Rabu, 6 Mei 2026, pukul : 18:59 WIB
Surabaya
--°C

Munarman dan Tumpes Kelor Terorisme

KEMPALAN: Tumpes kelor adalah istilah Jawa untuk menyebut tindakan menghabisi atau membersihkan orang dan kelompoknya sampai ke akar-akarnya. Dalam kisah-kisah konflik di Jawa, tumpes kelor dilakukan terhadap seseorang yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan tapi kemudian kalah dan dihancurkan sampai ke anak keturunannya, yang tidak semuanya berhubungan dengan perlawanan itu. Tumpes kelor dilakukan untuk membersihkan ancaman perlawanan selanjutnya.

Secara etimologi tumpes berarti tumpas, dalam bahasa Indonesia. Kelor adalah Kelor atau merunggai adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Tumbuhan ini dikenal dengan nama lain seperti limaran, moringa, ben-oil, atau drumstick. Dalam pribahasa Indonesia daun kelor yang ukurannya rata-rata 2cm x 4 mm dipergunakan sebagai metafora untuk menggambarkan luasnya dunua melalui ungkapan “dunia tak selebar daun kelor”. Ibu-ibu di Jawa mempergunakan daun kelor untuk sayur bening yang segar.

Bagi para penganut klenik dan mistisisme Jawa kelor dihindari dan dijadikan pantangan karena dianggap punya kekuatan magi yang bisa menghilangkan khasiat jimat tertentu. Wanita atau pria yang memakai susuk untuk kecantikan atau kekuatan akan menghindari pohon kelor, alih-alih memakan sayur bening kelor. Orang yang memegang jimat atau punya rapalan tertentu yang kesulitan saat mau mati dalam sakaratul maut biasanya tubuhnya dilumuri dengan daun kelor atau mengipasi tubuhnya dengan batang daun kelor untuk melepas ilmu magis dan mempermudah sakaratul maut.

Tumpes kelor berkonotasi kekerasan karena menyiratkan pembersihan total semua anak-turun sampai ke akar-akarnya.

Penangkapan mantan sekretaris jenderal FPI, Munarman (27/4) adalah bagian dari operasi tumpes kelor terhadap terorisme di Indonesia. Munarman ditangkap atas sangkaan keterlibatan dalam beberapa aktivitas kelompok teror di Indonesia. Munarman juga disangka menyembunyikan informasi mengenai terorisme di Indonesia. Sangkaan itu, tentu, harus dibuktikan dalam sebuah persidangan yang jujur dan terbuka.
Timing operasi ini tepat berada di puncak situasi ketika Bangsa Indonesia berkabung dan prihatin oleh tenggelamnya KRI Nanggala. Lemahnya sistem pertahanan negara yang tercermin dari minimnya kekuatan alutsista laut menjadi perhatian seluruh dunia. Bangsa Indonesia bangga dengan heroisme para awak kapal yang mendadak menjadi idola nasional. Tapi kemudian muncul kekecewaan kolektif terhadap pemerintah Jokowi yang dianggap tidak memberi prioritas yang cukup bagi pertahanan laut yang sangat vital. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang digadang-gadang menjadi penerus Jokowi juga sama-sama menjadi sasaran kekecewaan.

Protes yang paling satir dan menohok dilakukan oleh sekelompok remaja masjid Jogokariyan, Jogjakarta, yang membuka donasi masyarakat untuk patungan untuk menyumbang pemerintah membeli kapal selam pengganti KRI Nanggala. Gerakan anak-anak ini diberi nama HAMAS, Himpunan Anak-Anak Masjid, yang tidak ada hubungan dengan Hammas di Palestina. Tapi asosiasi nama tidak bisa dihindarkan. HAMAS adalah perlawanan umat Islam terhadap kekuasaan yang dianggap tidak kompeten.
Gerakan yang semula hanya dianggap iseng ini memperoleh amplifikasi nasional setelah Ustad Abdul Somad mendukung gerakan crowd funding ini. Gerakan ini menjadi viral nasional dalam beberapa hari dan bisa menjadi gelombang yang memperburuk citra pemerintah. Gerakan pengumpulan koin untuk Prita Mulyasari pada 2009 bisa mengumpulkan 2,5 ton koin yang nilainya mencapai Rp 1 miliar. Gerakan HAMAS mungkin tidak bisa mengumpulkan USD 400 juta atau sekitar Rp 5 triliun untuk membeli kapal selam sejenis KRI Nanggala. Tetapi, sebagai perlawanan sipil yang diinisiasi oleh masjid gerakan HAMAS ini bisa merugikan citra pemerintah.

Remaja Masjid Jogokariyan mengedarkan kotak donasi pembelian kapal selam

Penangkapan Munarman menghentikan gelombang viral seolah coitus interruptus yang membuyarkan mimpi. Timingnya tepat di tengah puncak gelombang viral dan untuk sementara bisa mengambil alih perhatian trending topic nasional. Penangkapan yang berhubungan dengan kasus terorisme di saat Ramadhan biasanya tidak dianggap tepat. Karena hari besar Islam seperti Ramadan diasosiasikan sebagai hari yang berhubungan dengan jihad dan kesucian. Perang Badar dilakukan pada Ramadhan. Alquran turun pada Ramadan. Semua perbuatan baik dilipatgandakan sepuluh kali pahalanya selama Ramadan. Karena itu Ramadan menjadi simbol penting bagi kalangan jihadis untuk melakukan gerakan. Penyerangan gereja di Makassar dan penyerangan Mabes Polri dilakukan menjelang Ramadan karena keyakinan itu.

Penangkapan Munarman akan diinterpretasikan seperti itu. Oleh kalangan jihadis penangkapan terhadap Munarman bisa saja dianggap sebagai penodaan terhadap bulan suci dan Munarman mendapatkan glorifikasi jihad.

Pengamat terorisme Sidney Jones mengatakan bahwa pemerintah seolah terobsesi untuk mengaitkan FPI dengan terorisme, meskipun bukti-buktinya belum jelas. Penangkapan terhadap Munarman mengkonfirmasi pernyataan Sidney Jones itu.

Penangkapan ini merupakan rangkaian terhadap perang melawan teror di Indonesia yang makin kompleks. Serangan terhadap gereja Makassar dan Mabes Polri disebut sebagai bagian dari gerakan ISIS di Indonesia. Dan perburuan perang melawan teror harus dilakukan dengan cara tumpes kelor sampai ke akarnya.

Perang melawan teror, war on terror, yang diproklamasikan oleh Presiden Amerika Serikat George W. Bush setelah serangan 11 September 2001 adalah perang total tumpes kelor, kamu di pihak saya atau hancur. Dalam pidato di depan sidang pleno Kongres Bush mengatakan, “every nation, in every region, now has a decision to make. Either you are with us, or you are with the terrorists.” Setiap bangsa, di setiap negara sekarang harus mengambil keputusan berpihak kepada kami, atau berpihak kepada teroris. Garis demarkasi sudah ditarik, tidak ada pilihan. Dan operasi tumpes kelor terorisme dilakukan di seluruh dunia dengan komando Amerika Serikat.

Serangan bom di Surabaya, diduga dilakukan anggota ISIS

Usamah bin Laden diburu dan ditumpes kelor. Saddam Hussein musuh bebuyutan warisan dari Presiden George Bush Senior diburu dan ditumpes kelor. Dendam lama warisan keluarga yang belum tuntas dilanjutkan oleh Bush Junior dengan mendompleng anggaran war on terror. Saddam Hussein dituduh menyimpan senjata pemusnah masal, weapon of mass destruction, yang harus dimusnahkan. Saddam terbunuh. Iraq ditundukkan. Tapi tuduhan utama soal senjata pemusnah tidak pernah terbukti. Bush minta maaf, urusan selesai,  dendam warisan sudah terbalaskan, dan dapat bonus menguasai ladang-ladang minyak Iraq yang sangat menguntungkan. Bisnis minyak yang membuat keluarga Bush tajir melintir terjamin keberlangsungannya.

Usamah bin Laden terbunuh. Rezim Saddam Hussein yang sosialistis digulingkan. Tapi Timur Tengah tidak kunjung stabil di bawah pengawasan Amerika. Duapuluh tahun sejak proklamasi perang melawan teror, Timur Tengah tetap bergolak dan tetap menjadi kawah candradimuka yang melahirkan perlawanan baru terhadap Amerika. Tumpas kelor tidak selamanya bisa mematikan kelor sampai ke akar-akarnya. Sepeninggal Usamah bin Laden muncul Ayman Al-Zawahiri sebagai penerus Al-Qaidah. Gerakan perlawanan bermetamorfosis dan berkembang biak. Gerakan eskatologis dan apokaliptis tidak bisa dihabisi begitu saja, karena keyakinan bahwa menjelang hari kiamat akan turun Imam Mahdi akan turun di Damaskus untuk memimpin balatentara Islam untuk menghancurkan Dajjal Si Mata Satu yang direpresantasikan oleh Amerika sebagai penguasa tunggal dunia.

Semakin keras penumpasan dilakukan semakin keras juga respon perlawanan yang muncul. Dari Al-Qaidah kemudian muncul varian yang lebih keras lagi dengan munculnya gerakan negara Islam Iraq, ISIS di bawah komando Abdullah Al-Baghdadi. Sempalan Al-Qaidah ini kemudian memisahkan diri dan mengembangkan pengaruhnya sampai ke Indonesia. Gerakan jihadis Indonesia sekarang terbelah antara sayap ISIS dengan sayap lama Al-Qaidah.

Gerakan Al-Qaidah di Indonesia lebih tertata dan terstruktur dan jaringannya profesional dan militan. Gerakan ini punya pengalaman perang di daerah konflik mulai dari Afghanistan sampai Filipina, juga di Poso dan Ambon. Rekurtmen anggota dilakukan lebih selektif dan jangka panjang sehingga indoktrinasinya matang. Semua gerakan dikoordinasi dan dikomando secara struktural.

Sayap ISIS lebih masif dan terbuka dalam melakukan rekurtmen. Buku-buku terbitan ISIS bisa diakses dengan mudah melalui media sosial. Rekurtmen anggota pun dilakukan terbuka lewat medsos. Gerakannya sporadis melalui sistem sel yang terputus satu dengan lainnya. Karena itu serangan ISIS sering disebut sebagai lone wolf. Satu kelompok dihancurkan akan tumbuh kelompok baru lain dengan mutasi yang berbeda.
Sel Al-Qaidah mungkin sekarang dianggap tidur tapi tidak pernah mati.

Gerakan jihadis tidak mudah ditumpas, karena bermetamorfosa dan bermutasi seperti virus Corona. Tumpes kelor bukan cara ajaib untuk menyelesaikannya. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.