Minggu, 12 Juli 2026, pukul : 04:46 WIB
Surabaya
--°C

Sama Sulit

Saya sulit berbasa-basi. Maka kondisi baik itu saya manfaatkan untuk menggali ”sejarah lama”: bagaimana Mimbar Masyarakat didirikan. Ia tinggal satu-satunya saksi hidup. Pelaku utama pula.

“Kak Alwy itu kan orang Banjar. Lahir di kampung apa?” tanya saya.

Kak Alwy tidak segera menjawab. Ia memperbaiki posisi corong oksigen yang menutup hidungnya. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu yang lama tersimpan hanya di pikirannya.

“Saya lahir di Sengkang….” katanya.

BACA JUGA: Cari Uang

“Haaaahhhhhh…..?” seru saya spontan. “Jadi… Pian itu bukan orang Banjar?” tanya saya seperti tidak percaya.

“Umur 40 hari saya dibawa bapak dan ibu ke Samarinda ini,” jelasnya.

Ayahnya pedagang eceran. Di Pasar Pagi. Di pinggir sungai Mahakam. Memang banyak orang Sulawesi jadi pedagang di pasar itu. Mereka dikenal sebagai pekerja keras. Juga sering berkelahi. Sesekali ada peristiwa saling bunuh. Saya yang memberitakannya.

BACA JUGA  Karma Instan yang Dialami Penderita NPD Sepanjang Hidup

Ia tumbuh, besar, sekolah di Samarinda. Ia sekolah di Normal Islam Samarinda saat SD dan SMP. Setamat SMAN Kak Alwy kuliah di Unair Surabaya. Belum lagi setahun, ia mendapat kabar: ada akademi perniagaan dibuka di Banjarmasin. Tiga tahun sudah bisa lulus.

Kak Alwy ingin cepat lulus. Maka ia pindah ke Banjarmasin. Setahun kemudian akademi itu dilebur menjadi fakultas ekonomi Universitas Lambung Mangkurat. Tiga tahun kemudian ada mahasiswi masuk fakultas baru itu: itulah yang kelak jadi istri Kak Alwy.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.