SHENZEN-KEMPALAN: China khawatir tentang kestabilan Afghanistan dan kemungkinan hilangnya keamanan yang justru membuat kelompok militan semakin menjadi-jadi. Hal itu lebih dikhawatirkan negara yang dipimpin Xi Jinping itu ketimbang keinginan untuk memanfaatkan sumber daya kekayaan mineral yang ada di negara Asia Tengah itu.
Perebutan kekuasaan mendadak yang dilakukan Taliban membuat China bingung bagaimana harus menghadapi tetangganya itu. Seorang profesor dari Institut Kajian Asia Selatan Universitas Sichuan mengatakan kepada Aljazeera, ialah penting bagi China untuk melihat bagaimana kelompok militan itu akan membawa stabilitas di negara yang hampir dua dekade menghadapi konflik dengan AS.
Menurutnya, langkah paling penting adalah rekonsiliasi politik, sementara pembicaraan mengenai kerja sama ekonomi adalah hal yang terlalu dini. Pada Juli lalu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga bertemu dengan pimpinan Taliban yang menjadi dasar komunikasi di antara dua entitas politik dan pastinya China meminta jaminan keamanan dan kestabilan di negara Asia Tengah itu.
Zhang menambahkan bahwa negaranya ingin situasi di lapangan harus stabil dan melihat perkembangan yang positif.
“Jika Taliban dapat menepati janjinya dan memperbaiki keamanan, tidak memperbolehkan pasukannya melawan negara lain, termasuk China, saya pikir cukup memungkinkan China untuk mempertimbangkan hubungan perekonomian, dalam skala besar,” tutur profesor tersebut seperti yang dikutip Kempalan dari Aljazeera.
Sementara itu, Direktur Program China di Pusat Stimson, Yun Sun mengatakan kecepatan Taliban dalam mengambil alih kekuasaan membuat semua orang terkejut, termasuk China. Menurutnya, semua tergantung pada kebijakan yang diambil Taliban mengenai hubungan perekonomian dengan China selanjutnya. (Aljazeera, reza hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi