RAMALLAH-KEMPALAN: Pada minggu lalu, Hamas yang tidak memiliki perwakilan perempuan selama beberapa dasawarsa, untuk pertama kalinya memilih seorang perempuan untuk duduk sebagai perwakilan dalam biro politiknya.
Jamila Al-Shanti, namanya. Ia sebelumnya pernah menjadi menteri dan anggota Dewan Legislatif Palestina, dan tidak dikira akan diberi posisi kepemimpinan, namun memungkinkan ia diberi tugas untuk memberdayakan perempuan di masyarakat Palestina.
Dalam sebuah interview dengan Sputnik, Jamila menyampaikan bahwa dirinya senang dengan penunjukannya dan hal itu menunjukkan bahwa gerakan tersebut mengadopsi orientasi yang lebih liberal.
“[Langkah ini menunjukkan bahwa] Hamas telah mengambil arah baru. [Langkah] ini menunjukkan bahwa mereka percaya pada hak-hak perempuan dan kemampuan mereka untuk memenuhi diri mereka sendiri bahkan di dalam tempat-tempat sensitif seperti kepemimpinan organisasi,” ujarnya kepada Sputnik yang dikutip oleh Kempalan.
Warga Palestina juga akan melakukan pemilihan umum tiga kali tahun ini. Pada 22 Mei mendatang mereka akan menggelar pemilihan legislatif. Pada 31 Juli, akan ada pemilihan presiden di Palestina, dan sebulan kemudian akan ada pemilihan perwakilan Dewan Nasional Palestina.
Penunjukan Al-Shanti mungkin bersifat taktis, diarahkan untuk menunjukkan bahwa Hamas mengadopsi ide-ide yang lebih liberal. Namun di Israel, yang memantau perkembangan gerakan Islam dengan cermat, timbul keraguan yang tinggi tentang apakah seorang wanita di biro politik kelompok tersebut merupakan tanda dari kecenderungan yang berubah.
Hamas sendiri masih bertujuan untuk membentuk negara Palestina yang independen di seluruh wilayah Israel, tanpa negosiasi apapun. Mereka masih menggunakan jihad untuk mencapai tujuan itu dan percaya bahwa perlawanan bersenjata harus tetap ada hingga Israel lenyap sepenuhnya.
Al-Shanti melihat situasinya secara berbeda, namun setuju dengan gerakan yang dia wakili dalam percaya bahwa perjuangan bersenjata adalah respons alami terhadap perilaku Israel.
“Rakyat Palestina, baik itu Hamas, Fatah, Islamic Jihad, atau faksi lainnya, mendukung pendekatan liberal dan merangkul keinginan untuk hidup damai. Tapi, seperti rakyat Palestina lainnya, saya mendukung perjuangan bersenjata karena musuh kami melanggar hak kami dan berperang melawan kami,” tambahnya.
Sementara pandangan Al-Shanti sesuai dengan ideologi Hamas, dia tidak diharapkan untuk bertanggung jawab atas posisi sensitif apa pun, termasuk aktivitas militer atau ekonomi Jalur Gaza, bidang yang secara tradisional diperuntukkan bagi laki-laki.
Dia juga tidak memainkan peran dalam keputusan besar apa pun, termasuk perang melawan Israel, dan menurut pembicaraan dengan para ahli yang berbasis di Gaza, kemungkinan Al-Shanti akan diberi peran berskala relatif rendah, seperti memberdayakan wanita dalam masyarakat Palestina.
Tidak peduli apa peran itu, Al-Shanti mengatakan dia siap untuk tantangan itu. Jamila juga berjanji bahwa dirinya akan bertanggung jawab atas posisi apapun yang ditugaskan kepadanya.
“Gerakan Islam yang didirikan sekitar tiga dasawarsa lalu telah berkembang pesat. Ia memperoleh pengalaman yang luar biasa dalam politik, ekonomi dan militer dan sekarang wajar jika ia menambahkan aspek sosial ke dalamnya dan memasukkan perempuan, yang telah berdiri di samping pria selama masa perang dan perdamaian,” tuturnya.
“Sebagai gerakan perempuan (Palestina), kami belum secara resmi berada di biro politik Hamas sebelumnya, tetapi kami telah berpartisipasi dalam organisasi dan pengambilan keputusan selama periode sebelumnya,” kata al-Shanti seperti yang dikutip Kempalan dari Palestine Chronicle.
Ia juga menambahkan bahwa penunjukannya berarti perempuan Palestina memiliki identitas dan kekuatan yang dapat diekspresikan secara langsung pada agenda politik Palestina, dan keterlibatan efektif mereka yang membuat perempuan berhak mendapatkan posisi manapun.
Pejabat senior Hamas Suheil Al-Hindi dikutip mengatakan bahwa terpilihnya al-Shanti oleh pejabat dan anggota gerakan adalah bukti fakta bahwa “gerakan Hamas menghormati wanita Palestina, perjuangan, kepahlawanan, dan pengorbanan mereka.”
Menurut Israel Hayom, perwakilan perempuan lainnya, Fatman Sharab, terpilih menjadi Kepala gerakan wanita Hamas. Meskipun ini adalah peran senior dalam kelompok tersebut, Sharab tidak akan menjadi bagian dari Politbiro. (Sputnik/Palestine Chronicle/Israel Hayom, rez)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi