TIRANA-KEMPALAN: Terjebak di apartemen mereka di Tirana di bawah lockdown virus corona, Osman Hoxha yang berusia 81 tahun dan keluarganya diam-diam memulai Ramadhan, teringat era komunis ketika mempraktikkan agama berarti mempertaruhkan nyawa.
Seperti di berbagai belahan dunia, masjid di Albania yang mayoritas Muslim sangat kosong sementara meja makan malam buka puasa memiliki kursi lebih sedikit dari biasanya karena masyarakat berlindung di rumah untuk mengekang penyebaran virus.
Melansir Arab News, bagi generasi yang lebih tua, suasana yang akrab itu pasti membangkitkan ingatan tentang bagaimana mereka dipaksa untuk diam-diam menjaga iman mereka tetap hidup di bawah pemerintahan yang lama dan brutal dari mendiang diktator komunis Enver Hoxha, yang melarang agama.
“Kami harus berdoa di balik tembok rumah kami karena takut berakhir di penjara atau dihukum mati,” kenang Osman, mengenakan topi hitam dan rompi abu-abu, setelah hari pertama berpuasa di rumahnya di Tirana. Beberapa dasawarsa kemudian, negara tersebut menghadapi musuh lain.
“Selama (masa) komunisme, kami harus menjalankan puasa secara diam-diam karena jika seseorang melihat kami, (hal) itu bisa merenggut nyawa kami, sedangkan hari ini kami berisiko mati karena virus yang dapat membunuh Anda,” kata Minire, istri Osman seperti yang dikutip Kempalan dari Arab News.
Enver Hoxha, diktator yang memiliki nama keluarga yang sama dengan keluarga Osman, mengadopsi moto Marxis bahwa agama adalah “candu rakyat” dan menyatakan Albania sebagai negara ateis pertama di dunia pada tahun 1967.
Di bawah 40 tahun masa pemerintahannya, ratusan masjid dan gereja dihancurkan atau diubah, puluhan pendeta dan ulama Muslim dijatuhi hukuman kerja paksa dan banyak lainnya meninggal di penjara atau dibunuh oleh regu tembak.
Secara total, sekitar 6.000 orang dieksekusi oleh rezim paranoid atas tuduhan kejahatan mulai dari pengkhianatan hingga perjalanan ke luar negeri atau menjalankan agama. Puluhan ribu lainnya dikirim ke penjara atau kamp konsentrasi untuk kerja paksa atau penahanan, di antaranya adalah Osman.
Sebagai seorang pemuda di tahun 1960-an, dia dipaksa untuk bekerja di tambang batu setelah saudaranya melarikan diri dari negara tersebut, menimbulkan kecurigaan pada seluruh kerabatnya. Namun keluarga tersebut tetap memelihara iman mereka, mempraktikkan Islam secara rahasia sampai rumah ibadah dapat dibuka kembali pada tahun 1990, tepat sebelum komunisme runtuh.
Negara ini telah mengalami kebangkitan agama. Lebih dari setengah dari 2,8 juta penduduk mengidentifikasi sebagai Muslim, sebagian besar dari kelompok moderat, sementara sekitar 30 persen adalah Katolik dan Kristen Ortodoks.
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, keluarga Osman telah merayakan jamuan buka puasa bersama sekitar 20 orang di meja makan mereka. Pada tahun 2020 kemarin, hanya ada tujuh orang, di antaranya sang kakek-nenek, anak mereka, Agron bersama istri dan anak-anaknya.
“Saya berharap meja ini besar dan rumah saya bisa penuh dengan teman dan kerabat,” kata Minire saat dia menyiapkan makan malam dengan menantu perempuannya, Rezarta seraya menambahkan bahwa puasa di rumah lebih sulit karena pikiran dipenuhi dengan makanan. Usai buka puasa, Osman memimpin putranya dan dua cucunya, yang berusia 11 dan 13 tahun, berdoa di ruang tamu.
Teknologi baru, bagaimanapun, meredakan kesepian. Sebelum makan, keluarga Osman mengeluarkan ponsel untuk berbicara dengan kerabat mereka yang lain melalui obrolan video.
“Berkat teknologi dan jejaring sosial, secara virtual kami semakin dekat dengan teman-teman kami,” kata Agron. Ibunya pun menambahkan bahwa hal yang paling penting adalah menjaga diri agar tetap sehat. (Arab News, rez)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi