Senin, 25 Mei 2026, pukul : 10:32 WIB
Surabaya
--°C

Portugal dan Masa Lalu Penjajahan yang Rasis

LISBON-KEMPALAN: Kelompok hak asasi manusia Eropa mengatakan pada hari Rabu (24/3) bahwa Portugal harus menghadapi masa lalu penjajahan dan perannya dalam perdagangan budak trans-atlantik guna membantu melawan rasisme dan diskriminasi di negara itu pada masa kini.

Komentar oleh Majelis Eropa muncul ketika perdebatan mengenai Portugal mengenai bagaimana cara untuk mengingat sejarahnya diangkat pada akhir-akhir ini ketika negara tersebut bersiap-siap untuk membuka tugu peringatan pertamanya bagi para korban perbudakan di Lisbon. Monumen itu – deretan tebu yang dicat hitam – dirancang oleh seniman Angola, Kiluanji Kia Henda, dan didanai oleh dewan Lisbon. Benda itu akan berdiri di tengah kota.

Dari abad ke-15 hingga ke-19, kapal-kapal Portugis membawa hampir enam juta orang Afrika yang diperbudak melintasi Atlantik, lebih banyak daripada negara lain mana pun, mereka bahkan pernah berseteru dengan Aceh untuk dominasi atas Selat Malaka, perseteruan yang membuat Aceh meminta pertolongan kepada Kesultanan Utsmani, tetapi hingga kini Portugal jarang mengomentari tindakannya di masa lalu dan hanya sedikit yang diajarkan tentang perannya dalam perbudakan di sekolah.

BACA JUGA  Iran Tolak Ultimatum Trump soal Uranium, Teheran Pilih Perang Lawan Israel dan AS

Sebaliknya, era penjajahan Portugal, yang melihat negara-negara termasuk Angola, Mozambik, Brasil, Tanjung Verde, dan Timor Leste, serta sebagian India, yang tunduk pada kekuasaan Portugis, sering dianggap sebagai sumber kebanggaan.

“Upaya lebih lanjut diperlukan bagi Portugal untuk menerima pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu untuk mengatasi bias rasis terhadap orang-orang keturunan Afrika yang diwarisi dari masa lalu kolonial dan perdagangan budak bersejarah,” kata Majelis Eropa dalam laporan tahunannya tentang Portugal yang dikutip Kempalan dari Aljazeer. Mereka juga mendesak pemerintah Portugal untuk memikirkan kembali bagaimana mereka mengajarkan sejarah kolonialnya.

Rosa Monteiro selaku Menteri Negara Urusan Kesetaraan mengatakan bahwa komplain mengenai diskriminasi rasial meningkat sebanyak 50% menjadi 655 di tahun 2020, meskipun angka tersebut kemungkinan besar masih jauh di bawah insiden rasisme yang nyata.

BACA JUGA  Iran Tolak Ultimatum Trump soal Uranium, Teheran Pilih Perang Lawan Israel dan AS

“Narasi sejarah kami seperti luka yang sangat serius yang belum ditangani dengan baik. Dan untuk menyembuhkannya, kami harus membicarakan tentang apa yang terjadi, ”kata Monteiro kepada Reuters yang dikutip oleh Aljazeera, seraya menambahkan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan rencana nasional untuk memerangi rasisme.

Melansir Reuters, Majelis Eropa juga menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya retorika rasis dalam wacana politik, dengan memilih partai sayap kanan Chega yang mana satu-satunya anggota Parlemennya, Andre Ventura telah membuat pernyataan yang menghina di publik terhadap etnis minoritas.

Adapun Mamadou Ba, aktivis anti-rasisme mengatakan bahwa mereka tidak berusaha menulis kembali sejarah, namun sejarah yang ada belumlah cukup. Ia menyatakan bahwa Portugal membutuhkan sejarah yang mewakili keseluruhannya. (Aljazeera/Reuters, rez)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.