KEMPALAN: Daya tarik dari genre Detective Fiction (fiksi detektif) adalah misterinya. Bertahun-tahun pembaca terkesima oleh sosok Sherlock Holmes dan Hercule Poirot yang dengan cerdasnya mengungkap kejahatan sang pelaku dan menghukumnya.
Itulah formula pokok dalam fiksi detektif. Namun The Devotion of Suspect X karya Keigo Higashino memutar balik formula ini. Bukannya menyembunyikan misteri, kisah ini dibuka dengan membeberkan siapa identitas sang pelaku, apa motifnya, dan bagaimana modus operandinya. Karena di buku ini, karakter utama bukanlah sang detektif atau pun kepolisian Tokyo. Karakter utamanya adalah sang pelaku.
Novel ini mengikuti Yasuko Hanaoka, seorang single mother yang merasa tersiksa oleh mantan suaminya yang tak henti-henti melacaknya dan menguntitnya. Hingga, suatu malam, ia tidak sengaja membunuh suaminya dalam aksi bela diri.
Sadar putrinya akan kehilangan satu-satunya orang tua yang ia miliki jika ia masuk penjara, Yasuko dan putrinya mencoba menyembunyikan pembunuhan ini.
Kisah semakin rumit ketika tetangga Yasuko, seorang guru matematika bernama Ishigami, malah menolong usaha mereka daripada melaporkan. Mereka bertiga bekerja sama menyembunyikan pembunuhan ini dari kepolisian Tokyo.
Namun tantangan utama mereka adalah melawan Manabu Yukawa yang dijuluki Profesor Galileo, tokoh Sherlock Holmes atau Hercule Poirot novel ini.
Dengan menjadikan Yasuko sebagai karakter utama, Keigo Higashino memutar balik peran para karakter.
Di fiksi detektif konvensional, karakter detektif berperan sebagai protagonis, kerap sebagai pribadi yang heroik dan bermoral. Sementara sang pelaku berperan sebagai antagonis, kerap sebagai pribadi yang keji dan tidak berperikemanusiaan.
Namun di novel ini sang pelaku adalah sang protagonis. Dengan mudah pembaca akan merasa simpati dan iba kepada single mother ini yang hanya ingin kehidupan damai dan gembira bersama putri tunggalnya. Malah sang Profesor Galileo-lah yang berperan sebagai antagonis, walaupun sifatnya yang baik hati dan cerdas.
Twist inilah yang membuat novel ini unik. Pembaca malah akan berharap Profesor Galileo gagal memecahkan misteri supaya Yasuko tidak akan tertangkap dan dipisahkan dengan putrinya.
Novel ini kaya dengan emosi dan empati di tengah genre yang terkenal penuh rasionalisme dan logika tanpa emosi.
Sisi thriller dari fiksi detektif berakar dari kurangnya informasi. Tidak ganjil jika Anda ragu apakah kisah ini bisa memberikan rasa ketegangan itu.
Tak perlu khawatir, novel ini memiliki ketegangan, hanya bentuknya berbeda. Di novel ini, ketegangan berakar dari permainan kucing dan tikus antara Yasuko dan Profesor Galileo.
Mudah untuk pembaca untuk berbagi rasa tegang dengan Yasuko ketika dia harus berbohong di hadapan polisi, menyatakan alibinya dengan lugas, dan mengendalikan raut wajahnya demi menghindari curiga.
Devotion of Suspect X bukanlah kisah detektif pertama yang memutarbalik formula. Anti-formula ini dipopulerkan oleh serial TV berjudul Columbo, serial detektif legendaris asal Amerika Serikat.
Film Knives Out karya sutradara Rian Johnson juga memberikan twist ke sub genre fiksi detektif Whodunit, dimana tokoh detektif yang diperankan oleh Daniel Craig secara tidak tahu bekerja sama dengan sang Pelaku dalam memecahkan misteri. Sang pelaku, diperankan oleh Ana de Armas, berusaha sekuat tenaga untuk menyabotase investigasi, merusak barang bukti, dan berbohong.
Devotion of Suspect X akan disukai oleh penggemar berat fiksi detektif yang jenuh dengan formula misteri konvensional dan sedang mencari alternatif.
Pembaca awam akan menggemari simpelnya kisah ini, bebas dari misteri yang terlalu memusingkan.
Buku ini dapat dibaca dalam Bahasa Indonesia dengan judul Kesetiaan Mr. X. (Jericho Fikri)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi