PARIS-KEMPALAN: Istilah Burkini merujuk kepada pakaian renang yang menutup semua bagian tubuh kecuali muka, tangan, dan kaki. Jenis pakaian ini dilarang di sejumlah tempat di Prancis karena dianggap berlawanan dengan nilai sekuler negara itu. Akan tetapi para aktivis beranggapan aturan itu justru berakar pada Islamofobia.
Hal ini muncul ke permukaan ketika sejumlah aktivis perempuan Prancis didenda karena memakai Burkini di kolam renang Grenoble. Ketika mereka masuk ke kolam renang, semua orang dievakuasi atas permintaan pihak berwenang.
Pada akhirnya, para aktivis itu dikeluarkan dan tempat tersebut serta dilarang memasuki area kolam renang selama dua bulan.
The Citizen’s Alliance menyatakan di Twitter bahwa tujuh aktivisnya “menuntut hak untuk memilih kostum renang mereka: full coverage, long-sleeve, short-sleeve atau bahkan topless”. Organisasi tersebut mengatakan peraturan saat ini “diskriminatif” dan bersumpah untuk terus berjuang agar dapat mengakses kolam renang.
Sementara, Annabelle Bretton, wakil walikota Grenoble, mengatakan protes dan pemecatan aktivis oleh pihak berwenang telah dilakukan “dengan tenang” dan “tanpa kekerasan”. Namun, para demonstran kemudian bertemu di balai kota Grenoble setelah mereka didenda oleh polisi.
Salah satu pengunjuk rasa kejadian du kolam renang Grenoble, Naima, mengatakan waktu itu adalah pertama kalinya dia mandi di kolam renang umum selama 10 tahun.
“(Kegiatan) itu adalah 20 menit kebahagiaan. Orang-orang bertepuk tangan ketika kami masuk ke air dengan pakaian renang kami yang tertutup,” tambahnya seperti yang dikutip Kempalan dari Arab News.
George Pau-Langevin, Deputi Ombudsmen Nasional menemukan pelarangan pakaian renang sama dengan diskriminasi.
“Karena mereka dirancang untuk mandi, baik keamanan maupun kebersihan para perenang tampaknya tidak terancam,” kata Pau-Langevin. (Euronews/Arab News, reza hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi