Sejarah, pada akhirnya, seringkali memberi tempat bagi pihak yang mampu bertahan paling lama. Bukan yang paling kuat di awal, melainkan yang tidak habis di akhir.
Oleh: Massayik IR
KEMPALAN: Apa yang saya posting ini sebenarnya sudah banyak beredar beberapa waktu lalu, sebelum situasi memanas seperti sekarang. Saat itu, narasinya terdengar seperti analisis biasa.
Kini, ketika ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat, isinya terasa seperti potongan puzzle yang mulai menemukan tempatnya.
Di kalangan analis militer, Iran kerap disebut sebagai anomali. Bukan karena kekuatannya yang luar biasa, melainkan karena sulitnya membaca polanya.
Dan bahkan, sejumlah pengajar strategi perang dan mantan analis intelijen mengakui, doktrin militer Iran tidak pernah benar-benar bisa baca dan juga dipetakan secara utuh.
Alih-alih mengikuti model klasik seperti yang sudah diwariskan Napoleon Bonaparte – yang menekankan struktur komando terpusat – Iran justru mengambil jalur sebaliknya.
Mereka menyebar dan memecah kendali ke banyak titik. Tidak ada satu pusat yang benar-benar dominan. Seperti jaringan akar di bawah tanah, tak terlihat, tapi saling terhubung dan sulit dicabut.
Pendekatan itu lahir dari pengamatan panjang. Iran belajar dari runtuhnya rezim seperti Saddam Hussein, kekacauan pasca perang di Libya, hingga konflik berkepanjangan di Afghanistan.
Dari sana muncul satu kesimpulan: sistem yang terlalu terpusat mudah dilumpuhkan.
Maka, mereka mengubah struktur. Islamic Revolutionary Guard Corps tidak hanya berfungsi sebagai kekuatan militer, tetapi juga sebagai jaringan yang otonom.
Setiap unit memiliki kapasitas untuk bergerak sendiri. Jika satu bagian jadi lumpuh, bagian lain tetap berjalan tanpa harus menunggu komando.
Konsep ini sering dianalogikan sebagai hydra, makhluk mitologi dengan banyak kepala yang jika satu kepalanya dipotong, yang lainnya tetap bisa menyerang dan yang terpotong tumbuh kembali.
Mereka menyebut sistem ini dengan Mosaik Defense, yang terbagi menjadi 31 kelompok dengan masing-masing memiliki komando sendiri dan (juga) perlengkapan persenjataan mandiri di setiap propinsi.
Strategi ini membuat operasi militer Iran tampak tidak konvensional. Tidak ada ketergantungan pada satu figur atau satu pusat kendali. Tidak ada juga momen “lumpuh total” yang bisa dimanfaatkan lawan.
Yang ada justru kesinambungan – senyap, tetapi konsisten.
Di sisi lain, upaya penetrasi oleh badan intelijen seperti Central Intelligence Agency (CIA) dan Mossad memang pernah terjadi. Penyusupan jaringan, perekrutan agen, hingga operasi rahasia bukan hal baru dalam konteks ini. Namun, efektivitasnya kerap dipertanyakan.
Sebab, Iran tidak hanya membangun sistem untuk menahan serangan, tapi juga untuk mengantisipasi kebocoran.
Setiap lapisan saling mengawasi. Loyalitas tidak pernah bisa dianggap final. Dalam sistem seperti ini, apakah infiltrasi benar-benar menjadi keunggulan, atau justru jebakan yang sudah diperkirakan sejak awal?
Risiko bagi para agen pun tinggi. Mereka yang dituduh terlibat spionase sering menghadapi proses hukum yang keras, bahkan berujung pada eksekusi. Angka pastinya jarang dipublikasikan.
Dalam dunia intelijen, transparansi bukan keutamaan – kerahasiaan adalah mata uang utama.
Yang menarik, Iran tampaknya tidak mengejar kemenangan dalam arti konvensional. Mereka lebih fokus pada ketahanan.
Konflik dijadikan alat untuk menguras sumber daya lawan, memperpanjang waktu, dan meningkatkan biaya. Seperti permainan panjang, di mana yang tujuan utamanya bukan menang cepat, melainkan membuat lawan bakal kelelahan.
Pada titik ini, maka muncul pertanyaan yang sulit dihindari: bagaimana cara mengalahkan sistem yang sejak awal dirancang untuk tidak runtuh? Apakah strategi konvensional masih relevan menghadapi model seperti ini?
Bagi Amerika Serikat dan Israel, pertanyaan itu bukan sekadar wacana akademik. Ini adalah tantangan nyata di lapangan. Tidak ada satupun militer di dunia paham dengan sistem ini.
Ketika lawan tidak bermain untuk menang cepat, melainkan bertahan lebih lama, ukuran kemenangan itu sendiri menjadi kabur.
Sejarah, pada akhirnya, seringkali memberi tempat bagi pihak yang mampu bertahan paling lama. Bukan yang paling kuat di awal, melainkan yang tidak habis di akhir.
Dalam konteks ini, strategi Iran tampak sederhana – tetapi justru di situlah letak kerumitannya.
*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi