SURABAYA – KEMPALAN: Polemik tentang Terorisme dan Agama terus menjadi perbincangan pasca terorisme yang terjadi di Makassar pada Minggu (28/3). Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) berinisiatif untuk mengadakan webinar Forum Studi Agama-Agama ke-25 dengan topik “Zen untuk Para Teroris Bernafaskan Agama”
Webinar yang diadakan pada hari Sabtu (3/4) pukul 16.00 secara daring di Zoom, diisi oleh Dr. Reza A.A. Watimena selaku peneliti bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu, dan Kebijaksanaan Timur, didampingi oleh Dr. Budhy Munawar Rachman yang merupakan dosen STF Driyarkara Jakarta. Webinar ini menjadi wadah bagi yang berpolemik dalam tindakan terorisme yang dihubungkan dengan agama.
Webinar dimulai dari penjelasan dari Rezza Watimena tentang pengertian terorisme. Reza mengatakan bahwa terorisme merupakan tindakan yang menyebabkan rasa takut ke masyarakat dan memecah belah serta saling menyalahkan latar belakang pelaku.
Reza juga mengutip dari Noam Chomsky bahwa teroris memiliki motif yang politis. Hal ini ditandai dengan AS yang pasca Perang Dingin yang dinilai tidak memiliki musuh. Para kelompok teroris yang berlatar belakang agama kemudian menyerang AS pada awal abad ke-21.
Reza menambahkan bahwa akar masalah terorisme adalah pola pendidikan yang salah, narsis dan megalomaniak, serta identitas sempit dan tertutup.
Zen, yang merupakan dasar filsafat sebelum agama merupakan bentuk spiritualitas yang paling sederhana. Reza menuturkan bahwa dasar dari Zen adalah kesadaran dan keterbukaan yang mengarah kepada kebahagiaan.
Beliau juga menjelaskan bahwa manusia itu seharusnya tercerahkan dari realitas dan kesadaran yang sudah ada dan selalu hidup dalam kesadaran. “Zen mencoba untuk menjelaskan tentang siapa saya sebenarnya,” kata Reza.

Terorisme yang dilakukan oleh latar belakang agama biasanya terjadi karena mengharapkan surga. Namun menurut Zen, hal ini adalah yang kurang tepat karena tidak mengarah kepada pencerahan akan kesadaran fanatisme.
Menurut Reza, Zen dirasa perlu untuk para pelaku terorisme karena ada empat poin utama yang bisa mencerahkan seperti dekonstruksi identitas, menerapkan identitas seluas semesta, kedamaian batin atau state of mind tentang surga yang sebenarnya, dan yang terakhir adalah melakukan pendekatan makro untuk pencerahan
Di sisi lain, Budi Munawar Rachman menjelaskan lebih mendalam mengenai filosofi Zen. Beliau mengatakan, “Zen adalah salah satu cabang Buddhisme yang kembali kepada concern pemikiran Buddha awal, yang anti terhadap proses intelektualisasi, dengan menekankan pencerahan.”
Budi Munawar menambahkan bahwa Zen sebagai pencerahan atas solusi dan bisa dikatakan sebagai sesuatu yang lebih dari baik dan buruk. Budi juga menegaskan bahwa pekerjaan yang dilakukan setelah pencerahan akan mendapatkan hikmah yang mana bisa membuat manusia kagum terhadap hidup sehari-hari tanpa melakukan teror.
Pusat dari pencerahan yang dimaksud dalam Zen ini mampu didapatkan setelah adanya meditasi yang memusatkan pusat pencarian kepada kebahagiaan dan kedamaian abadi. Budi menambahkan bahwa inti dari ajaran Zen adalah harus siap untuk melepaskan konsep dan gagasan yang paling bagus sekalipun.
Webinar berlangsung dengan cukup interaktif dengan banyak tanya jawab baik di forum dan kolom chat membahas tentang pendalaman Zen dalam konteks kehidupan sehari-hari. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 66 peserta. Agenda webinar ini diakhiri dengan kesimpulan dari moderator pada pukul 17.50 sore. (Belva Dzaky Aulia)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi