Donald Trump diteriaki agar turun dari tahta raja Amerika. Prabowo “kembaran Trump” juga akan diteriaki agar turun dari tahta raja Indonesia. BOP dan ART adalah ikatan tali kasih kedua mempelai. Sehidup semati.
Oleh: M Rizal Fadillah
KEMPALAN: Kejadian kecil tapi menjengkelkan. Dalam perjalanan mengendarai kendaraan umum ada penumpang gemuk duduk sebelah sopir. Sejak berangkat dari pool Bandung hingga tiba di pool Jakarta ia tidur, sekali-kali bangun, lalu tidur lagi. Kaya lagu mbah surip saja.
Persoalannya bukan karena tidur dan bangunnya, tetapi ngorok keras pada setiap tidurnya itu. Bangun otak-atik HP sebentar, tidur lagi, beberapa detik kemudian ngorok keras kembali. Semua penumpang tidak berdaya dalam kegelisahan.
Sopir mencoba meredam suara atau membangunkan dengan menghidupkan lagi radio tetapi rupanya ia tetap konsisten. Ternyata di telinganya ada earphone. Jadi nyaman-nyaman saja hadapi reaksi publik.
Mungkin tidur sambil mendengarkan suara lagu mendayu-dayu. Justru suara dirinya yang ambrol ngak ngik ngok. Semua penumpang bahagia setelah tiba di tujuan. Bebas dan merdeka.
Tentu kejadian itu sederhana saja. Spektum luasnya adalah jika posisi di depan harus waspada pada kegelisahan di belakang. Jangan sibuk sendiri tanpa sadar diri. Pemimpin itu tidak boleh tidur, apalagi ngorok keras. Dapat mengganggu ketentraman rakyat.
Pemerintahan Prabowo Subianto ini seperti sibuk sendiri. Program ini program itu, pergi ke sana pergi ke situ. Tapi tidak terasa manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.
Aspirasi tidak didengar, penderitaan tidak dilihat. Fasilitas pejabat sangat dahsyat, rakyat melarat. Tidak peduli kehidupan yang semakin berat dan sudah sampai ke tingkat sekarat.
Ketika Prabowo pidato Indonesia dukung Palestina ia tidur karena pembelaan yang tidak jelas. Tapi itu wajar karena sejak baheula memang kita mendukung kemerdekaan Palestina.
Hanya saja Prabowo ngorok keras saat menyatakan harus menjamin keamanan Israel. Ini mengganggu rakyat Indonesia.
Begitu juga Prabowo tidur biasa saat simpati pada genosida Gaza. Tapi, lagi-lagi ngorok keras, ribut, ngak ngik ngok sewaktu bersekutu dengan Amerika dan Israel di BOP yang berlanjut ikatan tali kasih ART.
Sulit dihentikan suara ributnya. Prabowo “istiqomah” ngorok gandeng alias sibuk sendiri.
Suara rakyat ganti Kapolri, tangkap dan adili Jokowi, makzulkan Gibran, hentikan MBG, reshuffle Menteri, stop impor mobil, usut ijazah palsu Jokowi, atau tindak kejahatan air keras TNI, tidak didengar dan tidak disikapi secara memadai.
Prabowo piknik saja di alam mimpi investasi atau puja-puji sebagai tokoh dunia boneka. Penyakit narsistik, pragmatik, dan gemoyik sangat parah.
Kalau sudah tidak bisa diingatkan, buta dan tuli, maka tidak mungkin dipercaya lagi sebagai pemimpin yang mumpuni. Kegelisahan bisa saja berubah menjadi keresahan dan mungkin pemberontakan.
Sebaiknya Prabowo itu mengundurkan diri demi kebaikan diri dan negeri. Jika tidak ya bisa saja bersama si bocil gandengannya dimundurkan oleh rakyatnya sendiri.
Donald Trump diteriaki agar turun dari tahta raja Amerika. Prabowo “kembaran Trump” juga akan diteriaki agar turun dari tahta raja Indonesia. BOP dan ART adalah ikatan tali kasih kedua mempelai. Sehidup semati.
Keduanya sedang tidur ngorok keras mengganggu penumpang di belakangnya. Agar aman dan nyaman segera turunkan saja.
*) Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi