Kamis, 30 April 2026, pukul : 05:09 WIB
Surabaya
--°C

Sesajen

Menurut Simuh, tasawuf bisa diartikan sebagai mistik yang tumbuh dalam Islam. Tujuan utama tasawuf adalah untuk bersatu dengan Tuhan secara makrifat. Pokok-pokok ajaran tasawuf meliputi distansi atau menjaga jarak dari nafsu serta urusan duniawi, dan konsentrasi atau memusatkan pikiran untuk berzikir pada Allah. Puncak proses tasawuf adalah tercapainya Insan Kamil, manusia sempurna, yang berhasil berhubungan dan menyatu dengan Allah. 

Perkembangan tasawuf ditentang oleh para mujtahid yang lebih menekankan pada pemahaman Islam yang murni yang langsung bersumber Alquran dan Hadis. Tasawuf dinilai tidak sesuai syariat dan menodai kemurnian ajaran Islam. 

Ulama sufi Husain bin Mansyur atau terkenal sebagai Al-Hallaj dihukum mati karena dianggap merusak tauhid. Setelah kematian Al-Hallaj para pengikut sufi malah makin militan. Kematian Al-Hallaj justru dianggap sebagai jihad dan syahid, dan pertentangan antara syariat dengan tasawuf makin meruncing.

Lalu muncullah  Imam Al Ghazali, ahli syariat dan teolog, yang kemudian menyusun landasan yang menyediakan ruang kompromi bagi syariat dan mistisisme. Melalui kitab  Ihya’ ‘Ulumuddin Al-Ghazali menegaskan Islam dan tasawuf bisa saling mendukung dan menguatkan, bukannya saling menjatuhkan.

Sejak Islam masuk ke Jawa sufisme Jawa berkembang pesat. Islam masuk lewat wilayah-wilayah pesisir Utara Jawa seperti Gresik, Tuban, dan Jepara. Dari ketiga tempat tersebut, Islam menyebar secara cepat ke seluruh Jawa. 

Islam dapat diterima dengan mudah, karena para wali maupun sufi menerapkan ajaran sufisme yang akrab dengan tradisi masyarakat setempat. Para wali dan sufi juga menggunakan pendekatan kompromistis dan akomodatif dalam kegiatan dakwah. Mereka tidak terlalu mempersoalkan kemurnian Islam dan menggunakan simbol tradisi seperti wayang, gamelan, dan tetembangan sebagai alat dakwah. 

Islam diterima tanpa ketegangan. Para wali menyusupkan unsur-unsur Islam kedalam budaya dan tradisi lokal. Kemampuan resepsi masyarakat Jawa terhadap budaya luar sangat lentur, dan budaya Jawa pun terbuka untuk menerima budaya luar dan melakukan adaptasi secara elastis.

Salah satu bentuk sufisme Jawa adalah aliran kebatinan atau kejawen yang merupakan hasil sinkretisme campuran kebudayaan Jawa Budha, Islam, dan Kristen. 

Campuran paling dominan terjadi dengan Islam yang kemudian melahirkan Islam Jawi. Ajaran yang paling utama adalah konsep “manunggaling kawula gusti”, bersatunya hamba dengan Tuhan. Konsep  ini merupakan hasil dari proses dialog antara tatanan nilai Islam dengan budaya lokal Jawa yang lebih berdimensi tasawuf dan bercampur dengan budaya Hindu.

Gerakan pemurnian Islam di Timur Tengah yang dipelopori oleh Muhammad Abduh (1849-1905) di Mesir memengaruhi perkembangan Islam di Indonesia. Gerakan pembaruan melalui pendidikan dan pengorganisaian gerakan secara modern menginspirasi ulama-ulama pembaru di Indonesia.

Sebelum gerakan reformasi Muhammad Abduh, gerakan pemurnian Islam dimulai di jazirah Arab dengan munculnya Muhammad bin Abdul Wahab di abad ke-18. Abdul Wahab berkoalisi dengan pemimpin suku lokal bernama Muhammad ibnu Saud yang kemudian berhasil menguasai wilayah Arab yang kemudian disatukan menjadi Saudi Arabia.

Koalisi Abdul Wahab dan Ibnu Saud ini membawa gelombang baru pemurnian ajaran Islam yang membawa pengaruh ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia. Keberhasilan Arab Saudi menemukan sumber minyak pada 1970-an menjadikan negara itu sebagai sentra kekuatan baru Islam, dan menjadikannya sebagai pemimpin gerakan Islam yang sangat berpengaruh.

Ajaran pemurnian yang kemudian disebut sebagai ‘’Wahabisme’’ itu berkembang di Indonesia. Ajaran Wahabisme bersikap tegas terhadap budaya-budaya lokal yang dianggap mencemari kemurnian tauhid. Wahabisme-Salafisme melakukan pemurnian dengan cara kembali ke ajaran ‘’salaf’’ yang dianggap original sesuai Alquran dan Hadis.

Di Indonesia gerakan pemurnian itu sering berbenturan dengan Sufisme Jawa yang sudah menjadi aliran mainstream dalam masyarakat. Benturan ideologis ini sering mewujud dalam benturan sosial yang berujung pada kegaduhan dan bahkan kerusuhan.

Di Nusa Tenggara Barat, sebuah masjid dan pesantren dibakar oleh masyarakat. Mereka tersinggung karena seorang pendakwah Salafi dianggap melecehkan tradisi ziarah kubur para wali yang sudah menjadi tradisi lokal yang kuat.

Penangkapan lelaki penendang sesajen di Gunung Semeru itu adalah bentuk lain dari benturan itu. Dua peristiwa itu hampir pasti bukan insiden yang terakhir. Benturan-benturan baru masih akan terus terjadi lagi, karena ada kepentingan politik yang menunggangi. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.