KEMPALAN: Bagi Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri puisi ‘’Kidung Ibu Pertiwi’’ atau ‘’Kidung Ibu Indonesia’’ itu adalah puja-puji bagi keindahan khazanah budaya bangsa Indonesia. Tapi, bagi sebagian pemeluk Islam puisi dianggap sebagai penghinaan terhadap Islam.
Memperbandingkan konde dengan cadar bagi Sukmawati dianggap sebagai ekspresi estetika. Tapi bagi sebagian kalangan Islam perbandingan itu dianggap mendegradasikan syariah Islam yang mewajibkan wanita menutup auratnya secara lengkap.
Sukmawati merasa tidak nyaman kupingnya karena mendengar suara azan. Baginya, suara orang mengidung lebih indah ketimbang alunan azan yang mengajak muslim menjalankan shalat. Sukmawati menganggap azan sebagai seni suara layaknya orang menyanyi di pagi hari, di tengah hari, di senja hari, di petang hari, dan di malam hari menjelang tidur. Karena itu, telinga Sukmawati terganggu oleh seni suara yang tidak ia pahami maknanya itu.
Bagi kalangan Islam cara pandang–atau cara dengar—Sukmawati terhadap azan, dan memperbandingkannya dengan kidung, adalah penghinaan, karena mempersamakan kidung yang hasil olah seni manusia yang profan, dengan azan yang merupakan panggilan religius yang bersifat transendental.
Sukmawati tidak bisa membedakan karya seni, sebagai bagian dari budaya, dengan ritual agama yang menjadi bagian dari syariah yang didasarkan pada wahyu ilahiah. Memperbandingkan budaya dengan agama selalu menimbulkan kontroversi, karena budaya adalah karya manusia yang bersifat nisbi sementara agama adalah wahyu yang bersifat mutlak.
Untunglah Sukmawati mengakui bahwa dia tidak paham syariat Islam. Pengakuan itu menjadi semacam disklaimer bahwa dia tidak memahami sepenuhnya konsep-konsep Islam, yang notabene adalah agama formal yang ia peluk. Seharusnya, karena tidak memahami Islam secara utuh Sukmawati tidak melakukan perbandingan itu.
Sukmawati juga memperbandingkan bapaknya, Sukarno, dengan Nabi Muhammad saw. Sebuah perbandingan yang kembali memantik kritik, kecaman, dan laporan ke polisi. Kali ini Sukmawati tidak memberikan disklaimer bahwa dia sebenarnya tidak paham mengenai historiografi dan biografi Muhammad saw.
Harusnya dia melakukan disklaimer itu, sehingga perbandingan antara Sukarno dan Muhammad saw itu bisa dimaklumi sebagai perbandingan yang subjektif dan naif dari seorang anak terhadap bapak. Dengan disklaimer itu publik bisa mafhum bahwa Sukmawati tidak pernah membaca ‘’Sirah Nabawiah’’, dan tidak memahami posisi sejarah Muhammad saw.
Syukurlah semuanya sudah lewat. Setidaknya, bagi sebagian umat Islam keputusan Sukmawati untuk keluar dari Islam—terminologi Islam menyebutnya murtad—dan masuk Hindu, adalah kelegaan tersendiri. Daripada menjadi duri dalam daging, lebih baik sekalian Sukmawati keluar dari Islam.
Itulah yang terjadi Selasa (26/10). Setelah perjalanan spiritual 66 tahun, Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri resmi memeluk agama Hindu. Pemuka agama Hindu memberinya nama baru yakni Ratu Niang Sukmawati.
Ketua Sukarno Center, Arya Wedakarna, mengatakan nama tersebut menjadi tanda penghormatan terhadap Sukmawati dalam rangkaian upacara Nilapati atau menyatu dengan pencipta dan sejarah keluarga bangsawan Sukmawati.
Sukmawati juga…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi