Oleh: Ferry Is Mirza
Wartawan Utama, Pengurus PWI Jawa Timur
KEMPALAN: IEDUL FITRI 1 Syawal selalu hadir menutup ibadah puasa Ramadhan setiap tahun. Sudah barang tentu kita seluruh ummat muslim selalu menyambut dan merayakannya dengan rasa penuh kegembiraan, keceriaan, kebahagiaan dan kesuka citaan.
Namun yang perlu menjadi pertanyaan adalah: sudah benarkah sikap dan cara kita selama ini dalam memaknai, menyambut dan merayakan Iedul Fitri ? Ini yang harus menjadi bahan renungan dan muhasabah (introspeksi atau evaluasi diri) kita setiap saat. Khususnya setiap kali kita berjumpa dengan Iedul Fitri seperti hari ini.
Mari kita tengok sejenak beragam pemaknaan dan penyikapan yang ada di masyarakat kita terhadap hari raya Iedul Fitri. Diantara masyarakat ada yang memelesetkan yang juga biasa disebut hari lebaran menjadi hari bubaran dengan arti: bubar puasanya, bubar pula ke masjidnya, bubar baca Qur’annya, dan seterusnya dan seterusnya. Artinya bubar Ramadhannya berarti bubar pula ketaatannya (?).
Sementara itu banyak kalangan yang memaknai dan memahami hari raya lebaran ini hampir hanya sebagai hari yang identik dengan segala yang serba baru ; baju baru, celana baru, jilbab baru, dan lain-lain yang serba baru. Bahkan ada juga sebagian masyarakat kita yang tidak memahami hari raya Iedul Fitri melainkan sekadar sebagai ajang pesta kembang api dan ‘perang’ bakar petasan !
Itu adalah sekelumit gambaran tentang beragam pemaknaan, penyikapan dan fenomena seputar hari raya Iedul Fitri di masyarakat kita. Tentu masih banyak lagi yang lainnya. Dan tentu saja bukan berarti itu semua salah. Sebagiannya adalah benar, baik, positif dan justru merupakan salah satu sunnah hasanah (kebiasaan baik) yang harus tetap dipertahankan. Seperti kebiasaan silaturrahim –unjung unjung– itu misalnya. Namun jika yang kita pahami dan dapatkan dari Iedul Fitri yang merupakan penutup dan sekaligus pelengkap ibadah Ramadhan, hanyalah yang seperti itu saja, tentu sangat tidak tepat.
Dan dalam kesempatan ini, marilah kita mentadabburi dan merenungkan tentang beberapa hikmah besar di balik momentum syi’ar hari raya Iedul Fitri ini.
▪ Hikmah Kegembiraan dan Kesyukuran
Hikmah pertama yang sangat menonjol dari momen Iedul Fitri adalah hikmah kegembiraan dan kesyukuran. Ya, semua kita bergembira dan bersuka ria saat menyambut Iedul Fitri seperti sekarang ini. Dan memang dibenarkan bahkan disunnahkan kita bergembira, berbahagia dan bersuka cita pada hari ini. Karena makna dari kata ‘Ied itu sendiri adalah hari raya, hari perayaan, hari yang dirayakan. Dan perayaan tentu identik dengan kegembiraan dan kebahagiaan.
Tapi yang perlu menjadi perenungan, introspeksi dan pertanyaan kita adalah: kegembiraan seperti apakah yang harus kita miliki dan tunjukkan pada hari raya fitri seperti saat ini ? Dan jawabannya bahwa, kegembiraan yang harus kita miliki dan rasakan haruslah merupakan kegembiraan syukur kepada Allah yang telah mengkaruniakan taufiq kepada kita untuk bisa mengoptimalkan pengistimewaan Ramadhan dengan amal-amal yang serba istimewa, dalam rangka menggapai taqwa yang istimewa.
Itulah kebembiraan kita sebagai orang beriman: gembira karena ketaatan, kebaikan dan kesalehan.
Dalam sebuah riwayat hadits disebutkan bahwa,
”Barangsiapa bersenang hati dengan amal kebaikannya, dan bersedih hati dengan keburukan yang diperbuatnya, maka berarti dia orang beriman”
(HR Ath-Thabrani).
▪ Hikmah Kefitrahan
Biasa juga dikatakan bahwa, dengan hadirnya Iedul Fitri berarti kita kaum muslimin kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian. Dan itu benar. Karena jika benar-benar dioptimalkan, maka Ramadhan dengan segala amaliah istimewanya adalah salah satu momentum terbaik bagi peleburan dosa dan penghapusan noda yang mengotori hati dan jiwa kita serta membebani diri kita selama ini.
Dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala (dan ridha Allah), maka niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”
(HR.Muttafaq ‘alaih)
Nah, setelah kebersihan diri, kesucian jiwa dan kefitrahan hati itu kita dapatkan kembali, sehingga kita menjadi bak bayi suci yang baru dilahirkan ibunya, atau ibarat lembar kertas putih nan bersih, marilah pada hari raya fitri ini kita tuluskan niat, bulatkan tekad dan kuatkan semangat untuk menjaga kebersihan, kesucian dan kefitrahan itu seterusnya dalam hidup kita.
Taqabbalallahu mina wa minkum. Semoga kita diberi Allah Ta’ala usia barakah, sehat wal afiyaa, bisa bersua Ramadhan-Ramadhan mendatang. Aamiin……. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi