuk AFS ini mengungkapkan bahwa dari biografi kakek Anies Baswedan sudah tidak diragukan lagi kecintaannya kepada Republik ini. “Beliau (Abdurrahman Baswedan) punya lahan luas di Surabaya lalu dihibahkan untuk pembangunan negeri ini. Beliau juga Pahlawan Nasional,” kata Danang.

BACA JUGA  S Golf Academy (SGA), Akademi Golf yang Ajarkan Golf Bukan Sekadar dari Sisi Teknis

Jiwa patriotik dan nasionalisme yang ada pada kakek AR Baswedan ini turun dalam jiwa Anies Baswedan dalam keseharian. “Saya tahu betul Anies itu njawani (kental Jawa dalam kehidupan sehari-hari) karena didikan dan dibesarkan di Yogya. Anies sangat paham budaya Jawa,” ujarnya.

Bahkan, kata Danang, Anies seorang budayawan. “Bicara budayawan artinya lebih luas, lebih menjiwai kearifan lokal yang ada. Tidak hanya budaya Jawa saja yang dipahami, namun budaya yang ada di Nusantara ini dia paham,” kata pria yang akrab disapa Kuncung saat di bangku sekolah.

Keberadaan rumah Joglo di kediaman Anies Baswedan di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan itu seharusnya bisa menjelaskan kepada mereka yang sering memandang miring tentang mantan Mendikbud ini.

BACA JUGA  MAESTRO PEMULIHAN FISIK: Revitalisasi Cedera Molekuler dan Manifestasi Klinis Masase Olahraga Terintegrasi FIKK Unesa

“Joglo Pinayungan Lambang Gantung itu punya sejarah panjang. Pemberian dari Raja Kasunanan Surakarta Paku Buwono II kepada Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari,” ujar pria yang turut membangun dan merenovasi joglo berusia ratusan tahun itu di rumah Anies.

Anies Baswedan juga paham tentang filosofi joglo seperti perjalanan budaya Jawa dari masa ke masa. Setiap zaman, ornamen joglo berbeda dari zaman Majaphit, Pajang, Demak, Mataram Islam hingga sekarang.

“Makanya saya dan Anies saat merenovasi Joglo Pinayungan Lambang Gantung ini butuh diskusi panjang. Tidak asal terima jadi. Dia paham karena seorang budayawan,” ujar Danang yang juga pengamat joglo Nusantara ini. (kba)

Editor: Freddy Mutiara

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.