Oposisi Belarusia Dihukum 15 Tahun Penjara
MINSK-KEMPALAN: Penulis Blog di Belarusia, Syarhey Tsikhanouski yang ditahan semenjak sebelum sidang semenjak Mei 2020 telah diputuskan oleh Pengadilan Belarusia 15 tahun penjara setelah ia menyampaikan bahwa dirinya berkenan mengambil peran dalam pemilu Agustus 2020 melawan Presiden Belarusia, Alexander Lukashenka.
Badan Investigasi Belarusia pada Kamis (11/3) menyampaikan bahwa penyelidikan terhadap Tsikhanouski telah usai.
Menurut keputusan pengadilan, ia didakwa mengorganisir kekacauan, mengganggu aktivitas Komisi Pemilihan Pusat Belarusia, dan mengorganisir aktivitas yang mengganggu ketertiban umum.
Oposisi Presiden Belarusia itu adalah pengampu kanal Youtube The Country for Life yang menantang pihak berwenang Belarusia ketik ia mengumumkan bahwa dirinya maju presiden Belarusia melawan Alexander Lukashenka.
Usai pencalonan Tsikhanouski yang ditolak oleh pejabat pemilu, ia ditangkap pada Mei 2020. Sejak itu ditahan menunggu persidangan.
Istrinya, Svetlana Tikhanovskaya mengambil alih kampanyenya dan maju sebagai calon presiden menggantikan Tsikhanouski yang sedang ditahan.
Hasil pemilu yang memenangkan Lukashenka lagi telah memicu demonstrasi besar di Belarusia dan ditolak oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat yang dianggap palsu, hal ini ditanggapi Lukashenka dengan mempermasalahkan para demonstran, yang mana terjadi penangkapan ribuan orang.
Tsikhanouskaya melarikan diri dari Belarusia usai penangkapan besar-besaran terhadap para demonstran dan takut akan keselamatan keluarganya, sekarang ia mendapatkan suaka dan tinggal di Lithuania.
Adapun permintaan pemerintah Belarusia agar Lithuania mengekstradisi Tsikhanouskaya telah ditolak oleh Lithuania, yang mana Menteri Luar Negerinya menyampaikan pada Belarus untuk “menunggu neraka sampai dingin” terlebih dahulu.
Krisis politik Belarusia sekarang membuat Lukashenka mendekat dengan Rusia yang masih berupaya mengembalikan negara itu ke dalam wilayah kedaulatannya. Sementara Svetlana berkampanye membuka permasalahan politik negaranya.
(Radio Free Europe/Radio Liberty, Reza Maulana Hikam)
