KEMPALAN: Kalau Anda keluar dari kompleks Gelora Senayan melewati Hotel Atlet Century, di atas gapura Anda akan baca tulisan ‘’Citius, Altius, Fortius’’, yang artinya ‘’Lebih Cepat, Lebih Tinggi, Lebih Kuat’’. Itu adalah motto Olimpiade yang sudah diterapkan sejak Olimpiade modern dimainkan di Athena, Yunani pada 1896.
Inisiator Olimpiade modern Pierre de Coubertin dari Prancis pada 1894 mengusulkan motto Olimpiade yang abadi hingga kini. Motto ini mewakili semangat Olimpiade untuk membuktikan siapa yang paling cepat, paling tinggi, dan paling kuat. Cabang-cabang olahraga yang dimainkan di Olimpiade dimaksudkan untuk pembuktian siapa yang paling hebat dalam ketiga bidang itu.
Sejak itu, Olimpiade identik dengan persaingan hidup mati antar-attet untuk membuktikan dominasi dan superioritas. Hidup adalah persaingan yang keras, survival of the fittest, siapa yang paling kuat dialah yang bisa lolos menjadi yang paling hebat.
Tetapi, Olimpiade juga menjadi panggung kemanusiaan yang memainkan lakon-lakon kemanusiaan yang mengharukan. Spirit Olimpiade adalah sportivitas, persaudaraan, dan persahabatan. Nilai-nilai peaceful (kedamaian), friendship (persahabatan), excellence (keunggulan), dan respect (penghargaan) menjadi nilai-nilai yang tertanam sebagai bagian dari tradisi Olimpiade.

Itulah yang terjadi di final lompat tinggi pria. Gianmarco Tamberi dari Itali berhadapan dengan Mutaz Essa Barshim dari Qatar, Selasa (3/8). Kisah persaingan dan persahabatan, serta rasa respek di antara kedua atlet itu telah meng-capture imajinasi orang-orang di berbagai penjuru dunia.
Pada nomor final lompat tinggi pria, keduanya persis sama mencapai lompatan setinggi 2.37 meter. Untuk menentukan siapa yang ‘’altius’’, palimg tinggi, untuk menjadi juara dan memenangkan medali emas, kedua atlet itu diberi tiga kali kesempatan memperbaiki. Namun, tiga kai melompat, dua-duanya tidak bisa berhasil melewati mistar 2,39.
Situasi menjadi tegang karena deadlock. Ibarat dalam final sepak bola, pertandingan babak normal sudah berakhir, keadaan masih imbang. Dilanjutkan babak tambahan 2×15 menit, keadaan tidak berubah. Maka, pemenang harus ditentukan melalui adu penalty.
Barshim dan Tamberi menghadapi situasi yang sama. Harus ada pemenang yang ditentukan melalui adu penalti. Keduanya menghadapi babak sudden death. Keduanya diberi kesempatan masing-masing satu kali lompatan untuk menentukan siapa yang menjadi juara.
Barshim sudah siap untuk melompat lagi. Tapi, Tamberi tidak siap, karena pada lompatan terakhir ini cedera, kakinya mengalami dislokasi, ia tidak bisa melompat lagi. Ia memang mempunyai riwayat cedera panjang. Pada Olimpiade sebelumnya di Rio de Janeiro, 2016, kakinya patah pada sebuah lompatan.
Bagi seorang atlet, apalagi atlet lompat tinggi, cedera patah kaki sama dengan kehilangan separoh nyawa. Tamberi nyaris putus asa. Tapi, ia bekerja sangat keras untuk bisa pulih. Satu-satunya yang ia inginkan adalah bertanding kembali di Olimpiade.
Ternyata mimpi dan kerja kerasnya menjadi kenyataan. Sekarang dia berlomba lagi di Olimpiade. Bahkan, tinggal selangkah lagi dia akan menjadi kampiun. Tapi, tiba-tiba trauma cedera itu muncul lagi seperti hantu. Tamberi lemas tanpa asa.
Ini kesempatan bagi Barshim, karena tidak ada saingan sehingga dia bisa meraih emas sendiri. Di luar dugaan, Barshim mendekati panitia pertandingan dan bertanya apakah medali emas bisa diberikan bersama bila tidak tidak melakukan percobaan lompatan terakhir.
Panitia memeriksa aturan dan menyatakan bisa. Barshim pun memutuskan tidak mengambil lompatan terakhir dan memutuskan berbagi emas dengan Tamberi. Dengan demikian medali emas akan dibagi bersama.
Kedua atlet itu bergandengan tangan dan bersorak kegirangan. Kedua atlet itu merupakan sahabat dekat dan memilih membagi kemenangan bersama. Berbagi emas untuk satu nomor adalah yang pertama kalinya dalam Olimpiade sejak 1912. “Saya melihat dia, dia melihat saya, dan kami tahu itu. Kami hanya melihat satu sama lain dan kami tahu, itu saja, sudah selesai. Tidak perlu,” kata Barshim.
“Dia adalah salah satu teman terbaik saya, tidak hanya di trek, tetapi di luar trek. Kami bekerja sama. Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Ini adalah semangat sejati, semangat olahragawan, dan kami di sini menyampaikan pesan ini,” begitu kata Barshim.
Di luar trek mereka menjadi sahabat dekat. Tapi di atas trek mereka bersaing mencapai loncatan tertinggi untuk menunjukkan superioritas dan dominasi. Tapi, persahabatan mengatasi segalanya. Barshim rela berbagi, dan Tamberi seolah mendapatkan hidup yang kedua. “Setelah cedera patah kaki, saya hanya ingin kembali, tetapi sekarang saya memiliki emas ini, itu luar biasa, saya memimpikan ini berkali-kali,” kata Tamberi.
Ketika cedera di Rio, dokter memberi tahu Tamberi bahwa kondisi cederanya parah, dan dia tidak akan bisa melompat kembali. Ternyata, semuanya seperti keajaiban. “Saya diberi tahu pada 2016 di Rio ada risiko saya tidak akan bisa bersaing lagi. Ini adalah perjalanan yang panjang,” kata Tamberi.
Bagi Barshim, emas ini adalah berkah dari ketekunan dan profesionalisme. Ia pernah mendapat medali perunggu, yang kemudian ditingkatkan lagi menjadi perak di Olimpiade London 2012. Dia kembali meraih perak di Rio 2016, dan memenangi dua gelar dunia berturut-turut pada 2017 dan 2019. Kali ini dia menyempurnakan prestasinya dengan emas Olimpiade, yang dia capai dengan penuh martabat.
Kisah ini menginspirasi banyak orang. Hidup bukan hanya untuk berkompetisi, bersaing menjadi yang paling cepat, paling kuat, dan paling tinggi, tapi ada ruang untuk berbagi berdasarkan kemanusiaan dan spirit kebersamaan.
Jangan permasalahkan agama, suku, bangsa, dan negaramu. Tamberi adalah Katolik dan Barshim seorang muslim. Hanya orang-orang picik dan pandir yang mempermasalahkan agama di atas nilai kemanusiaan. Olahraga seharusnya mempersatukan semuanya.

Di Indonesia, euforia dan hysteria Olimpiade itu dirusak oleh orang-orang picik, yang berusaha memecah belah dengan isu agama yang sama sekali tidak relevan dengan olahraga. Unggahan Ade Armando, akademisi UI (Universitas Indonesia) soal agama Anthony Ginting sangat mencederai spirit olahraga.
Anthony Ginting dan Greysia Polii adalah Nasrani, Apriyani Rahayu, Yuli Irawan, Windy Cantika Aisah adalah muslim. Jangan pisahkan mereka dengan isu agama. Mereka adalah anak-anak bangsa yang berjuang untuk kejayaan negaranya, untuk kebanggaan Merah Putih bisa berkibar gagah di arena dunia.
Mereka adalah bukti kebhinekaan Indonesia di pentas internasional. Mereka menjadi duta bangsa yang menunjukkan keanekaragaman Indonesia yang menyatu dalam semangat kebangsaan. Ini seharusnya dirayakan, bukan malah dihancurkan. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi