Masalahnya, terlalu banyak orang masih percaya bahwa sistem ini netral, kalau demokrasi dan HAM versi Amerika bukan soal benar atau salah, tapi soal siapa yang boleh berkuasa dan siapa yang harus dilemahkan, bahkan dianeksasi.
Oleh: Sutoyo Abadi
KEMPALAN: Bahwa Genealogi merujuk pada studi atau penelitian tentang garis keturunan, termasuk sejarah dan hubungan antar anggota sedarah dalam suatu bangsa. Semua bisa dilacak dalam bentuk bagan silsilah atau narasi sejarahnya.
Sekian lama kita terkecoh bahwa Amerika Serikat itu adakah kampiun negara demokrasi terkemuka di muka bumi, sebagai polisi dunia berdalih demokrasi. Akhirnya tetap muncul aslinya sebagai negara elit kapitalis, untuk menguasai minyak dunia, siap memangsa negara lain.
Henry Kissinger mengatakan bahwa mengendalikan minyak sebagai sarana mengendalikan bangsa-bangsa. Eisenhower bilang bahwa perang adalah bisnis besar yang menggiurkan untuk menguasai minyak dunia.
Itu semua terjadi karena Amerika Serikat bukan lahir dari pemberontakan petani, atau kaum buruh, ia lahir dari koloni inggris yang dipimpin oleh elit kulit putih keturunan Inggris, kaya, berpendidikan, dan pemilik tanah.
Mayoritas ‘Founding Fathers‘ adalah White Anglo – Section Protestance (WASP) kelas penguasa kolonial yang sudah mapan jauh sebelum Amerika berdiri.
“Sejak hari pertama merdeka, ini bukan revolusi rakyat dan demokrasi, tetapi rotasi kekuasaan elit kapitalis”.
Demokrasi dirancang hanya sebagai pengaman kekuasaan elit. Konstitusi Amerika tak pernah berniat memberi kuasa penuh pada rakyat. Itulah sebabnya mengapa ada elektoral college, senat yang tak proporsional dan lobi politik yang dilegalkan.
James Madison secara terbuka menulis: Bahwa demokrasi langsung beresiko mengancam kepemilikan kaum berada (elit). Demokrasi Amerika itu saringan (filter), bukan corong suara rakyat.
Washington, Adams, Roosevelt, Bush adalah nama berbeda, tapi kelas sosialnya sama. Latar belakangnya konsisten, yaitu dari keluarga elit lama. Ivy League, militer dan korporasi.
Studi akademik bahkan menyebut AS jauh lebih mendekati oligarki elektoral dari pada demokrasi murni. Rakyat memang memilih, tapi kaum elit yang menentukan pilihan mana yang tersedia.
Terkait dengan Israel, “This is haw Israel Occupied Palestine Since 1948. Israel lahir dari mandat Inggris dan Balfour Declaration 1917, bukan dari referandum rakyat Palestina. Tanah direbut, penduduk dipindahkan, lalu dibungkus narasi moral dan keamanan.
Pola Israel mirip Amerika, negara dibangun di atas penggusuran penduduk asli, lalu disebut demokrasi:
Pertanyaannya: Siapa yang diuntungkan, Siapa yang benar-benar pegang kendali. Bukan satu keluarga, bukan satu negara tapi jaringan elit Anglo-American – Zionis, politik, keuangan, militer, media dan hukum internasional bergerak seirama dan jalur yang sama.
Demokrasi dan HAM bukan tujuan, tapi alat legitimasi. Negara yang patuh akan dipelihara, negara yang menentang akan ditekan bahkan negara yang melawan akan dihancurkan. Semuanya dilakukan atas nama demokrasi dan HAM.
Masalahnya, terlalu banyak orang masih percaya bahwa sistem ini netral, kalau demokrasi dan HAM versi Amerika bukan soal benar atau salah, tapi soal siapa yang boleh berkuasa dan siapa yang harus dilemahkan, bahkan dianeksasi.
Jika anda masih menganggap demokrasi dan HAM Amerika itu suci, ingat satu hal, demokrasi dan HAM itu lahir dari elit Amerika, jadi bahwa Amerika kampium demokrasi dan HAM itu negara sinting dan gombal.
*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi