KEMPALAN: Hidup bukan cuma bersaingan tapi juga berbagi. Citius, Altius, Fortius (lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat) adalah motto Olimpiade. Semua bersaing untuk menjadi yang terbaik.
Tapi, itu tidak berarti saling menghancurkan.
Lihatlah apa yang teejadi di final lompat tinggi pria. Gianmarco Tamberi dari Itali berhadapan dengan Mutaz Essa Barshim dari Qatar.
Keduanya persis sama mencapai lompatan setinggi 2.37 meter. Keduanya diberi tiga kali kesempatan memperbaiki, namun tidak ada yang berhasil melewati ketinggian itu.
Satu kali lagi kesempatan diberikan kepada keduanya tapi Tampberi mengalami cedera kaki serius. Ini kesempatan bagi Barshim karena tidak ada saingan sehingga dia bisa meraih emas sendiri.
Di luar dugaan, Barshim bertanya kepada panitia apakah medali emas bisa bersama diraih bila saya tidak melakukan percobaan terakhir?
Panitia memeriksa dan menyatakan bahwa bisa dan dengan demikian medali emas akan dibagi bersama. Tanpa berpikir panjang, Barshim langsung menyatakan tidak akan mencoba lagi.
Lihat reaksi Tamberi. Hidup bukan cuma bersaing tapi juga bisa berbagi.
Semoga kisah nyata ini menginspirasi kita semua, hidup bukan hanya untuk berkompetisi bersaing menjadi yang paling cepat, paling kuat, dan paling tinggi, tapi ada ruang untuk berbagi berdasarkan kemanusiaan dan spirit Olimpiade.
Jangan permasalahkan agama, suku, bangsa, dan negaramu.
Tampberi adalah Katolik dan Barshim seorang muslim.
Di Indonesia Anthony Ginting dan Greysa Polli adalah Nasrani, Apriani, Yuli Irawan, Windy Cantika adalah muslim. Jangan pisahkan mereka karena agama.
Mereka adalah anak-anak bangsa yang berjuang untuk kejayaan negaranya, untuk kebanggaan Merah Putih bisa berkibar gagah di arena dunia. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi