Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 46)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Hera sementara berkonsentrasi pada persiapan KKN, hatinya sudah lega semua orang-orang  penting di mata Hera sudah dipamiti. Satu-satunya orang yang dianggap penting yang tidak bisa dipamiti adalah Danang. Sejak perpisahan terakhirnya di Bandara A. Yani Semarang, Hera hanya rasan-rasan saja. Sebulan setengah sudah berlalu,  tidak ada berita sepotongpun dari Danang. Jujur Hera risau, lebih risau lagi saat dia menerima surat dari adiknya Danang. Adiknya menanyakan apakah Hera sudah menerima  surat atau berita tentang Danang.

Orang tuanya terutama ibunya tentu sangat gundah. Adiknya Danang diminta bapak ibunya agar berkirim surat kepada Hera. Barangkali Hera lebih dulu menerima kabar dari anaknya. Hera pun segera membalas surat adiknya Danang, mengatakan bahwa dia belum ada sedikitpun kabar dari Danang.  Hera juga menyampaikan rasa risaunya tentang keadaan Mas Danang. Surat Hera sengaja melebih-lebihkan tentang kekhawatirannya. Biarlah hal ini menjadi pelajaran bagi orang tua Danang bahwa segala tindakan atau keputusan akan mengandung risiko, dan berdampak bagi orang-orang terdekatnya. Sampai dengan hari H Hera berangkat KKN  belum juga ada surat Danang datang.

Sementara ingatan Hera soal Larso juga masih mengganggu. Larso mempunyai PR besar dari Hera yang membuatnya pusing. Tidak terpikiran sebelumnya bahwa Hera menjawab keinginannya dengan jawaban yang justru memberi pertanyaan.  Tidak langsung menjawab ” iya”. Jadi  keyakinan dan kepercayaan diri Larso selama ini salah. Larso memikirkan dengan berat persoalan ini, hatinya risau. Kenapa Hera ragu sementara Larso optimis. Jika mengingat ketidakpahaman Larso, perasaan Hera menjadi kesal dan aneh.  Sementara intuisi Hera berkata akan ada rintangan dalam hubungannya dengan Larso. Dipihak lain Larso optimis. Tapi sejak Hera menyarankan untuk membicarakan hubungannya dengan kekuarga besarnya, Larso tak urung menjadi khawatir. Ini sangat mengganggu konsentrasi belajarnya. Larso lalu ada ide untuk mencari tahu dari adiknya yang masih SMA, apakah ada omongan dan rasan-rasan di lingkaran keluarga besarnya tentang hububgannya dengan Hera.  Larso lalu berkirim surat kepada adiknya.  Balasan dari adiknya adalah bahwa Ibunya pernah membicarakan itu dan termasuk kepada omnya yang dulu menampungnya di Jogya.. Tentu saja ibunya membicarakan status Hera yang anaknya bu Ratmi. Semua penduduk desa tahu soal itu. Adiknya tidak tahu respon dari omnya dan juga keluarga yang lain, negatif atau positif.Dengan jawaban surat adiknya itu Larso sudah deg-degan. Bagaimna dia harus bersikap, serasa ada duri yabg menganggu dibagian tubuhnya.

*

Hera sudah berada di Desa KKN,  dia mendapatkan desa yang tidak minus. Bersyukur hidupnya tambah berwarna dan mengenal budaya lain tapi masih di propinsi yang sama. Selama ini kehidupan dan budaya yang mengelilingi adalah budaya Jawa tengahan, bukan budaya pesisir. Budaya di Jawa bagian tengah yang Hera anggap lebih maju, kental dengan lantunan gamelan, ada suara dalang memainkan wayang  sayup-sayup terdengar di tengah malam. Atau alunan lagu pop yang mengudara hampir tiap waktu. Berbeda di daerah pesisir, hampir semua masyarakatnya menyukai satu jenis musik,  Dangdut! Tengah malam sayup-sayup terdengar suara musik dangdut dari orang yang punya hajat. Itu yang didengar hampir tiap hari.

Sekolah-sekolah di pesisir utara didominasi sekolah Madrasah. Sekolah SD Negeri hanya ada beberapa dan  muridnya hanya beberapa gelintir. Satu kelas paling banyak 10 siswa. Tetapi pada Sekolah Madrasah siswanya  penuh melimpah ruah.  Dasar pemikiran orang tua di daerah itu, adalah karena jika sekolah Madrasah dapat dua pengetahuan yaitu pengetahuan umum dan pengetahuan agama. Dan, setelah lulus dari Mardrasah Ibtidaiyah ( setingkat SD ) rata-rata dari mereka terutama siswa perempuan, tidak akan melanjutkan sekolah. Hal ini yang membuat Hera sedih. Sepertinya bagi orang tua daerah pesisir, pendidikan  itu cukup bisa baca tulis dan mengaji. Setelah lulus SD mereka akan merantau ke kota Jepara menjadi buruh ukir di workshop pengrajin ukiran Jepara yang menjamur di kota Jepara dan di daerah Tahunan. Hampir semua anak asli Jepara dilahirkan dengan bakat mengukir. Ukiran Jepara terkenal halus dan detail. Anak- anak Jepara sangat terampil mengukir kayu.

Hera tinggal di rumah Kepala Desa, yang tidak jauh dari laut utara Jawa. Di rumah Pak ” Petinggi” sebutan bagi seorang Kepala Desa, petinggi desa. Hera dan timnya berlima, tiga laki-laki dan dua perempuan. Entah dengan pertimbangan apa,  secara aklamasi mereka menunjuk Hera sebagai ketua tim. Mungkin para cowoknya,  maunya santai-santai saja, tidak mau terikat pada kegiatan sosial kemasyarakatan, atau mengambil mata kuliah KKN hanya formalitas agar lulus. Padahal  KNN  bernilai 3 SKS lumayan jika dapat nilai A. Hera tentu mendapat A. Karena Hera berusaha manjing ajur ajer ke dalam budaya masyarakat pesisir, dibanding teman-teman lainnya, yang seperti  gagap karena asli anak kota Semarang.

Pada awal-awal KKN, Hera bekeliling dukuh memperkenalkan anggota timnya di acara arisan dan perkumpulan PKK atau Dasa Wisma. Biasanya ibu- ibu berkumpul dengan membawa bayi dan anaknya, sehingga riuh dan selalu diawali dengan pengajian dan sholawatan. Ada ibu-ibu bersholawat sambil menyusui anaknya. Ada yang sambil nampol nyablek anaknya yang nakal dan usil. Ibu- ibu tidak merasa risih menyusui walaupun ada kaum laki-laki. Hera senyum-senyum saja melihatnya. Hera tidak akan protes atau sok menasehati mengenai kebiasaan ini tapi hanya menyarankan. Allah Maha Mengetahui kerepotan, kesibukan, keterbatasan hambaNya. Hera harus bijak bersikap. Allah sudah Maha segalanya. Tanpa diagung-agungkan Allah sudah maha Agung dan Kuasa. Bagi Hera agenda yang terpenting adalah tentang penyuluhan kebersihan lingkungan, jaga kesehatan dan makanan sehat,  terutama untuk anak-anak balita, dan menekan masalah pernikahan dini. Pola yang mudah dicontek adalah anjuran di dalam 10 program pokok PKK, agar selalu dilaksanakan dengan baik.

Hera cukup terkenal di desa itu, karena paling rajin berkunjung dan mengadakan penyuluhan. Hera sering didampingi putra pak Petinggi bernama Abdullah. Hera jarang ditemani cowok-cowok  anggota timnya karena mereka tidak membawa motor dan mereka anak kota yang  cenderung malas bergaul dengan penduduk desa. Mereka justru sibuk nyambi ngetik skripsinya atau apa saja urusan kuliah lainnya. Mereka eksklusif, kurang menjiwai. Mungkin merasa tidak sama kelas sosialnya, juga mungkin canggung.  Bagi mereka yang penting kalau ada sumbangan ya nyumbang. Untuk terlibat dan bergaul dengan masyarakat di lingkungan baru tidak semua orang mau dan mampu. Tapi bagi Hera tidak masalah, kepekaan hati orang berbeda-beda. Hera tidak berharap nilai mata kuliah KKN nya A. Baginya pengalaman hidup dan kebermanfaatan di lingkungan yang baru lebih berharga dari nilai akademisnya.

Hera dengan Warni teman ceweknya tidur di dipan berkasur. Hera merasa tidak enak, jangan-jangan itu kasur dan dipan tempat tidur pak Petinggi dan ibu. Kadang ada perlakuan bapak-ibu petinggi seperti dilebih-lebihkan. Memang sebelum tim KKN diterjunkan,  semua kepala desa yang akan menerima tim KKN dikumpulkan dan dibriefing di Kantor Kecamatan.  Bagaimana harus bersikap dan memperlakukan para mahasiswa KKN.

Hera tidak kaget atau shock terjun di desa yang tidak ada listrik, dan jika sore sudah mulai gelap gulita. Hera memang sudah siap ingin membaur pada masyarakat desa tanpa merasa risih, walau penampilan Hera sebenarnya lebih kota dari teman yang lainnya. Ingat Hera anak Jakarta , lahir di Ibukota. Tapi sikap kepudulian adalah nature bawaan dari setiap pribadi, ia tidak bisa dipaksakan.

Hera sering meminta antar Abdullah putra pak Petinggi, untuk berkelililng dukuh menghadiri kegiatan ibu-ibu RT. Usia Abdullah lebih muda, baru lulus SMA dan sedang mencari sekolah yang lebih tinggi. Abdullah pemuda rajin, enthengan, ramah dan santun. Issue cepat beredar soal hubungan Hera dan Abdullah.Tapi, Abdullah yang berpikir modern hanya tersenyum jika ada yang menggoda. Abdullah tidak GeEr karena diah sangat hormat kepada Hera. Dan menyadari Hera melihatnya seperti  adik. Abdullah perlu bimbingan dan pandangan, sebaiknya memilih jenjang pendidikan di bidang apa. Hera menasehati agar mengambil kuliah bidang informatika yang sedang trend saat ini. Bapak- Ibu Petinggi sangat suka melihat kedekatan Hera dan Abdullah. Beliau salah sangka. Salah satu kesamaan masyarakat desa yaitu suka bergunjing. Seluruh aparat desa menganggap Hera calon mantunya pak petinggi. Sebenarnya ada untungnya dengan Hera sering mengajak Abdullah berkeliling dukuh, secara tidak langsung Hera membantu mengkampanyekan Abdullah, siapa tahu kelak Abdullah akan mencalonkan diri menjadi petinggi di desanya menggantikan bapaknya.

Kadang jika Hera dibonceng pak Petinggi, bapaknya Abdullah, ke kecamatan,  karena ada acara,  para petinggi desa lain yang bertemu berkomentar.

” Waah kok dibawa bapaknya, bukan anaknya. Jadi yang mana yang benar”

Pak Petinggi bapaknya Abdullah sampai pakewuh, tidak enak, lalu minta maaf kepada Hera. Sejatinya Hera risih mendengar percakapan macam itu, tetapi  Hera belajar memaklumi, lagi pula itu masalah tidak penting. Karena pak Petinggi dan putranya sangat paham dengan sikap Hera sehingga membuat mereka tetap hormat.

Ada yang lebih penting untuk dipikirkan bagi  Hera adalah keberadaan dan nasib Danang. Dimanakah dia, bagaimana keadaannya? Perasaan Hera mengatakan, Danang sangat ingin menulis surat untuk Hera tetapi sulit aksesnya untuk menuju kantor pos. Atau sebenarnya ia ingin menitip surat ke teman kerjanya, yang sedang ke kota Palangka Raya untuk memasukkan surat ke Bis Surat atau ke kantor pos, tetapi tidak sedang tidak ada yang bertugas ke kota. Demikian Hera mengira-ira. Sejak kepergiannya, Hera menghitung sudah 80 hari Danang pergi,  belum kunjung ada beritanya. Tiap malam ia sulit  tidur, memikirkan Danang. Sedang apakah dia, mungkinkah dia sedang menyusur sungai besar naik perahu klotok atau  gethek,  ataukah sedang mendengarkan lagu-lagu Koes Plus kesukaannya.

Sudah satu setengah bulan Hera di desa pesisir, belum pernah Hera sekalipun mendengar musik selain Dangdut, bahkan musik Koes Plus yang legendaris itupun seperti tak dikenal di desa itu. Sayang  sekali di tempat yang indah dekat pantai utara tidak ada teman kuliahnya yang bisa main gitar dan suka musik. Sehingga, ia tidak bisa rengeng-rengeng mengusir kesepian. Satu hal yg membuat hidup tidak begitu hidup bagi Hera adalah saat situasi senggang, saat membutuhkan musik tapi tidak bisa mendengarkan musik yang sesuai selera. Kadang Hera bersenandung bersama Warni temannya menyanyikan lagu-lagu Chrisye atau Ebiet G Ade.

Di desa yang asing itu sebenarnya  Hera ingin sejenak melupakan Danang dan Larso. Sebab selesai KKN, intuisi Hera menyatakan bahwa dia akan menghadapi persoalan besar dan pelik. Tetapi saat sendiri sunyi dan sepi gambaran mereka selalu muncul. Hera akan harus memutuskan salah satu yang akan diterimanya. Hati dan pikirannya pasti akan konflik dalam mengambil keputusan itu.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait