JAKARTA-KEMPALAN: Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan dan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (P3TKEBTKE), Kementerian ESDM bekerja sama dengan Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (APROBI) meluncurkan buku berjudul “Biodiesel, Jejak Panjang Sebuah Perjuangan.”
Sekilas buku itu mengilustrasikan mengenai awal masa perjuangan hingga keberhasilan kolaborasi semua pihak dalam menerapkan penggunaan biodiesel sebagai salah satu sumber energi masa depan di Indonesia.
Dadan Kusdiana selaku Plt Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM mengatakan bahwa peluncuran buku ini adalah bentuk apresiasi sekaligus inspirasi dalam pengembangan biodiesel bagi generasi penerus di masa depan.
“Kita akan punya satu dokumentasi baru (buku biodiesel) bagaimana upaya anak bangsa membawa suatu manfaat secara luas di masyarakat. Buku ini emang didesain khusus sebagai apresiasi kepada pihak-pihak yang berkontribusi lebih. Semoga buku ini memberikan inspirasi,” kata Dadan saat peluncuran buku tersebut secara virtual di Jakarta pada Kamis (29/4).
Dadan menambahkan, penyusunan buku dilakukan secara objektif melalui wawancara langsung ke akademisi, peneliti, pemerintah maupun pengusaha yang dirangkum dan disajikan dalam bahasa yang ringan.
“Ide ini berawal dari Pak Paulus (Aprobi) untuk mendokumentasikan informasi biodiesel saat rapat di Badan Litbang ESDM sebelum Covid-19,” ujarnya.
Ia juga menegaskan keberhasilan biodiesel berkembang di Indonesia yang tak bisa dilepaskan dari kegigihan lembaga riset dalam memperjuangkan hasil penelitiannya.
“Selain hasil (riset) litbang, ini juga bukti kemenangan perjuangan society yang bisa membuka jalan,” tutur Dadan.
“Ini hanya berangkat dari keyakinan bersama dan tahapannya dilakukan secara ketat dengan melibatkan tidak hanya litbang pemerintah tapi juga perguruan tinggi. Dan tentu membuat ini mudah juga keterlibatan dari industri,” terang Kepala Balitbang itu.
Dadan juga menyatakan bahwa pemerintah tidak banyak proses pembelajaran sebelumnya dari negara lain dalam menerapkan penggunaan biodiesel, namun pemerintah bersyukur hingga saat ini sudah mampu memanfaatkan biodiesel hingga tahap mandatori B30.
“Awalnya kita merasa B20 saja sudah cukup. Kita sudah hebat banget, tapi arahan Presiden minta lebih dari itu. Mungkin inilah kekuatan dan potensi kita untuk megoptimalkan lagi. Alhamdulillah dari tahun ke tahun kita bisa mendeliver program ini ke masyarakat dengan baik,” jelas Dadan.
Menurutnya, masih banyak peluang untuk menjadi lebih baik dan harus ada keberpihakan rakyat juga rantai bisnis dari petani, koperasi dan korporasi harus terlihat seraya berpesan bahwa pemanfaatan biodiesel harus lebih optimal.
“Masih banyak peluang untuk menjadi lebih baik. Selain spesifikasi dan keberlanjutannya harus lebih baik, harus ada keberpihakan rakyat. Rantai bisnis dari petani, koperasi ke korporasi harus terlihat,” imbuhnya.
Sementara itu, MP Tumanggor selaku ketua umum APROBI menjelaskan, penggunaan kata “perjuangan” dalam buku itu mewakili kegigihan menjadikan biodiesel diakui sebagai sumber energi terbarukan sejak 2008.
“Buku ini sangat penting dibaca dan dipahami bagi generasi muda. Kita ini mampunyai kekayaan alam yang luar biasa, yaitu Kelapa Sawit dan menjadi produsen terbesar di dunia dengan produksi 48 juta ton per tahun,” tuturnya. (Situs Kementerian ESDM, reza m hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi