Kamis, 30 April 2026, pukul : 01:43 WIB
Surabaya
--°C

Kota Pahlawan yang Miskin Monumen

Catatan: Prof Dr Sam Abede Pareno, MM,MH.

KEMPALAN: Penetapan hari jadi kota Surabaya 31 Mei 1293 berdasar SK Walikota nomor 64/WK/75/18 Maret 1975. Penetapan ini bersumber pada terjadinya pengusiran pasukan Tartar oleh laskar-laskar Raden Wijaya di Ujung Galuh (sekitar Pasar Turi sekarang) pada 31 Mei 1293. Penetapan tersebut boleh dibilang bersifat heroik, bukan ditandai oleh pemukiman awal di kawasan yang pada akhirnya menjadi sebuah kota.

Sebenarnya, ada protes ketika hari jadi Surabaya diumumkan, salah satunya datang dari H.Anwar Idris mantan ketua KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) Jawa Timur. Tokoh yang kini sudah lama almarhum itu mendatangi kantor Mingguan Mahasiswa di Jl Pahlawan Surabaya; alnarhum menyatakan protesnya sambil menyebut bahwa yang betul hari jadi Surabaya adalah ketika Sunan Ampel diberi tanah di Ampel Denta oleh Raja Majapahit Prabu Brawijaya pada sekitar tahun 1418. Namun protes tersebut hilang ditelan bumi.

Peringatan hari jadi Surabaya tetap berlangsung sampai hari ini (31 Mei) yang bernuansa heroisme, bersambung ke pertempuran 10 November 1945 yang membuat Surabaya dijuluki sebagai kota pahlawan.

Baiklah, hari ini kita warga Surabaya Kota Pahlawan memperingati hari jadi kota ini ke-728 tahun.
Kita semua bersyukur, semoga kota ini tetap muda sebagaimana ungkapan “manusia boleh tua tetapi kota harus tetap muda”.

Monumen Suro-buaya dan Monumen Gubernur Suryo

Sayangnya, identitas kepahlawanan tidak melekat pada Surabaya. Hal itu karena kota ini boleh dibilang miskin monumen kepahlawanan. Tak ada monumen Raden Wijaya sebagai “pendiri” kota, justru ada monumen ikan Suro dan Buaya di tepi Kalimas tak jauh dari monumen kapal selam. Tak ada pula monumen Bung Tomo, tokoh pembakar semangat juang arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 November 1945. Untung ada monumen Gubernur Suryo di jl Pemuda Surabaya. Sang gubernur ini juga tokoh peristiwa heroik 10 November 1945.

Seharusnya Surabaya tak boleh miskin monumen kepahlawanan agar bisa tetap menjaga semangat heroisme kepada generasi penerus. Monumen Jenderal Sudirman di jl Yos Sudarso, Monumen Gubernur Suryo di Jl Pemuda, juga Monumen Perjuangan Polisi di jl Raya Darmo, patut ditambah monumen lainnya, misalnya monumen tentang peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Oranye, monumen perjuangan Mas Trip di SMA Santa Maria yang dulu jadi markas Trip, monumen terbunuhnya Mallaby di Jembatan Merah, monumen para pejuang “Gerbong Maut”, dan lain-lain. Sehingga atmosfir heroik merupakan suasana yang membayangi warga Surabaya dan mereka yang berkunjung ke kota ini.
Selamat Hari Jadi ke-728.

Surabaya, 31 Mei 2021.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.