KEMPALAN: Pantai Ancol ada di Jakarta, Sungai Gangga ada di India. Tidak ada hubungan sama sekali. Tapi, kerumunan yang terjadi di Pantai Ancol selama libur lebaran tahun ini disamakan dengan kerumunan di Sungai Gangga dalam festival Kumb Mela April lalu.
Festival ini dianggap sebagai penyebab India mengalami ledakan jumlah kasus Covid 19 terbesar di dunia dengan mencatatkan 300 ribu tertular dalam sehari. India sekarang disebut mengalami tsunami pandemi yang menyebabkan krisis kesehatan yang membuat miris.
Rumah sakit penuh sesak, fasilitas kesehatan seperti oksigen tidak tersedia, korban berjatuhan setiap saat sehingga rumah pembakaran jenazah tidak mampu menampung korban meninggal. Akibatnya jenazah korban Covid 19 dibakar di tempat terbuka dengan kayu seadanya. Ratusan jenazah yang tidak bisa dibakar karena harga kayu bakar yang mahal dilempar ke Sungai Gangga begitu saja.
Krisis tsunami pandemi di India ini menjadi warning bagi otoritas Indonesia sejak April lalu. Para ahli epidemiologi sudah mengingatkan bahwa Indonesia punya potensi untuk mengalami tsunami pandemi seperti India. Fenomena festival agama Kumb Mela yang menjadi super-super spreader penyebaran Covid 19 bisa terjadi di Indonesia selama libur Lebaran Idul Fitri.
Kasus penyebaran baru yang tidak terduga juga terjadi di negara tetangga Singapura. Tanpa diduga-duga, Singapura dalam beberapa hari terkahir ini mengalami kenaikan angka penularan yang signifikan. Pemerintah Singapura pun kembali mengumumkan lockdown nasional. Hal ini memicu kepanikan masyarakat yang kemudian mengalami panic buying dengan memborong bahan makanan untuk disimpan sebagai persiapan lockdown.
Selama ini Singapura termasuk negara yang paling sigap dalam menangani pandemi. Negara ini termasuk yang paling awal dalam melakukan vaksinasi nasional. Januari tahun ini Perdana Menteri Lee Hsien Loong memulai proses vaksinasi terhadap seluruh penduduk Singapura. Dengan manajemen yang professional, Singapura muncul sebagai salah satu negara yang paling sukses dalam menangani pandemi. Tapi, dengan munculnya varian baru yang menular dengan sangat cepat membuat proyek vaksinasi seolah tidak mempunyai arti, dan Singapura harus kembali melakukan lockdown.

Di Amerika Serikat, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang kontroversial beberapa hari terakhir ini. Pusat Pengendalian Penyakit Menular Amerika memperbolehkan semua orang yang sudah divaksin untuk tidak memakai masker ketika berada di tempat terbuka, dan tetap harus bermasker di tempat tertutup. Kebijakan ini menimbulkan kebingungan dan sejumlah negara bagian menolak mengikuti keputusan terbaru ini karena melihat ancaman penularan masih sangat tinggi dengan munculnya varian baru.
Munculnya virus varian baru ini juga menjadi ancaman bagi Indonesia. Apalagi program vaksinasi di Indonesia masih belum separoh jalan. Ditambah dengan adanya momen Lebaran, ancaman penularan varian baru menajadi sangat serius. Kasus tsunami India bisa terjadi setiap saat di Indonesia.
Pemerintah sudah menerapkan larangan mudik untuk menghindari transfer penyakit dari kota ke desa. Tapi larangan itu tidak sepenuhnya efektif mencegah para pemudik. Buktinya masih banyak yang nekat menerobos barikade. Kebobolan terjadi pada beberapa pusat penyekatan utama keluar Jakarta. Ratusan ribu pemudik diperkirakan lolos. Presiden Jokowi sendiri memperkirakan pemudik yang nekat mencapai angka 18 juta orang.
Larangan mudik dan imbauan agar tidak keluar rumah ternyata tidak efektif untuk menahan orang supaya tidak meninggalkan rumah. Keputusan pemerintah untuk tetap membuka tempat wisata membuat masyarakat tergoda untuk keluar rumah menghilangkan suntuk. Tempat-tempat wisata pun penuh dijubeli pengunjung. Pantai Ancol mencatat jumlah pengunjung sampai hampir 50 ribu orang dalam sehari.
Dibanding dengan peserta festival mandi masal di Sungai Gangga, jumlah pengunjung Pantai Ancol terlalu kecil. Mandi masal di festival Kumb Mela diikuti oleh total dua juta orang di sepanjang Sungai Gangga yang membentang melewati beberapa wilayah negara bagian India.
Festival Kumbh Mela adalah festival keagamaan terbesar di dunia dan dilaksanakan selama tiga hari di desa Kumbh di Kota Allahabad, India. Festival ini berlangsung selama delapan minggu dan diikuti oleh jutaan orang yang berkumpul di desa Kumbh. Para peziarah itu datang dari berbagai wilayah di seluruh India untuk mandi pagi sebagai ritual kedamaian dan cinta.

Desa Kumbh yang luasnya 25 kilometer persegi sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas kesehatan untuk menjaga penularan. Tetapi para peziarah tidak ada yang mengindahkan protokol kesehatan. Mereka mandi di sungai tanpa memakai masker dan tidak menjaga jarak. Momen inilah yang diduga menjadi super-super spreader yang menyebabkan tsunami pandemi.
Beberapa pekan lalu, India tampak mampu mengendalikan pandemi. Pada Januari hingga Februari, kasus Covid-19 di negara itu berada di bawah 20.000—relatif rendah di negara dengan penduduk 1,3 miliar orang. Bahkan ketika itu India disebut-sebut hampir mencapai herd immunitiy atau kekebalan kelompok yang dianggap sebagai titik puncak kemenangan menghadapi pandemi.
Tapi, rupanya masyarakat abai. Pada periode itu, perkantoran, pasar tradisional, mal, dan berbagai moda transportasi beroperasi dengan kapasitas penuh. Pesta pernikahan, acara keagamaan, digelar tanpa protokol kesehatan. Puncaknya adalah pelaksanaan festival Kumb Mela itu.
Momen Lebaran di Indonesia bisa saja disamakan dengan rangkaian Kumb Mela di India, meskipun tidak sepenuhnya sama. Kalau mudik tidak dilarang, maka mobilitas manusia yang bergerak dari kota ke desa bisa mencapai 25 juta orang. Pada saat pelaksanaan salat Idul Fitri ratusan juta orang berkumpul pada jam yang nyaris sama di berbagai tempat. Ritual itu dilanjutkan dengan acara halal bihalal dan silaturrahim sampai sebulan selama Syawal. Tempat wisata akan penuh sesak oleh jutaan pengunjung pada hari libur Lebaran.
Kasus kerumunan di lokasi wisata Ancol terjadi karena larangan mudik diberlakukan setengah hati dengan tetap dibukanya lokasi wisata. Ini menjadi risiko yang harus ditanggung akibat kebijakan yang maju mundur. Di satu sisi ingin penularan pandemi berhenti, tapi di sisi lain tetap ingin roda ekonomi berputar. Dua hal yang bertentangan diametral ini tidak bisa dicapai secara bersamaan. Ada uang THR (tunjangan hari raya) yang dibagikan untuk mendorong orang berbelanja. Maka Pasar Tanah Abang pun dijubeli 100 ribu orang, tiga kali lipat dari kapasitas daya tampung pasar. Kerumunan Tanah Abang dan Pantai Ancol ini sudah hampir pasti akan menjadi super-spreader yang akibatnya akan dipanen dalam dua minggu kedepan.
Kasus ini tidak hanya terjadi di DKI. Fenomena yang sama terjadi dalam skala yang lebih kecil di berbagai daerah. Indonesia harus bersiap memanen risiko dari kebijakan yang maju mundur setengah hati. Tidak perlu saling tuding menyalahkan orang lain seperti biasanya.

Pantai Pangandaran, Jawa Barat, juga membludak oleh pengunjung. Ribuan orang berdesak-desakan di sepanjang pantai. Upaya buka tutup akses ke lokasi wisata itu hanya sia-sia. Ribuan orang tidak terkendali, dan sudah hampir pasti Pangandaran juga akan menjadi “another super spreader”.
Di Jakarta, upaya menahan kerumunan dilakukan dengan menutup tempat pemakaman umum bagi peziarah yang biasanya membludak pada hari pertama Lebaran. Maunya mencegah kerumunan tapi yang terjadi malah keos karena peziarah pada melawan. Agak aneh juga kalau TPU ditutup tapi mal dan tempat wisata dibebaskan buka. Ke TPU tentu bukan berwisata. Paling hanya setengah jam orang berdoa dan membersihkan rumput liar di kuburan. Tapi di lokasi wisata orang bisa seharian berkumpul dan berhura-hura.
Tidak perlu saling tuding dan saling menyalahkan. Boleh saja membandingkan Ancol dengan Gangga, meskipun perbandingan itu memaksa. Tapi kalau perbandingan itu dimaksudkan untuk mendiskreditkan seseorang, nanti dulu.
Meskipun sama-sama even agama, tapi Idul Fitri yang setahun sekali tentu tidak sama dengan Kumb Mela yang 12 tahun sekali. Perayaan Idul Fitri menyebar di seluruh negeri, sedangkan Kumb Mela menumpuk di satu lokasi.
Kumb Mela diiikuti oleh orang-orang Hindu militan yang biasanya diasosiasikan dengan Partai Bharatya Janata yang berbasis agama. Partai ini sekarang berkuasa di India di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi. Orang-orang Hindu militan garis kanan ini menjadi penyokong utama Modi.
Idul Fitri di Indonesia dirayakan semua orang yang mengaku Islam, baik dia di kanan, di tengah, maupun di kiri. Yang santri, yang abangan, yang priyayi, yang salatnya setahun sekali, semua ikut merayakan Idul Fitri. Jadi tidak ada alasan mengaitkan Idul Fitri dengan Islam garis kanan seperti mengaitkan Kumb Mela dengan kelompok Hindu garis keras.
Tidak perlu saling tuding mencari alasan untuk melepas tanggung jawab. Kita semua akan menanggung risiko dari kebijakan penanganan pandemi yang amburadul ini. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi