KOLOM

Baliho Habib Rizieq yang Dicopoti Penuh Amarah Itu pun Bawa “Berkah”

  • Whatsapp
Pangdam Jaya "perang" menurunkan baliho Habib Rizieq Shihab di seantero DKI Jakarta

KEMPALAN, : Untung atau biasa disebut “berkah”, meski itu penyebutan kurang tepat, bisa datang darimana saja. Bisa didapat dari perjuangan yang berat, bisa pula datang dari hal yang didapat dengan cara sederhana, bahkan remeh temeh.

Tidak ada yang tahu keberuntungan atau “keberkahan” itu datangnya kapan. Atau justru tidak pernah datang meski diharapkan.

Ada yang mengerjakan sesuatu langsung menghasilkan keberuntungan, atau setidaknya dihitung yang bersangkutan sebagai beruntung. Tapi ada pula yang mengerjakan sesuatu tapi hasil keuntungan baru dipetik beberapa bulan kemudian atau bahkan beberapa tahun kemudian.

Terpenting menanam sesuatu, maka pada saatnya akan memanen keberuntungan. Filosofi sederhana.

Dudung Abdurachman, namanya. Sebelum aksinya itu, namanya tidak terlalu tersorot, jika tidak dikatakan bahwa namanya kurang populer. Padahal ia selaku Pangdam Jaya, berpangkat Mayor Jenderal (Mayjen). Namanya justru menjadi terkenal atau bahkan viral, karena aksinya yang heroik.

Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman dan Habib Rizieq Shihab

Aksi heroik yang dilakukan, itu bukan perang melawan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua, tidak karena itu. Menjadi terkenal karena aksinya mencopoti baliho FPI atau Habib Rizieq Shihab. Apa hebatnya aksi mencopoti baliho itu?

Tampaknya aksinya itu aksi remeh temeh, tapi tidak sesimpel itu melihatnya. Aksinya itu penuh perhitungan, meski diri tampak konyol. Dan itu ia pertaruhkan. Tidak cuma pencopotan baliho, tapi juga narasi yang diumbar Mayjen Dudung Abdurachman tampak keras “menantang”, hal yang tidak semestinya bisa keluar dari lisannya.

Misal, tantangan kerasnya pada Habib Rizieq Shihab, “Yang mengganggu persatuan, NKRI, jangan coba-coba di Jakarta, saya hajar itu.” Atau narasi lain yang disampaikannya, “Ini negara hukum, harus taat, masang baliho udah jelas aturannya, ada bayar pajak, dan tempat ditentukan, jangan seenaknya sendiri, seakan dia paling benar, jangan coba-coba pokoknya. Kalau perlu, FPI bubarkan saja itu. Kalau coba-coba dengan TNI, mari,” tantangnya. Tantangan yang sungguh menyelisih TNI hasil reformasi.

Maka aksinya copoti baliho, dan narasi “menekannya” itu pastinya punya nilai plus, nilai tersendiri bagi pengambil kebijakan. Waktu akan menentukan aksinya itu positif buatnya atau sebaliknya. Dan itu tidak menunggu waktu lama, promosi jabatan sebagai Pangkostrad sudah di tangannya

Momen Politis yang Diperhitungkan

Bukan masalah hebat dan tidak hebat aksinya itu. Tapi itu masalah momen yang tepat dilakukannya. Sikap yang meminta anak buahnya untuk mencopoti baliho Habib Rizieq Shihab yang betebaran, khususnya di kawasan sepanjang jalan Petamburan, Jakarta.

Aksinya itu memang memukau, khususnya pada kalangan yang anti pada FPI atau Habib Rizieq Shihab, dan tentu jadi catatan menarik, catatan tersendiri buat atasannya. Terkadang aksi yang tampak biasa-biasa saja, remeh temeh, atau bahkan absurd, itu bisa jadi keberuntungan di kemudian hari.

Itulah setidaknya “berkah” buat Mayjen Dudung Abdurachman dan tentu keluarganya. Entah apa ada hubungan dengan aksi pencopotan baliho itu, ia dipromosikan jabatan sebagai Pangkostrad, jabatan strategis dalam tubuh AD. Setidaknya aksi “heroik” itu lebih memuluskan promosi jabatan. Maka bintang 3 akan disematkan di pundaknya.

Mencopoti baliho Habib Rizieq Shihab ternyata “berkah” tersendiri buatnya, setidaknya itu yang ada di benak publik. Dengan sikap yang ditunjukkan yang anti FPI, dan tentunya anti Habib Rizieq Shihab, dilakukan pada momen yang tepat. Di akhir tahun 2020 itu, seolah seluruh elemen bangsa “dikerahkan” untuk memusuhi FPI, layaknya PKI di era Orba yang haram untuk disebut.

Pada momen itu, Mayjen Dudung Abdurachman hadir mengambil peran yang biasa dikerjakan Satpol PP mencopoti baliho itu. Mengambil peran yang bukan “wilayah” untuk dikerjakannya. Peran yang tampak tidak semestinya diambilnya itu, tapi tentu itu peran penuh perhitungan. Tidak asal-asalan, meski terkesan “ugal-ugalan”.

Terkadang, ilmu mundur ke belakang satu langkah untuk maju dua langkah ke depan, itu jadi manjur jika dilakukan pada momen yang tepat. Dan itu yang dilakukan Mayjen Dudung Abdurachman. Banyak memang yang nyinyir lihat sikapnya itu, yang tampak berlebihan dan dianggap menjatuhkan marwah korpsnya (AD). “Masa perang kok lawan baliho”.

Mayjen Dudung Abdurachman sebentar lagi jadi Pangkostrad, satu jabatan strategis yang akan mengantarkannya menjadi Kastaf AD, menjadi orang nomor satu di Angkatan Darat, tentu jika takdir berpihak padanya.

Jabatan yang bisa didapat itu lebih bersifat politis, bisa diberikan pada siapa saja yang dikehendaki, yang itu lalu diperebutkan dengan kreatifitas masing-masing pihak. Mencopoti baliho itu juga salah satu bentuk kreatifitas yang dihadirkan.

Siapa yang kreatif, atau pandai menggunakan momen yang pas dalam mengambil hati pemegang kebijakan, maka bisa jadi ia akan beruntung pada saatnya. Itu hal biasa, dan berlaku di mana-mana.

Maka suka tidak suka, diakui atau tidak, Habib Rizieq Shihab dengan FPI nya itu memang bawa “berkah” buat Mayjen Dudung Abdurachman untuk karirnya kedepan. Adalah salah meremehkan heroik copot-copot baliho yang dilakukannya itu. Justru itu salah satu jalan nasibnya ditentukan.

Habib Rizieq Shihab, meski lewat balihonya yang dicopoti itu, sejatinya memberi jalan bagi Mayjen Dudung Abdurachman, meski dengan jalan seolah “kepalanya” diberikan untuk diinjak, yang itu jadi “berkah” tersendiri buat pihak lain. (*)

Berita Terkait