
KEMPALAN: Hera mencapai puncak kelelahan saat memasuki tahun ke delapan bekerja di perusahaan Kontraktor yang turut dirintisnya itu. Perusahaannya berkembang pesat dan semakin riuh. Riuh karena banyaknya proyek dan riuh karena banyaknya personel. Pimpinan pusat, memanggil Hera untuk pindah Divisi, karena Divisi sourcing dan Marketing masih kurang personel. Menurut pimpinan supaya Hera tidak jenuh, supaya berganti suasana, dan belajar hal-hal lain. Hera menutut saja sebab Hera sudah berjanji ingin menggodok dirinya di perusahaan itu.
Pimpinan pusat sangat baik kepada Hera satu-satunya orang yang tersisa dari era kepemimpinan pak Acun. Pak Acun keluar, tidak lama kemudian diikuti beberapa manejernya, yang juga resign bukan karena akan bergabung dengan pak Acun. Tetapi karena mulai tidak nyaman dengan kepemimpinan baru yang mendominasi dan arogan. Perusahaan Hera memenangkan Tender Soft Loan G to G bernilai jutaan dollar. Hera diperbantukan untuk mencari barang-barang local content yaitu barang produk dalam negeri berupa peralatan membatik dan sablon manual dan yang masih tradisional. Seperti ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), Alat untuk membatik seperti canthing berbagai ukuran, batik stamp, dan kelengkapannya, sepeti kompor, panci kecil, boiler bak besar untuk merebus dan melorot kain yang telah diwarnai dengan lilin malam, alat sablon dan lain-lain.
Hera diberi tugas mencari sumber barang-barang itu. Pikiran Hera menuju dua kota Batik yaitu kota Solo dan kota Pekalongan. Hera mengusulkan untuk hunting barang- barang tersebut ke kedua kota itu. Dan Hera diminta mengajukan anggaran untuk survei barang. Saatnya Hera bekerja keluar kantor, Hera bukan orang lapangan sebenarnya, karena sejak awal bekerja Hera terbiasa bekerja di belakang meja di depan komputer. Tapi Hera berjanji akan menghayati, apapun pekerjaan yang diberikan oleh owner atau pimpinannya. Hera yakin Tuhan menggerakkan pimpinannya agar menggembleng Hera, dengan jobdesk yang beragam.
Hera dinas ke Solo dan Pekalongan naik kereta, sebelumnya Hera menghubungi saudara sepupunya anak dari adik Bapaknya Hera yang bermukim di Solo yang bekerja di industri batik. Dari saudaranya itulah Hera mendapatkan informasi tentang peralatan perbatikan. Hera juga survey Alat Tenun Bukan Mesin di daerah Klaten. Hera ke kota Pekalongan karena Batik Cap banyak diproduksi di kota itu, sehingga banyak toko yang menjual tembaga Batik stamp alat untuk ngecap. Hera mencatat spesifikasi peralatan dan barang- barang itu secara detail, lalu membandingkan dengan spesifikasi yang tertukis di kontrak, tetnyata banyak yang tidak sama, karena perubahan model yang cepat sehingga model lama sudah tidak produksi kalaupun ada pasti Batik Stampnya bekas dan tetap bisa dipakai.
Hera melaporkan hasil survei barang kepada pimpinan terutama tentang ketidaksamaan spec barang yang tersedia dan spec yang tercantum di kontrak. Masalah ini akan dirapatkan dengan pihak tim teknik di Direktorat Kementerian. Hera sering mondar-mandir rapat di Kementerian yang berada di Jakarta Satan lalu balik ke kantornya yang berada di Jakarta Utara untuk melaporkan hasil pertemuan kepada menejer sourcing dan procurment. Begitulah kegiatan Hera sehari-hari. Hera menjadi banyak mengenal orang- orang kementerian panitia tender, pimpro dan team Teknis.
Pulang malam adalah persoalan tersendiri bagi perempuan, apalagi ibu rumah tangga. Ketika Hera masih mengurusi Administrasi tender Hera juga sering pulang malam lembur di kantor jelas terpantau aman. Tetapi setelah pindah Divisi Hera lebih banyak meeting di Cafe, atau Restoran kadang di lounge. Tidak tentu tergantung orang yang ditemui itu bisanya dimana. Dan biasanya meeting di luar jam kantor itulah repotnya. Uang transportasi Hera dianggarkan Taxi, tapi sering pulang naik ojek bukan ingin cari ngirit atau lebihan, tetapi karena lebih efisien secara waktu. Jika waktu tempuh naik Taxi 1,5 jam maja naik ojek hanya 30 menit busa kurang. Waktu satu jam lumayan sekali bagi Hera, bisa digunakan ketemu anak menunggui belajar dan membantu mengerjakan PR.
Wajah masam Danang suaminya adalah pemandangan rutin bagi Hera setiap pulang malam. Danang erkena PHK 98 , sementara Hera harus jadi tulang punggung keluarga. Suami pasti tidak suka jika istri pulang malam hamper tiap hari. Mungkin juga Danang merasa harga dirinya kalah dibanding Hera. Hera sering membawa kue sisa meeting, Hera tidak malu membawanya sayang kuenya enak-enak. Kadang pizza yang jarang terbeli karena mahal dan sayang uangnya. Anak-anak Hera selalu gembira menyambut buah tangannya setiap pulang kantor. Anak-anak hatinya tulus lepas tidak berprasangka. Justru kalau Hera tidak masuk kerja karena tidak enak badan anaknya yang besar akan protes, kenapa mama nggak kerja? Nggak ada kue dong. Mama cepet sembuh nanti aku minta uang sangu sekolah sama siapa??. Ucapan anak yang sederhana, polos tanpa motivasi. Akan sangat berbeda dengan ucapan orang dewasa atau suami. Dan jika ditanggapi akan panjang dan bisa menimbulkan kegaduhan, dan polemik yang panjang. Danang sebagai suami termasuk kategori sedikit sabar, lebih banyak tidak sabarnya menghadapi persoalan ini. Keberpihakan anak kepada mamanya membuat Danang gampang tersinggung. Sementara Hera memang ingin menyenangkan anaknya dan juga bekerja untuk mendukung ekonomi rumah tangganya.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi