Jumat, 1 Mei 2026, pukul : 23:26 WIB
Surabaya
--°C

Jangan Sia-siakan Meraih Lailatul-Qadr

KEMPALAN: Ramadhan sebentar lagi akan meninggalkan kita. Itu pasti. Tidak sampai hitungan sepuluh jari tangan Ramadhan akan pergi nun jauh, dan akan berjumpa setahun kemudian. Tapi tak ada yang bisa memastikan, apakah kita akan menemuinya lagi di tahun akan datang.

Banyak kerabat dan kawan yang tahun kemarin, bahkan dalam Ramadhan tahun ini, tidak sampai memasuki Ramadhan hari ke-20, ia dipanggil oleh-Nya dengan banyak sebab. Kematian memang misteri, cuma Allah ta’ala yang tahu.

Karenanya, para alim sedih dan menangis, jika Ramadhan akan berlalu. Dan selalu menjadikan Ramadhan yang dijalaninya adalah Ramadhan terakhirnya. Rasanya tak ingin berpisah, rasanya ingin terus dibersamai Ramadhan.

Ramadhan bulan meraih kemurahan Allah, baik berupa ampunan atas dosa-dosa hamba-Nya. Dan itu identik dengan pembebasan dari siksa api neraka.

Itulah kemurahan Allah ta’ala yang diberikan pada bulan Ramadhan, yang tidak ditemui di bulan-bulan lainnya. Maka berlomba-lombalah meraih ampunan-Nya, khususnya di sepuluh hari terakhirnya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam telah mencontohkan bagaimana sikap beliau dalam sepuluh hari terakhir dalam Ramadhan. Rasulullah makin kencang dan bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Tak lupa Rasulullah memberi kisi-kisi bagi umatnya, berkenaan dengan datangnya Lailatul-Qadr:

“Carilah malam Lailatul-Qadr di malam ganjil dari sepuluh terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari).

Berdoa dan Zikir

Ada beberapa amalan di sepuluh akhir Ramadhan, guna meraih Lailatul-Qadr, yang bisa disebutkan, diantaranya: memperbanyak membaca al-Qur’an, i’tikaf (ini dilakukan di masjid), memperbanyak shalat malam, memperbanyak doa, dan sebanyak-banyaknya membaca zikir.

Memperbanyak membaca al-Qur’an, maknanya sudah jelas, juga memperbanyak shalat malam. Sedang i’tikaf sudah sedikit disinggung pada materi bahasan sebelumnya. (Lihat, “Menghidupkan Malam-malam Ramadhan di Sepuluh Hari Akhirnya”, 2 Mei).

Karenanya, masalah “memperbanyak doa dan zikir”, ingin sedikit diangkat, meski tidak rinci/ditail.

Berkenaan dengan “memperbanyak doa” di malam-malam sepuluh akhir Ramadhan, itu yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam pada Ummul Mukminin Aisyah, agar berdoa di malam-malam itu.

Lalu Aisyah Radhyallahu Anha bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku ketepatan mendapatkan malam Lailatul-Qadr, apa yang harus aku ucapkan?”

Rasulullah menjawab, “Ucapkanlah, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anna (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku)” (HR Ibnu Majah, yang dishahihkan al-Albani).

Adapun memperbanyak zikir, ini sesuai dengan perintah Allah dalam beberapa Surat, diantaranya Al-Araf, ayat 205, “Hai orang-orang beriman, berzikirlah (dengan menyebut) nama Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.”

Zikir adalah perbuatan yang mudah dilakukan, kapan saja dan di mana saja. Tentunya di tempat-tempat suci. Tapi meski zikir itu mudah, tidak semua bisa menjalankan. Sehingga sebuah hadits membuat perumpamaan pada orang yang suka berzikir dengan yang tidak, dengan perumpamaan cukup menohok.

“Perumpamaan orang-orang berzikir kepada Tuhannya dengan orang-orang yang tidak berzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR Bukhari).

Mari raih Lailatul-Qadr, senyampang kesempatan masih terbuka. Janganlah bermalasan. Semoga Allah mudahkan semua umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, tak terkecuali, untuk
meraihnya. (Ady Amar).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.