Jumat, 1 Mei 2026, pukul : 07:01 WIB
Surabaya
--°C

The Untouchables dan Robohnya KPK

KEMPALAN: Pada 2004 Partai Demokrat yang sedang berada pada puncak kejayaan politik melaunching kampanye anti-korupsi besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, semua elite puncak partai menjadi bintang iklan yang diberi tajuk ‘’Katakan Tidak Pada Korupsi’’.

Ada Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, Angelina Sondakh, Edy Baskoro Yudhoyono, dan Nazarudin. Tidak lupa sang godfather SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) juga muncul sebagai bintang. Para bintang iklan itu menyorongkan telapak tangannya sebagai gestur penolakan, sambil meneriakkan ‘’Tidak’’. Lalu narasi muincul ‘’Katakan Tidak Pada Korupsi’’.

Tapi yang terjadi sungguh ironis. Tidak seberapa lama setelah kampanye massif itu, badai korupsi menghajar Partai Demokrat. Kasus pembangunan kompleks olahraga di Hambalang digerogoti oleh kader-kader Partai Demokrat, dan satu-persatu para bintang iklan itu dicokok KPK.

Anas Urbaningrum yang menjadi episentrum kasus korupsi itu menampik tuduhan dengan beringas. ‘’Kalau saya terbukti korupsi satu rupiah, gantung saya di Monas’’, begitu kata Anas dengan gagah berani. Tapi yang terjadi kemudian pengadilan membuktikan Anas memakai anggaran miliaran rupiah untuk mendanai pencalonannya sebagai ketua umum Partai Demokrat. Anas tidak jadi digantung di Monas karena korupsinya bukan satu rupiah melainkan miliaran.

Satu persatu para bintang iklan itu dikeler ke penjara karena terbukti korupsi. Angelina Sondakh terbukti menerima apel Washington dan harus mengandang ke penjara. Andi Mallarangeng terbukti menyelewengkan anggaran dan harus mengandang juga. Nazarudin sebagai bendahara partai menjadi pemain sentral dalam penggarongan duit rakyat ini. Setelah buron kesana-kemari akhirnya dikandangkan ke penjara juga. Nama Edy Baskoro juga disebut-sebut dalam sidang. Untunglah si anak ragil ini diselamatkan dari bui untuk menghindarkan aib yang lebih besar.

Jargon ‘’Katakan Tidak Pada Korupsi’’ kemudian menjadi olok-olok. Katakan tidak pada korupsi, kalau satu rupiah. Begitu olok-olok yang muncul. Ada juga yang mengatakan katakan tidak pada pemberantasan korupsi. Atau lainnya mengatakan, katakan kapok pada korupsi.

Perintah Jokowi pun tidak diindahkan

Tapi, namanya korupsi selalu saja menggoda. Berat untuk menolak dan mengatakan tidak. Meskipun sudah banyak yang kena tangkap tangan oleh KPK tapi tetap tidak kapok. Rezim SBY bersama Partai Demokrat yang berkuasa ketika itu digeogoti oleh korupsi. Selain kasus Hambalang, kasus penyelewengan dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) bernilai triliunan disebut-sebut mengalir jauh sampai ke pusat kekuasaan. Sampai sekarang kasus BLBI lenyap nyaris tak terdengar.

Sekarang pun fenomena yang sama terjadi lagi. PDIP sebagai the ruling party terperangkap dalam beberapa kasus pusaran korupsi yang tidak berujung. Korupsi bantuan sosial yang menjerat mantan menteri sosial Juliari Batubara ditengarai mirip korupsi BLBI yang mengalir sampai jauh ke pucuk partai penguasa. Ada anggota DPR, ada anak Pak Lurah, ada Madame Bansos, semuanya masih misterius karena ada operasi cover up, penyembunyian yang luar biasa untuk melindungi elite-elite itu.

Sama dengan Partai Demokrat, PDIP sebagai the ruling party sekarang masih menikmati dukungan dari sebagian besar pemilih. Setidaknya begitu yang terlihat dari beberapa survei beberapa waktu belakangan ini. Tapi, begitu Partai Demokrat tidak menjadi ruling party dan SBY harus lengser, Partai Demokrat pun gembos dan terancam menjadi partai duafa yang harus berjuang untuk lolos parliamentary threshold. Hal yang sama bisa saja terjadi pada ruling party mana pun termasuk PDIP.

Meski banyak digerogoti oleh kasus korupsi, PDIP masih berada pada puncak elektabilitas sebagai partai pilihan. Fenomena ini jamak dimana-mana bagi partai pemenang. Tetapi, ada hukum besi politik, the political iron law yang tidak bisa dilawan. Begitu partai tidak berkuasa ia akan menjadi kempes dan ditinggalkan pemilih dan malah bisa disumpahi rakyat.

Sebuah survei terbaru minggu ini malah menunjukkan bahwa PDIP dianggap sebagai partai yang paling bersih dan paling mendukung pemberantasan korupsi. Tentu sangat bisa dipertanyakan lembaga apa yang melakukan survei dan metodologi apa yang dipakai. Mungkin yang dipakai adalah metodologi sungsang ala Ngabalin, sehingga hasilnya juga bisa sungsang atau disungsangkan sesuai order.
Hasil survei itu menjadi paradoks yang kontroversial dengan perkembangan terbaru dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Di internal the ruling party sendiri masih banyak kasus-kasus korupsi yang tersembunyikan secara sistematis. Kasus bansos dicurigai nilainya bisa triliunan. Yang terungkap puluhan miliar sekarang ini hanyalah puncak gunung es. Para elite yang diduga terlibat juga masih tetap menjadi the untouchable yang tidak tersentuh.
Indonesia membutuhkan Eliot Ness si pemburu mafia yang tidak kenal takut yang akhirnya berhasil meringkus Don Corleone mafia nomor satu di Amerika Serikat yang tidak tersentuh hukum.

Eliot Ness di Indonesia ada pada diri Novel Baswedan, Harun Al Rasyid, Yudi Purnomo, dan puluhan pemburu korupsi di KPK yang sekarang terancam digrounded dan dipecat.

Raja mafia dan cecunguknya akhirnya bisa ditangkap

Kisah The Untouchables diangkat dari autobiografi mantan agen penegak hukum federal di Biro Pelarangan, Eliot Ness yang menangkap gembong mafia Al Capone di Chicago. Al Capone saat itu menjalankan usaha ilegal pembuatan bir yang masih dilarang di AS, prostitusi, penyelundupan manusia. Dan untuk melindungi usahanya yang ilegal ini, Al Capone menyuap penegak hukum dan menggelapkan pajak.

Ness menghadapi Kepolisian yang korup dan menghadapi sebagian warga kota yang merupakan orang bayaran. Beuntung, Ness kemudian mendapatkan saran dari polisi senior bijak di kota itu Jimmy Malone, bahwa untuk menyeret gembong mafia Al Capone, dia harus melanggar beberapa peraturan.

Eliot Ness dalam film yang dibesut 1987 ini diperankan oleh Kevin Costner, sementara Al Capone diperankan oleh Robert De Niro, sedangkan polisi senior Jimmy Malone diperankan oleh Sean Connery. Juga ada Andy Garcia dan Charles Martin Smith yang memerankan anggota Ness untuk menyerbu Al Capone. Film ini menjadi salah satu film insipratif mengenai pemberantasan korupsi. Sebagai tontonan film ini sangat menghibur dan berkualitas. Terbukti film ini memenangkan empat penghargaan Oscar. Sebagai inspirasi pemberantasan korupsi, film ini harus diputar secara nasional di seluruh Indonesia untuk memberi semangat kepada seluruh penegak hukum dan masyarakat bahwa korupsi sekuat apa pun pasti bisa dihancurkan.

Para Eliot Ness kita yang ada di KPK sekarang tengah berada di ujung tanduk. KPK sebagai lembaga antirasuah yang dulu berwibawa sekarang tengah terancam akan menjadi lembaga papan nama saja. Pelemahan ini terjadi secara sistematis, dimulai dari revisi Undang-Undang KPK yang mendapat dukungan mutlak dari the ruling party di parlemen. Perlawanan rakyat dan mahasiswa dengan mudah dipatahkan. Upaya untu mencari keadilan ke Mahkamah Konstitusi dengan mudah dimentahkan karena netralitas dan kredibilitas lembaga itu mulai banyak diragukan.
Setelah undang-undang diamankan, maka KPK sudah lebih aman. Tidak ada lagi cicak melawan buaya sampai beberapa episode. Sang cicak sudah diam dan mati karena ditelan oleh buaya. Sisa-sisa perlawanan masih ada. Tapi dengan senjata pamungkas tes wawasan kebangsaan, cicak-cicak itu dibuat tidak berdaya.

Sudah ada upaya dari Presiden Jokowi untuk menyelamatkan para cicak itu. Tapi rupanya upaya presiden ini tidak banyak gunanya. Sudah disampaikan bahwa 75 orang yang tidak lolos tes itu tidak serta merta harus disingkirkan. Tapi para bawahan presiden masih menawar jumlah 75 itu, dan hanya meloloskan 24 orang saja. Sisanya, 51 orang tetap dipecat. Kita bisa membayangkan kekuatan apa di balik operasi ini sehingga perintah seorang presiden masih bisa ditawar dan dimentahkan.

Dalam praktik hirarki kekuasaan apa yang dilakukan bawahan presiden ini adalah insubordinasi menantang kewenangan dan kewibawaan presiden. Sebuah perintah harusnya dilaksanakan tanpa tawar-menawar. Tapi yang terjadi ternyata bukan sekadar tawar-menawar, tapi sebuah persekongkolan yang digarap dengan rapi. Bisa jadi ada dramaturgi di situ. Presiden sudah mengeluarkan perintah dan kewajibannya sudah gugur.
Tapi Eliot Ness tidak akan pernah gugur. Dia akan bangkit bersama rakyat untuk menangkap sang raja mafioso. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.