KOLOM

Kisi-kisi Berada di Luar dan di Dalam Kekuasaan, Prof. Mahfud MD Mengajarkan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Ini cuma berandai saja. Dan itu tentang Prof Mahfud MD, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), jika masih menjadi orang “bebas merdeka”. Itu tentu lain ceritanya. Dan tidak perlu tulisan ini dibuat.

Menjadi pembantu Presiden Joko Widodo (Jokowi), itu menjadikan Prof Mahfud jadi pribadi terpenjara, terkunci mulut untuk berbicara yang seharusnya ia berbicara. Dari pribadi kritis, ia memilih menjadi pendiam, atau lebih ekstrem bisa disebut melempem.

Banyak yang ingin mendengar sikapnya berkenaan dengan pemecatan 51 pegawai KPK, tapi ia memilih tidak merespons. Juga sebelumnya saat ditanya sikapnya atas 75 pegawai KPK yang tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dinonjobkan, Prof Mahfud pun tak bergeming.

Maka spekulasi boleh berkembang, bahwa jabatan itu buat Prof Mahfud adalah segala-galanya, bahkan bisa jadi pencarian panjangnya. Lalu didapatnya, maka ia mencoba merawatnya secara baik. Meski dengan konsekuensi ia mesti menutup mata dan telinga, terutama juga mengunci mulut rapat-rapat, agar tidak keluar suara kritis khasnya, sebagaimana saat ia masih diluar kekuasaan.

Maka yang tampak adalah Prof Mahfud yang tidak kritis lagi, abai, cuek melihat ketimpangan hukum dan hak asasi manusia, yang semula jadi konsennya untuk bersikap. Semua jadi mempertanyakan, ada di mana Prof Mahfud sebenarnya berpihak. Memilih sikap diam, itu sudah cukup untuk menilai berada di mana ia sebenarnya.

Suara kekecewaan itu wajar disuarakan banyak pihak, yang memang menaruh harapan dengan keberadaan Prof Mahfud dalam lingkar kekuasaan. Berharap sedikit banyak pastilah ada arahan-arahan darinya agar negeri ini tetap berpijak pada konstitusi. Itu yang selalu diperjuangkannya, tentu saat masih di luar kekuasaan. Jika masyarakat saat ini menagih, itu hal wajar.

Ketampol Mulut Sendiri

Beharap pada Prof Mahfud saat dipilih menjadi Menko Polhukam pada Kabinet Indonesia Maju, adalah hal wajar. Sebab beliaulah yang kritis pada pemerintah, jika itu menyangkut adanya pelanggaran Hukum dan HAM.

Jika publik berpikir, saat diluar bisa mengeritik, maka di dalam kekuasaan ia pastilah tahu cara merubah apa yang tidak semestinya, dan berperan penuh selaku koordinator pada bidang politik, hukum dan keamanan. Tiga aspek terpenting yang ada dalam radarnya.

Jejak digital Prof Mahfud terekam baik, saat sebelum masuk lingkar kekuasaan. Sikapnya kritis saat mengulik sebuah peristiwa, mulai diperhadapkan dengan saat ia ada dalam kekuasaan.

Ada tweet Prof Mahfud (24 Februari 2016), demikian jejak digital yang ditinggalkannya, dan itu bisa dilihat.

“Dalam banyak kasus, orang kritis itu karena tak kebagian saja. Setelah dapat bagian menjadi pendiam dan rakusnya bukan main. Kuat miskin tapi tak kuat kaya.”

Seolah Prof Mahfud jauh hari sudah memberi kisi-kisi melihat perubahan seseorang, sebelum dan sesudah dalam lingkar kekuasaan. Karenanya, jika sebelum ada dalam kekuasaan Prof Mahfud itu pandangan-pandangannya kritis, itu hal wajar.

Jika saat ini, tengah dalam kekuasaan, sikapnya lalu jadi “pendiam”, itu pun hal wajar. Jadi apa yang dikatakan Prof Mahfud dalam tweetnya dulu itu, saat ini dijalaninya persis sebagaimana apa yang ditulisnya itu.

Di tahun 2017, Prof Mahfud pada suatu kesempatan mengatakan, “Bahwa ada pihak-pihak tertentu terkesan mencari-cari kesalahan eks Imam Besar FPI tersebut.” Tentu itu pandangannya saat menjadi freeman, manusia bebas merdeka. Bisa bicara apa saja yang dilihatnya tidak pas.

Setelah “terikat” dalam kekuasaan, sikapnya jadi terbalik 180 derajat. Ia bahkan menjadi orang yang mengumumkan pembubaran Ormas FPI, beserta larangan atas segala kegiatan yang dilakukan oleh Ormas yang didirikan Habib Rizieq Shihab.

Bagaimana mungkin ia yang tadinya mengeluhkan upaya pihak-pihak yang mencari-cari kesalahan Habib Rizieq Shihab, tentu dengan FPI nya, lalu menjadi bagian terstruktur dari para pihak yang memutuskan pembubaran Ormas FPI tanpa proses hukum selayaknya.

Ini yang biasa disebut dengan ketampol mulut sendiri: pada suatu ketika mulut bicara demikian, tapi pada saat lainnya mulut bicara bertolak belakang dengan yang sebelumnya. Semacam terkoreksi akan inkonsistensi apa yang sebelumnya diucapkan/ditulis.

Kekuasaan memang menggiurkan, tapi juga melenakan pada pribadi yang tidak siap memasuki atau berada dalam kekuasaan. Maka pribadi yang tidak kuat itu akan melakukan apa saja yang sebelumnya tidak terpikirkan. Ia akan terus menanam jejaknya yang pada saatnya bisa dibuka sebagai album kenangan amal keburukan.

Tidak persis tahu bungkamnya Prof Mahfud soal kasus 51 pegawai KPK yang dipecat, dan sebelumnya pada 75 pegawai KPK yang dinonjobkan, apakah itu bagian dari strategi agar “album kenangan” tentangnya tidak meninggalkan jejak pernyataan tidak nyaman.

Tapi diamnya Prof Mahfud, itu pun tetap akan tercatat setidaknya sebagai sikap pembiaran atas sebuah peristiwa… Sejarah mencatat semuanya dengan rinci. Wallahu a’lam. (*)

Berita Terkait