Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 04:40 WIB
Surabaya
--°C

Unjuk Nyali Annisa

KEMPALAN: Annisa Larasati Pohan lagi dirundung di jagat maya. Gara-garanya, perempuan cantik istri Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) itu keseleo jari. Salah tulis nomor ayat Alquran di cuitannya. Annisa langsung menjadi bulan-bulanan warganet, terutama pasukan buzzer. Petinggi Partai Demokrat pun ikut repot turun tangan memberikan klarifikasi. Namun, banyak juga netizen yang mendukungnya. Bahkan mengatakan, serangan itu adalah ajang “latihan” bagi Annisa sebelum menjadi ibu negara.

Ini bukan kali pertama mantan model dan bintang iklan ini berurusan dengan buzzer atau haters. Berbeda dengan sang suami, AHY yang cenderung berbahasa normatif, Annisa malah sudah berkali-kali mengunggah postingan kontroversial. Ibu satu anak berdarah Sumatera Utara dan Jawa Timur ini kerap mengunggah komentar lugas terkait isu politik terkini tanah air melalui cuitannya. Juga kritik kepada pemerintah.

Alhasil, para simpatisan pembela pemerintah pun keroyokan menyerangnya bahkan dengan komentar-komentar bernada sarkasme. Buah hatinya pun juga jadi olok-olokan.

Namun, di balik wajah cantik, Annisa menunjukkan nyalinya. Secara terang-terangan, alumnus magister manajemen Universitas Indonesia ini menyatakan dirinya sangat siap diserang buzzer. Bahkan secara terbuka, dia menuding para buzzer alias pendengung itu adalah orang-orang yang memang punya pekerjaan menebar racun di dunia maya.

Belum lama ini, Annisa memprotes vaksin berbayar yang diluncurkan pemerintah melalui Kimia Farma. Mewakili suara emak-amak, mantan presenter olahraga ini mengatakan, pemerintah seharusnya menggratiskan dan memudahkan akses seluruh masyarakat terhadap vaksin Covid, bukan malah melakukan komersialisasi.

Dia menyatakan, kalau alasannya untuk mencapai herd immunity, silahkan saja pemerintah menggunakan Kimia Farma. Tapi vaksin haruslah gratis untuk rakyat. Ia berkaca dari pemerintah Amerika Serikat yang memberikan pelayanan vaksinasi Covid-19 di berbagai lokasi, termasuk di apotek. Tinggal datang ke apotek manapun, bahkan milik swasta. Cukup bawa KTP, siapapun bisa vaksin. Gratis, mudah, cepat, dan di mana saja ada. Itu pun juga berlaku untuk warga negara asing termasuk para turis.

Indonesia dianggapnya mengalami kemunduran dengan menjual vaksin kepada rakyatnya. Gara-gara cuitan itu, sang artis pun digeruduk ratusan akun. Namun, entah berkat cuitannya atau tidak, yang jelas pemerintah memang akhirnya membatalkan vaksin berbayar itu.

Tuding Buzzer Islamophobia

Cuitan lugas Annisa juga pernah dilontarkan terkait sebuah film animasi anak berjudul “Nussa”. Sebuah film kartun anak bernuansa islami, yang menceritakan seorang anak laki-laki cerdas dan ambisius bernama Nussa.

Film yang diproduksi The Little Giantz dan Visinema Pictures ini mendapat sambutan luar biasa, bahkan sukses mendapatkan penghargaan pada kategori Film Animasi Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2019. Juga terpilih untuk ditayangkan pada Bucheon International Fantastic Film Festival 2021 di Korea Selatan.

Namun, mungkin karena film itu bernuansa islami, para buzzer justru melontarkan nyinyiran. Bahkan menuduh film itu kearab-araban, dan berbagai komentar negatif lainnya.

Salah satunya adalah pegiat media sosial Eko Kuntadhi, yang menyatakan jika film Nussa justru mempromosikan Taliban dan mempromosikan ke seluruh dunia bahwa Indonesia adalah cabang khilafah. Atau bagian dari kekuasaan Taliban. Dia menuding film kartun animasi anak-anak itu justru promosi yang merusak Indonesia.

Hal ini lah yang membuat Annisa geram. Perempuan kelahiran Boston, Amerika Serikat ini membela film “Nussa” dan dengan kesal memprotes para buzzer yang telah berpikiran negatif terhadap film bernuansa islami itu.

Para pendukungnya pun tidak kalah semangat. Mereka ramai-ramai memprotes Eko Kunthadi dan mengatakan, Eko lah yang merusak Indonesia dengan menyeret sebuah film anak-anak ke wilayah agama.
Apalagi karena Angga Dwimas Sasongko, pemilik rumah produksi Visinema Pictures yang membuat film “Nussa” sendiri, adalah seorang kristiani yang tidak mungkin mempromosikan Taliban.

Annisa bahkan menilai para buzzer yang menuduh film itu mempromosikan Taliban memiliki sikap hidup yang penuh kecurigaan yang tak beralasan. Dan menunjukkan karakter islamophobia. Dia sangat menyayangkan hal itu. Padahal, kata Annisa, para buzzer itu sendiri beragama Islam.

Namun, imbas cuitannya di twitter, Annisa pun banjir kecaman. Influencer dan pegiat medsos Denny Siregar membalas cuitannya dengan “ancaman”, jika Annisa akan baper lagi jika dia “menyentil”nya. Eks politisi Partai Demokrat ikut-ikutan menyindirnya, dengan mengatakan melalui twit, ”Neng…! Fakta-faktanya seperti ini, tapi kamu bicara tentang islamophobia? Coba mulut itu digerakkan setelah mata dan pikiran bekerja lebih dahulu.

Banyak sekali komentar-komentar sarkasme dilayangkan padanya. Bahkan Annisa pun mendapat teguran dari Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta, Taufik Damas. Yang mengatakan tidak ada islamophobia di Indonesia.

Belum lama ini juga, Annisa terlibat “perang” online dengan seleb medsos Denny Siregar (Densi). Densi menyindirnya terkait cuitan Annisa yang mengunggah putrinya, Almira Tunggadewi, yang lebih memilih lockdown dalam penanganan pandemi.

Speech Almira itu adalah sebuah tugas sekolah. Para siswa sekolah diminta memberikan masukan kepada Presiden Jokowi terkait penanganan pandemi Covid 19.

Isi pidato Aira sebenarnya bagus. Bahkan, banyak pihak yang memuji. “The lockdown policy has been practiced in other Countries such as The United States, China, Singapore and many European countries. It has been proven that it helps control and reduce the spread of the virus,” demikian kutipan pidato Aira.

Sehari setelah postingan itu, Densi menyentil di twitter. Cuitan Densi begini: “Bapak udah. Anak udah juga. Sekarang cucu juga dikerahkan. Kalo ada cicit, cicit juga bisa ikutan minta lockdown..,” tulisnya di akun @Dennysiregar7, Minggu (3/5).

Cuitan itu bikin Annisa Pohan panas. Ia bahkan sempat me-mention akun Presiden Jokowi, karena merasa Densy adalah salah satu simpatisan diehard Jokowi. Ia tidak terima anaknya yang masih di bawah umur dijadikan bahan olokan politik. Dia bahkan meminta Densi untuk belajar dulu bahasa Inggris sebelum bicara. Konflik ini pun berbuntut dilaporkannya Densi oleh AHY ke polisi dengan dugaan cyber bullying terhadap anaknya.

Diserang buzzer dari berbagai sisi, tampaknya Annisa tak kapok juga. Dia bahkan dengan blak-blak an mengajak para netizen untuk mengabaikan buzzer yang dinilainya perusak Indonesia. Dia mengatakan, para netizen harap maklum dan jangan sampai kehilangan esensi dari setiap unggahannya hanya gara-gara buzzer dan influencer yang memang pekerjaannya menebar racun.

Konflik Demokrat, “Pemerkosaan” Demokrasi

Aktifnya Annisa di ranah politik juga ditampakkannya saat suaminya, AHY, terjun dalam kontestasi Pilgub DKI Jakarta 2017. Saat itu AHY berpasangan dengan Sylviana Murni. Annisa dilibatkan dalam tim kampanye. Bahkan, putri bungsu mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aulia Pohan yang pernah menjadi penyiar Radio Oz Bandung ini, sering turun langsung kampanye ke berbagai pelosok ibukota. Sendirian, tanpa didampingi AHY.

Saat Partai Demokrat yang diketuai suaminya didera konflik adanya gerakan pengambilalihan kepemimpinan, dengan digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Aceh, Annisa menegaskan posisinya dan tidak memilih diam.

Melalui akun twitter pribadinya, Annisa mengunggah kekesalan hatinya dan protes keras terhadap negara yang dinilainya melakukan pembiaran.

Dalam unggahan tersebut, Annisa Pohan menandaskan bila KLB Demokrat yang digelar di Deli Serdang itu bukanlah hanya sekadar masalah ‘perampokan’ partai, melainkan bentuk dari ‘pemerkosaan’ demokrasi negara.

Dia mengatakan, sebuah partai politik saja bisa diambil haknya secara paksa, dan negara melakukan pembiaran. Apalagi dengan hal rakyat kecil? Siapa yang akan melindungi rakyat kecil?

“Saya sadar, sudah lama keadilan pergi dari negara ini dan tidak pernah kembali,” tuturnya.

Hal tersebut dikatakan Annisa Pohan karena selama ini terlalu banyak masyarakat yang menjadi penonton pasif dan tak ikut membela serta berperan aktif dalam memulangkan keadilan.

“Itu karena kita hanya menjadi penonton pasif, tidak membela keadilan dan tidak ikut berperan aktif ‘memulangkan’ keadilan. Apakah kita akan terus diam?,” kata Annisa.

Di tengah pusaran konflik itu, Annisa bahkan melakukan langkah kontroversial. Dia menitipkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Partai Demokrat yang sah kepada para warganet. Dokumen yang disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM RI itu ia unggah lewat akun twitternya.

“Untuk jaga-jaga mohon teman-teman bantu catat dan save ini AD & ART Partai Demokrat tahun 2020 yang perubahannya disahkan oleh Kemenkumham pada 18 Mei 2020,” tulis Annisa dalam unggahannya.

Annisa sepertinya paham benar politik adalah dunia yang hingar bingar dan kejam. Namun ibu muda pemberani ini memilih untuk tidak diam, dan konsisten dengan sikapnya yang mengizinkan suaminya menanggalkan seragam tentaranya dan terjun ke politik praktis. Dia memilih mengisi akun medsosnya dengan postingan-postingan bermuatan perspektifnya, tidak seperti teman-teman sesama artis dan sosialitanya yang kerap mengunggah kemewahan.

Apakah langkahnya akan sampai ke istana, seperti ibu mertua yang disayanginya? Kita lihat saja….(*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.