Sabtu, 7 Maret 2026, pukul : 03:26 WIB
Surabaya
--°C

Dua Wajah Eifel dan Monas

Oleh: Maksum
Wartawan Senior

KEMPALAN: Paris dengan menara Eifel-nya bukan Jakarta dengan Monasnya. Dua kota besar ini menggambarkan dengan kontras disparitas nasib, kebudayaan, dan peradaban dua bangsa.
Paris dengan Eifel-nya menggambarkan wajah peradaban kaum aristokrat Eropa. Meskipun kaum ini di masa lalu memerintah dengan gaya feodal yang menyiksa para budak masih menyisakan karya abadi yang menjadi simbol bahwa berkuasa –seotoriter dan sekejam apa pun– masih menyisakan estetika dari keagungan sebuah perabadan.

Karena itu, Paris dengan menara Eifel-nya, tak cuma menyimbolkan kesombongan para mendiang kaum aristokrat. Ia, hingga kini dicatat sebagai salah satu kota budaya paling indah di dunia ini.
Paris juga tak cuma digambarkan oleh deretan panjang bangunan kuno yang tetap dipelihara dengan bangga untuk menunjukkan kesombongan rezim purba masa lalunya.

Gedung-gedung tua yang memanjang angkuh sepanjang metropolis Paris dari stasiun KA Gar de Les sampai ke kawasan indah Tro Cadero dengan kafe-kafe dan kaki lima yang tertib di seputar menara Eifel menggambarkan sebuah eksotisme Prancis sebagai rahim subur kelahiran para kreator mode. Kini, orang banyak tetaplah mencatat Paris sebagai salah satu pusat mode dunia. Karena keindahan dan eksotisme itu pula, Bandung pernah disebut tuan penjajah Belanda sebagai Paris van Java. Entah pantas atau tidak.

*
Lalu apa yang tersisa dari Jakarta dengan Monasnya di kala rezim penguasa yang membangun tugu tertinggi di tanah air ini sudah mendiang? Jakarta yang indah? Peradaban yang tinggi semenjulang Monas?

Bung Karo membangun Jakarta dan Monas dengan mimpi indah mirip kaum Aristokrat Prancis. Angkuh demi pembebasan. Ingin berdiri di kaki sendiri. Dengan berkuasa agak condong ke politik yang revolusioner, dengan politik anti Nekolim (neo kolonialisme dan imprealiasme), Bung Karno dengan gagah berani mengatakan: ‘’go hell to your aid’’ (per setan dengan bantuanmu) untuk menyatakan sikap tak mau didekte Barat dan AS.

Jakarta dengan Monas-nya bagi Soekarno dan kawan-kawannya ingin digambarkan sebagai simbol gagah perkasa bangsa baru yang sarat nasionalisme, mandiri, tetapi tetap estetik dan eksotis.
Tetapi, dalam perjalanannya cita-cita indah itu tak pernah berlabuh. Jakarta dengan Monas-nya tetap tak menjadi inspirasi dan referensi historis untuk mengubah perjalanan bangsa ini agar bebas keterbelakangan, pergolakan, penderitaan, dan kebergantungan pada asing.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.