Minggu, 19 April 2026, pukul : 12:01 WIB
Surabaya
--°C

Perlu Dibentuk Dewan Vaksin Nasional

SURABAYA-KEMPALAN: Penanganan virus Covid-19 sebenarnya sederhana. ‘’Dengan memakai masker di mana saja kita akan aman, virus akan mati diluar. Kalau virus sudah telanjur masuk ke tubuh dan dihajar ramai-ramai oleh antibodi dan vaksin maka virus akan makin melawan dan lebih mengancam,’’ kata Prof. Chairul Anwar Nidom, pakar vaksin dari Unair dalam dialog ‘’Deadline’’ bersama Forum Jurnalis Muslim, Jatim, Sabtu (21/8).

Prof. Nidom mengatakan pemakaian masker dan penerapan prokes adalah senjata yang paling efektif untuk mencegah virus. Dengan menjaga virus tidak masuk ke tubuh maka virus akan mati dengan sendirinya. ‘’Kalau sudah masuk ke tubuh dan ditantang oleh vaksin atau antibodi maka virus akan melawan,’’ kata Nidom.

Menurut Prof. Nidom, masyarakat Indonesia sudah mempunyai mekanisme dalam bentuk ‘’local wisdom’’ atau kearifan lokal dalam menghadapi kasus-kasus pandemi seperti Covid-19. Salah satu yang dianjurkan Prof. Nidom adalah pemakaian empon-empon, atau rempah-rempah, yang mempunyai khasiat yang sudah terbukti.

Menurut Prof. Nidom dalam menghadapi pandemi ini yang diterapkan sekarang adalah ‘’global wisdom’’. Apa yang digariskan oleh WHO, Badan Kesehatan Dunia, menjadi panduan dan protap yang diterapkan di seluruh dunia. Padahal, kata Prof. Nidom, belum tentu global wisdom itu sesuai dengan kearifan lokal. ‘’Karena itu saya sangat menyarankan penggunaan kearifan lokal dengan konsumsi empon-empon,’’ tambah Prof. Nidom.

Pemakaian vaksin telah menimbulkan banyak kontroversi. Selain persoalan efektifitas yang dipertanyakan karena mutasi virus yang cepat, muncul juga pertanyaan mengenai ‘’kapitalisasi pandemi’’. Negara-negara seperti Amerika Serikat sekarang terbukti mendapatkan keuntungan yang besar dari kapitalisasi vaksin.

Prof. Nidom menyoroti efektivitas vaksin-vaksin yang sekarang beredar dan memperbandingkannya dengan Vaksin Nusantara yang digagas oleh Dr Terawan Putranto. Menurut Prof. Nidom Vaksin Nusantara yang direkayasa dari sel dendretik masing-masing orang akan lebih efektif dalam menumbuhkan antibodi untuk menghadapi virus. ‘’Sayangnya Vaksin Nusantara terganjal oleh birokrasi,’’ kata Prof. Nidom.

Padahal, tambah Prof. Nidom, Vaksin Nusantara lebih cocok dengan filosofi local wisdom, karena masing-masing daerah punya mutasi virus yang berbeda-beda. ‘’Vaksin untuk Maluku mungkin beda dengan di Jawa karena jenis virus yang berbeda,’’ kata Prof. Nidom.

Penularan virus sampai sekarang masih tetap tinggi. Meskipun gerakan vaksinasi berlangsung gencar, tapi penularan masih tetap tinggi. Prof. Nidom mempertanyakan apakah klaim ‘’herd immunity’’ di beberapa daerah sudah berdasarkan fakta. Kalau mengukur immunity harus diketahui kemampuan antibodi masing-masing penerima vaksin. ‘’Harus dibedakan antara herd immunity dan herd vaccination,’’ tambahnya.

Supaya tidak terjadi silang sengkarut yang hanya berdasar klaim, Prof Nidom mengusulkan dibentuknya ‘’Dewan Vaksin Nasional’’ yang terdiri dari berbagai pakar. Dewan inilah yang akan bertanggun jawab untuk memastikan efektifitas vaksin. Dewan ini juga akan mengambil keputusan vaksin apa yang layak atau tidak untuk dipakai di Indonesia. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.