Moskow-Kempalan: Permasalahan diskriminasi yang berdasarkan ras dan etnis masih menjadi hal yang wajar di Rusia karena keadaan sosial yang sangat beragam dengan berbagai suku dan etnis serta bahasa dan identitas. Bahkan dalam identitas nasionalisme di Rusia, terdapat dua distingsi utama yaitu “Russia (Russkii)” yang hanya merujuk ke etnis Rusia dengan identitasnya serta Rossia (Rossiiskii) yang merujuk kepada multietnis yang ada di Rusia. Jadinya, jika anda berasal dari etnis Tatar yang hidup di Rusia, maka anda akan digolongkan sebagai Rossia atau Rossiiskii.
Permasalahan identitas telah menjadi salah satu permasalahan kritis di Rusia karena beberapa kali menyebabkan ketegangan secara internal. Berdasarkan sensus pada tahun 2010, terdapat data yang menunjukkan bahwa di Rusia terdapat 194 bangsa yang didalamnya terbagi menjadi 50 grup etnis. Permasalahan multietnis menjadi salah satu penyebab ketegangan internal karena etnis Russia (Russkii) yang merupakan bangsa asli di Rusia sekaligus menjadi penerus USSR dan budaya formal di Rusia mengatakan bahwa hal ini merupakan “De-russification”. Menurut etnis Russia (Russkii), hal ini menjadi bahaya karena mengancam identitas asli Rusia.
Menjadi sebuah kebanggaan sendiri bagi negara yang luasnya terbentang dari Barat hingga Timur di globe untuk dapat mengais hidupnya di ibukota Rusia yaitu Moskow. Tapi, bagi yang berasal dari etnis atau bangsa minoritas, hal ini menjadi salah satu penghalang karena masih terdapat banyak tindakan rasisme dan diskriminasi yang dilakukan oleh warga Moskow kepada para pelancong. Tidak etis dan amoral bagi para landlord atau pemilik kos untuk melakukan diskriminasi kepada seseorang berdasarkan ras dan etnisnya.
Namun pada kenyataannya, dari berbagai media properti yang ada di Rusia menunjukkan data yang kontradiksi karena dari sekitar 35 ribu iklan properti di Moskow, sekitar 15% iklan tersebut melakukan diskriminasi terhadap suatu ras dan etnis. Secara terang-terangan, landlord menulis dalam iklannya bahwa mereka harus berasal dari etnis Slavik dan tidak menerima diluar etnis tersebut.
Kebanyakan landlord hanya menerima penghuni yang berasal dari etnis Slavik dan selain itu maka kemungkinan besar akan sulit. Seperti misalnya distrik “Ter-rasis” yaitu Severny yang menunjukkan data bahwa 58% landlord disana tidak menerima penghuni selain etnis Slavik. Kemudian juga terdapat kaitan yang menarik antara harga sewa apartemen dan tingkat diskriminasi. Semakin tinggi harga sewa suatu apartemen maka semakin toleransi terhadap etnis lain. Selain itu juga terdapat riset lain yang mengatakan bahwa semakin dekat dengan pusat kota maka tingkat toleransi semakin tinggi.
(Moscowtimes, Muhamad Nurilham)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi