JOMBANG-KEMPALAN: Pendidikan model seperti yang paling dibutuhkan untuk menghadapi era yang akan datang? Itulah pertanyaan yang mengemuka dalam dialog pendidikan yang diadakan oleh Forum Pendidikan Jawa Timur, Minggu, 29 Agustus 2021, di Dedurian Park Wonosalam, Jombang.
Diskusi yang dipandu oleh Yusron Aminullah, Founder De Durian Park dan menghadirkan Narsum, Ir Sukemi, Mantan staf ahli kemendikbud, M. Isa Ansori, Dewan Pendidikan Jatim, Soelistyanto Soejoso, Budayawan dan Pemerhati Pendidikan serta Syahirul Alim, pemerhati pendidikan.
Diskusi yang dihadiri tidak kurang dari 42 peserta yang berasal dari birokrat pendidikan, LSM, Para Guru dan orang tua ini berlangsung secara santai dan mengalir menghasilkan beberapa pemikiran baru tentang model pendidikan masa akan datang.
Isa Ansori dalam paparannya menjelaskan bahwa masa pandemi adalah masa ketidak pastian penyelenggaraan proses belajar, tidak ada yang bisa memastikan kapan pandemi ini akan berakhir, sementara pendidikan mesti harus dijalankan, karena ini berkaitan dengan hak? Ketidakpastian situasi harus kita jawab dengan kemampuan kita memastikan jalan keluar dari situasi sekarang ini, tegas Isa.
” Jalan keluar dari ketidak pastian pembelajaran harus kita jawab dengan kemampuan kita memastikan kapan proses belajar bisa dilakukan “, ungkap Isa.
” Salah satu cara memastikan agar proses belajar bisa dilaksanakan dimasa pandemi dan masa akan datang adalah dengan memadukan konsep belajar Hybrid, konsep belajar online dan konvensional (offline) “, tambahnya.
Soelistyanto bahkan lebih ekstrim mengajak kepada kita semua untuk memastikan bahwa pembelajaran masa depan adalah pembelajaran online, pembelajaran offline porsinya harus banyak dikurangi.
” Kita mesti harus berani keluar dari zona aman pembelajaran yang ada selama ini, pandemi ini ada berkah yang kita dapatkan, guru mulai memahami pentingnya arti tehnologi, orang tua mulai mengerti bahwa mendidik anak itu tidak mudah dan butuh sinergi begitu juga dengan anak anak, juga mulai mengerti betapa pentingnya belajar berkolaborasi. Tehnologi menjadi sebuah keniscayaan untuk mengatasi hambatan hambatan waktu dan keterbatasan yang dimiliki oleh guru, orang tua dan anak “, Papar Soelis.
” Bagi saya pembelajaran online adalah sebuah keniscayaan, meski kita tidak bisa meninggalkan proses belajar tatap muka, tapi porsinya harus dikurangi “, Jelas Soelis.
Sukemi menyarankan agar dalam proses belajar kedepan yang segala sesuatunya terasa baru, dibutuhkan sebuah wadah berbagi antar pelaku pendidikan.
” Kita butuh sebuah wadah bertukar pikiran bagaimana berbagi pengalaman baik menjalankan proses belajar selama pandemi. Diharapkan dengan wadah itu, kita pelaku pendidikan bisa saling berbagi dan mencoba menginplementasi pengalaman – pengalaman baik untuk kita terapkan ditempat kita masing – masing ” Jelas Sukemi.
Syahirul Alim menekankan proses belajar apapaun yang dilakukan harus lebih memperhatikan kebutuhan anak didik dan prokes yang disyaratkan. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi