Rabu, 29 April 2026, pukul : 20:47 WIB
Surabaya
--°C

Sartre dan Foucault, Duo Intelektual Prancis Pendukung Israel

PARIS-KEMPALAN: Edward Said, pemikir juga filsuf asal Palestina pada tahun 1979 berkunjung ke Prancis, menghadiri konferensi Timur Tengah usai pertempuran Mesir dan Israel. Dalam kunjungan tersebut, Said bertemu dengan Sartre, de Beauvoir, dan Foucault.

Pada awalnya ia mengira undangan tersebut hanyalah guyonan, seperti yang dikutip dari London Review of Books tahun 2000. Ia mengira undangan itu berasal dari Cosima dan Richard Wagner atau T. S. Eliot dan Virginia Woolf.

Ketika sampai di Prancis, konferensi tersebut di pindah ke apartemen Foucault untuk alasan “keamanan.” Dalam konferensi itu, de Beauvoir justru bercerita rencana perjalanannya ke Iran bersama Kate Millett dan berencana untuk unjuk rasa melawan penggunaan cadar, sesuatu yang menurut Said adalah hal yang konyol.

Di sisi lain, ia juga bertemu dengan Foucault yang menurut Said, tidak berbicara apapun dengannya berkaitan dengan politik di Timur Tengah. Menurutnya, Foucault seperti itu karena ia mendukung Israel. Ia juga menyampaikan, hubungan Gilles Deleuze dan Foucault pun merenggang karena permasalahan Israel-Palestina kala itu, Deleuze mendukung Palestina, Foucault mendukung Israel.

Sartre yang datang usai de Beauvoir pergi, nampaknya tidak banyak bicara dalam konferensi itu. Ia dikelilingi oleh banyak orang. Namun intelektual eksistensialis itu berpandangan tidak jauh berbeda dengan Foucault.

“Dengan pengecualian Aljazair, keadilan perjuangan orang Arab tidak membekas padanya, dan apakah itu sepenuhnya karena Israel atau karena kurangnya simpati – budaya atau mungkin agama – tidak mungkin bagi saya untuk mengatakannya,” kata Said mengenai Sartre seperti yang dikutip Kempalan dari Open Culture.

Menurut Said, selama hidupnya, Sartre tetap pro-Zionisme. Nampaknya pandangan tersebut muncul karena bisikan dari intelektual muda Prancis pro-Israel yang mengelilinginya.

“Saya rasa kita perlu memahami mengapa orang tua yang hebat cenderung menyerah pada tipu muslihat yang lebih muda, atau pada cengkeraman kepercayaan politik yang tidak dapat dimodifikasi. Itu pemikiran yang mengecewakan, tapi itulah yang terjadi pada Sartre,” tutur Said dalam London Review of Books.

Ia mengatakan bahwa intelektual Prancis itu telah mengecewakan semua pemikir Arab yang mengidolakannya seraya menambahkan, Betrand Russell jauh lebih baik daripada Sartre, karena pada masa senjanya, Russell mengkritik kebijakan Israel terhadap orang Arab. (Open Culture/London Review of Books, reza m hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.