
Oleh: Dr. Imam Syafii, M.Kes (Unesa/Indonesia Soccer Academy)
KEMPALAN: Masih banyak di kalangan pengelola Sekolah Sepak Bola (SSB) atau wadah pembinaan usia muda lainnya bahwa kemenangan dan juara masih menjadi tujuan utama di setiap turnamen yang diikutinya.
Ada kalanya tidak segan-segan menempuh segala cara untuk mencapai tujuan tersebut. Pencurian umur, istilah yang lazim dipakai bagi pemain yang memanipulasi usianya merupakan fenomena yang sering dijumpai pada turnamen atau kompetisi kelompok umur.
Praktik yang sering dilakukan adalah merubah data pemain yang bersangkutan atau menggunakan dokumen orang lain yang lebih muda. Fatalnya, mereka tidak menyadari jika sudah menanamkan kebohongan sejak dini pada anak-anak.
Tidak jarang anak-anak menjadi korban ketidakpuasan pelatih dan orang tua karena gagal memenuhi ambisi mereka. Sebuah potret buram terjadi ketika gelaran festival sepak bola Grassroots Day 2019 yang diselenggarakan oleh Indonesia Soccer Academy di stadion Jenggolo Sidoarjo. Seorang anak ditempeleng orang tuanya begitu keluar dari lapangan karena tampil jelek pada saat pertandingan dan timnya mengalami kekalahan.
Kejadian ini sangat tidak mendidik, apalagi dilakukan di depan umum. Dampak psikologisnya bukan hanya menerpa pada anak bersangkutan tetapi juga pada anak lain yang melihat kejadian tersebut secara langsung. Kejadian serupa bukan tidak mungkin terjadi di tempat lain.
Ekspektasi orang tua adakalanya sangat berlebihan terhadap penampilan anaknya di lapangan. Mereka terinspirasi permainan pemain-pemain sepakbola yang sering dilihatnya di kompetisi profesional, sementara anaknya masih berada di level pembelajaran. Harapan mereka, anak-anaknya sudah bisa main dan enak ditonton seperti pemain yang sudah mahir keterampilannya.
Ketika sepak bola diposisikan sebagai sekolah kehidupan, maka kurikulum sepak bola usia muda paling tidak harus mengandung pilar-pilar pembinaan yang bukan hanya mengajarkan ketrampilan bermain sepak bola saja. Anak-anak harus teredukasi tentang nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, disiplin, respek dan kerja keras.
Kepekaan sosial mereka dibangun melalui kegiatan yang melibatkan pihak luar dari komunitasnya, misalnya berkunjung ke panti asuhan untuk memberikan bingkisan kepada anak-anak di tempat tersebut.
Dengan demikian kepekaan sosial mereka akan terbangun sehingga bisa belajar untuk melihat bahwa ternyata masih ada anak-anak yang kurang beruntung yang perlu mendapat perhatian.
Pilar berikutnya adalah regulasi, yang mengajarkan pada anak-anak tentang peraturan yang bukan hanya berkaitan dengan permainan dan pertandingan sepak bola.
Regulasi ini mengatur anak-anak mulai berangkat dari rumah ke tempat latihan sampai pulang kembali ke rumah.
Bagaimana mereka ber-pakaian, perlengkapan yang harus dibawa dan ibadahnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembinaan itu sendiri.

Sholat Azhar berjamaah misalnya, sebelum latihan sore dapat menjadi kegiatan rutin bagi anak-anak yang beragama Islam, begitu juga setelah latihan, sholat Maghrib berjamaah perlu dilakukan bagi mereka yang rumahnya jauh.
Character Building (pembinaan karakter) bukan hanya bisa dilakukan di sekolah formal, pondok pesantren dan rumah saja, tetapi di lapangan sepak bola juga dapat dijadikan sebagai tempat alternatif yang strategis untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan pada anak-anak.
Peran pelatih sebagai figur utama dalam proses pembentukan anak, baik menyangkut teknik, fisik, teknik dan mental memiliki peran besar.
Adakalanya seorang anak lebih patuh pada pelatihnya daripada orang tuanya dalam hal-hal tertentu karena pelatih sudah dipandang sebagai panutan oleh anak di dalam maupun di luar lapangan.
Produk yang diharapkan dari wadah sepak bola usia muda yang terkonsep dengan baik adalah mencetak pemain dengan standar permainan sesuai dengan tuntutan sepak bola masa kini dan memiliki karakter hebat, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Kendati nantinya tidak menjadi pemain sepak bola yang handal, mereka akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang memiliki pola hidup dengan disiplin tinggi, pekerja keras dan berbudi luhur.
Jika sebuah wadah pembinaan usia muda punya 150 siswa dalam proses pembinaannya, kira-kira berapa persen di antara mereka yang akan menjadi pemain profesional dan nasional.
Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab oleh pengelola sepakbola usia muda. Dari pengalaman penulis mengelolah akademi, dari jumlah tersebut muncul 4-5 pemain yang bisa berkiprah di level nasional sudah sangat luar biasa. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi