
KEMPALAN: Hera memulai kerja dengan semangat, pagi- pagi sudah rapi dengan sepatu pantofel perempuan ber-hak datar 3 cm. Hera tidak berani bersepatu heels tinggi, karena Hera harus turun naik bis. Semalaman Hera tidak bisa tidur membayangkan hari pertama kerja, dia menyetel alarm pada jam weker jadul, barang yang tersisa di rumah dari perampasan orang- orang jahat yang mengaku benar pasca 65. Jam Rolex, mobil satu-satunya dan barang berharga lain sudah lenyap. Hera naik dari Halte Jl. A Yani, bypass, bis penuh sesak pada jam berangkat kantor, Hera berdiri dan baru dapat tempat duduk di pertengahan perjalanan. Waktu tempuh menuju kantornya, jika lancar hanya 25-30 menit tapi jika macet bisa 1 jam lebih.
Hera datang di kantor paling awal, dia duduk di ruang tunggu dekat resepsionis seperti saat pertama datang. Hera tidak berani langsung masuk. Hera bermaksud menunggu ibu Svet. Tidak lama yang ditunggu pun datang, Hera lalu diajak menuju kantor dan ditunjukkan tempat duduknya sebuah meja dengan komputer di atasnya. Setelah semua karyawan lain datang, ibu Office Manajer atasan langsung para karyawan lokal, memperkenalkan Hera kepada karyawan lain. Ada 3 ekspatriat dari Jerman. Ada 3 Engineer Indonesia, 1 Office Manager, 1 secretary, 1 translator, 1 typist, 1 programmer komputer, 1 drafter, 1 Driver dan 1 OB. Total ada 14 personel jika lengkap, tapi lebih sering tidak lengkap karena para engineer sering site visit ke beberapa lokasi proyek.
Hera baru mengenal komputer tapi Hera yakin pasti bisa, karena di komputer ada perintah-perintahnya. Hera cepat bisa mengoperasikan komputer. Tugas utama Hera mengetik Laporan Progress kemajuan Pekerjaan dari hasil kunjungan ekspatriat dan engineer ke site, tulisan para engineer masih berupa draft dengan tulisan tangan terutama tulisan ekspatriat yang seperti cakar ayam. Hera mengetik laporan progress pekerjaan para kontraktor versi konsultan. Hera juga mengetikkan surat-surat yang dibuat ekspatriat kepada Project Management dan kepada Direktorat atau sebaliknya dari konsultan ke Project Management Office (PMO). Setiap surat masuk yang berbahasa Indonesia harus ditranslate ke dalam bahasa Inggris oleh translator dengan tulisan tangan, lalu diberikan Hera untuk diketik di komputer. Hasil pengetikan Hera beserta draft aslinya, Hera berikan atau letakkan di meja yang memberi order. Tidak jarang dicoret lagi karena salah ketik dari Hera, salah maksud, atau sengaja diubah. Tetapi dengan begitu Hera menjadi paham dan makin membuat lancar dalam mengoperasikan komputer.
Hera sementara menyukai pekerjaan itu, tidak sulit. Suasana di kantor penuh kekeluargaan dan sering bercanda hal-hal yang lucu-lucu membuat Hera sangat terhibur. Ada lagi hal yang sangat menggembirakan hati Hera, mungkin inilah puncak kegembiraan tertinggi yang pernah dia rasakan dalam sejarah hidupnya, yaitu kebahagiaan menerima gaji pertama. Saat itu dunia serasa ikut bergembira. Gaji pertamanya, dia belikan kompor gas untuk ibunya. Hera juga membeli beberapa potong baju kerja, sepatu dan tas.
Di kantor, para cowok teman- teman kerja sering mengganggu Hera dengan candaan yang kadang kelewatan, membuat Hera risih. Pernah Hera diam-diam menulis surat kepada bu Svet atasannya melaporkan tentang ocehan dan candaan yang bagi Hera sudah kelewatan, dan tidak sopan, ada unsur pelecehan. Tapi, bu Svet senyum-senyum saja. Mungkin Hera dianggap aneh, dasar cah ndeso. Jika ingat hal itu Hera senyum-senyum dan menertawai diri sendiri. Akhirnya Hera memilih untuk menyesuaikan. Mungkin hal-hal seperti itu biasa terjadi di lingkungan kantor.
Hera senang dengan pekerjaan yang dijalaninya, target Hera dikantor itu harus tidak lebih dari 2 tahun. Karena Hera ingin menambah wawasannya dengan bekerja di kantor lain. Di kantor pertamanya Hera hanya karyawan kontrak, seperti juga yang lain. Kontrak diperpanjang setiap 6 bulan. Rogge Marine Consulting merupakam kantor Konsultan ADB untuk proyek Insfrastuktur di Indonesia. Dan sesuai peraturan pemerintah Perusahaan Asing diwajibkan memiliki perusahaan local partner dan tenaga kerja lokal. Bagi Hera pengalaman bekerja di kantor konsultan itu sangat berarti banyak ilmu yang diperolehnya terutama soal pengoperasian komputer yang awalnya sangat awam menjadi sangat lancar dan paham, walaupun saat itu program andalannya hanya WS, Lotus dan Dbase. Yang dalam perkembangannya menjadi Words, Excel dan Access.
Sekitar satu setengah tahun, Hera sudah merasa jenuh, monoton dan merasa wawasannya kurang berkembang. Dia juga mendengar bu Svet juga akan pindah karena ada tawaran yang lebih baik dari perusahaan lain. Rencana pindahnya bu Svet ini makin membuat Hera juga ingin lekas pindah. Hera iseng menanyakan kepada Office Manajer perusahaan local partner yang setiap sebulan sekali datang ke kantornya. Hera bertanya kepada Office Manager itu sekiranya butuh tenaga untuk office, Hera siap pindah. Tidak disangka Office Manajer itu merespon dengan serius. Jika benar Hera serius, dipersilahkan datang ke kantornya.
Hera langsung menyambutnya, sesuai targetnya kelak akan membangun usaha sendiri sebelum usia 40 tahun. Maka dia harus banyak belajar di berbagai bidang dan di berbagai situasi dan lingkungan yang berbeda-beda sehingga pengetahuannya akan makin luas untuk beberapa hal. Hera mendatangi kantor konsultan partner dari kantornya itu. Cukup jauh lokasi kantornya di wilayah Jakarta Barat, daerah Kemandoran. Hera harus naik bis, lanjut mikrolet. Dari segi ongkos lebih banyak keluar, dan dari segi gaji juga lebih rendah dari gaji sekarang. Tapi feeling Hera di konsultan yang baru itu Hera akan mendapatkan ilmu pengetahuan baru yang lebih banyak. Hera putuskan untuk resign dari kantor lamanya dan pindah ke kantor barunya. Bu Svet harus nunggu tahapan tes di PT Adiguna Shipyard yang cukup lama. Jadi Hera justru keluar duluan. Hera merasa ada sesuatu dengan bu Svet ini. Kelak Hera akan bercerita soal itu.
Job desk Hera sebenarnya tidak jauh beda, membantu menyiapkan laporan dengan mengetik semua data hasil survei. Bidang pekerjaan yang ditangani oleh Konsultan teknik kantor Hera yang baru, utamanya adalah pekerjaan arsitektural dan pekerjaan survei. Di kantor itu lebih banyak drafter lulusan STM yang mengaplikasikan gambar desain dari para Engineer. Semua karyawan lokal dan kebanyakan orang Jawa. Banyak fresh greduate dari STM ndeso. Di kantor itu disediakan mess bagi para drafter yang ingin tinggal di kantor. Owner perusahaan Biro Konsultan itu bernama Prof Soemardjo, dosen di beberapa universitas negeri dan swasta di Jakarta. Beliau menampung anak- anak fresh greduate STM terutama anak-anak rantau dan anak kurang mampu, yang ingin belajar bekerja dan menggambar teknik. Ada sekitar 20 orang drafter, ada 7 engineer, beberapa teknisi tenaga survey dan 3 staff perempuan, satu resepsionis dua operator komputer yaitu Hera dan satu teman perempuan yang sudah lebih dulu ada.
Dalam hati Hera berkata, ya pantas si Pak Office Manager itu merespon dengan cepat saat Hera menanyakan lowongan. Karena minim tenaga perempuan dan sangat membutuhkan. Di kantor yang baru jam kerjanya bebas, yang penting bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan dan selesai sesuai target. Di kantor yang baru ini Hera selangkah lebih maju walaupun secara pendapatan menurun. Hera diberi tugas mengetik revisi-an RAB yang akan diajukan untuk proposal tender di beberapa Instansi. Hera lebih banyak mengoperasikan Lotus, tidak seperti di kantor pertama yang lebih banyak mengetik dengan WS. Suasana kerja di Biro Konsultan kurang saling kenal . Para drafter yang banyak itu sibuk dengan kerjaannya. Kantor Hera sangat kental nuansa tekniknya, dunianya sangat laki-laki. Hera juga bertugas mengetik data hasil survei yang ditangani oleh Biro konsultannya, utamanya ada tiga jenis survei yaitu survei Hydro Topografi, survei Oseanografi dan Sondir atau uji tanah. Survei tersebut menghasilkan data-data untuk kepentingan pekerjaan Konstruksi. Data-data yang diperoleh dari survei lalu diketik diolah di kantor. Hera menjadi banyak tahu istilah-istilah di bidang teknik sipil, dan tahu nama alat-alat yang untuk dipergunakan untuk survei seperti theodolit tripot, aneka jenis alat ukur meteran, kompas, waterpas, alat-alat geoteknik, manometer, penetrometer, dan lain-lain.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Danang mengabarkan bahwa dia jadi mutasi ke Jakarta, Hera entah mengapa biasa saja. Justru terselip rasa enggan beranjak merubah status. Hera fokus meniti karir dan fokus pada pekerjaannya. Hera bersyukur bahwa Danang tidak memburu-buru dan bisa memahami. Mungkin sama-sama dimaklumi Hera dan Danang belum punya cukup tabungan. Gaji mereka hanya cukup buat transport, dan kebutuhan pribadinya, bisa nabung sedikit dia paksakan itupun sering diambil lagi jika jelang akhir bulan. Hera berpikir uangnya yang sedikit itu akan langsung habis bahkan kurang jika buat menikah. Sementara banyak keinginan dan cita-cita yang ingin Hera wujudkan dalam hidupnya yang di dalam pikirannya akan sulit tercapai jika dia menikah dulu. Tetapi disisi lain Hera juga kasihan, ada rasa tidak enak jika keputusan menikah terus dimundurkan. Menunggu siap sampai kapan? Keinginanan ini itu tidak ada batasnya. Sampai kapanpun kalau Hera ditanya soal pernikahan jawabanya jika jujur pasti belum siap. Jadi Hera harus memaksa dirinya untuk siapapun dan bagaimanapun keadaannya dan caranya.
Hera jadi ingat nasihat mbak kosnya, Mbak Pertiwi, yang berwajah klasik seperti lukisan Monalisa. Dia selalu mengingatkan bahwa manusia sebagai hamba harus percaya dan memiliki keyakinan yang kuat bahwa Tuhan itu hadir, bukan hanya ada. Sehingga tidak ada alasan ragu-ragu dan was-was. Niat baik pasti akan dimudahkan jalannya. Maka selalulah bersyukur Hera. Jadikan dirimu sebagai lantaran karsa Tuhan dan saluran berkat bagi orang lain yang membutuhkanmu. Niatkan pernikahmu karena ibadah, karena rekonsiliasi dan karena kemanusiaan. Begitu nasehat Mbak Pertiwi.
Hera sedikit mendapatkan kekuatan jika merenung-renungkan nasehat mbak Pertiwi. Hera tiba-tiba ingat akan Martono, dan juga mas Bagas. Ingin sekali ia menulis surat untuk mereka. Kali ini harus Hera sempatkan, sudah lama tidak tahu kabarnya. Di lubuk hati Hera terbesit harapan semoga perkenalan yang mendadak dan situasional atas kepanikan Hera saat wisuda, menghasilkan kejadian yang penting bagi keduanya di kemudian hari.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi