Kamis, 30 April 2026, pukul : 11:00 WIB
Surabaya
--°C

Refleksi Hari Kemenangan dari Pemimpin Oposisi, Momentum Kritik Rezim

MINSK – KEMPALAN: Belarusia turut memperingati 9 Mei sebagai Hari Kemenangan (Victory Day) atas Nazi Jerman pada Perang Dunia Kedua. Victory Day sendiri diperingati di negara lain juga seperti Rusia.

Pada peringatan Hari Kemenangan yang ke-76, Pemimpin Oposisi dan pemimpin Belarusia yang demokratis, Svetlana Tikhanovskaya memberikan pandangannya melalui akun resmi Twitternya mengenai peringatan tersebut.

“Pada 9 Mei, Belarusia merayakan Hari Kemenangan, menandai akhirnya Perang Dunia Kedua,” ujarnya melalui unggahan Twitter-nya.

Ia menambahkan, perang tersebut adalah tragedi besar untuk seluruh orang Belarusia juga dunia. Menurutnya, tidak perlu ada orang mati karena ambisi seseorang. Menakutkan adalah istilah yang ia pakai untuk menggambarkan peperangan dan kekerasan.

“Hampir 80 tahun kemudian, kita dapat melihat bahwa tidak semua orang belajar dari masa lalu,” tambahnya pada Minggu (9/5).

Ia menyampaikan, sejumlah orang menggunakan kekerasan dan teror pemerintah untuk mempertahankan kekuasaannya, beberapa orang menghabiskan uang untuk peringatan dan parade militer, ketimbang mendukung para veteran perang.

“Tapi kita mengetahui bahwa masa depan kita adalah perdamaian,” tutur oposisi Lukashenka itu.

Ia membeberkan, selama sembilan bulan unjuk rasa, 35.000 orang ditahan, 371 lainnya menjadi tahanan politik, ribuan dikriminalisasi dan ribuan lainnya terpaksa melarikan diri dari Belarusia.

“Setahun yang lalu, tidak ada di negara kami yang dapat mengandaikan perubahan semacam itu di Belarusia, dan metamorfosa semacam itu dalam diri orang Belarusia. Kami telah bangun dari 26 tahun tekanan. Kami bangkit mempertahankan martabat, hak asasi, dan masa depan kami. Keamanan kami. Kebebasan kami. Kemerdekaan kami,” tutur simbol oposisi Belarusia itu.

Svetlana juga menjelaskan, ia dan timnya berjuang untuk pahlawan mereka, yakni orang Belarusia yang menghadapi rezim, yang ditekan dan ditahan selama berbulan-bulan.

“Kami berjuang untuk membebaskan dan merehabilitasi seluruh tahanan politik. Kami menginginkan mereka semua pulang, sehingga kami dapat membangun kembali Belarusia,” tutur istri Siarhei Tsikhanouski, blogger yang mendekap di penjara Belarusia.

Svetlana Tsikhanouskaya mendapatkan suaka di Lituania usai melarikan diri dari Belarusia ketika Alexander Lukashenka mengklaim kemenangan dalam pemilu tahun 2020. Semenjak itu, pemerintah Belarusia berusaha untuk mengekstradisi Svetlana, namun tidak mendapat tanggapan positif dari pemerintah negara tetangganya itu.

Ia sendiri telah bertemu sejumlah politisi Eropa dan AS untuk mendukung demokratisasi di Belarusia, salah satunya masuk dalam sesi hearing Kongres AS untuk hak asasi manusia.

Tsikhanouskaya masih terus mendesak dunia internasional untuk memberikan sanksi terhadap Lukashenka bersama rezimnya agar mau turun setelah berkuasa semenjak 1994. Karena masa kekuasaan yang lama ini, Lukashenka mendapatkan julukan “Diktator Terakhir Eropa.” (reza m hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.